#EDITORIAL — Kondisi generasi hari ini sedang di ujung tanduk. Mereka hidup dalam habitat yang tidak support bagi perkembangan fisik dan mental, terutama dalam posisinya sebagai generasi harapan penerus peradaban.
Hantaman krisis ekonomi global yang terus berulang, nyatanya telah membuat kehidupan mereka jauh lebih sulit dari sebelumnya. Tidak heran jika muncul istilah “generasi sandwich” untuk menggambarkan beratnya situasi yang dihadapi generasi saat ini yang hidup di bawah asuhan sistem sekuler kapitalisme neoliberal.
Terlebih jika dikaitkan dengan identitas keberagamaan. Sistem yang ada nyaris mereduksi spiritualitas generasi, terutama generasi muslim. Banyak di antara mereka yang akhirnya tampil tanpa identitas yang khas. Mereka mengalami split personality, bahkan tidak sedikit yang mengalami krisis identitas.
Fenomena agnostik, bahkan ateis yang nampak seperti sebuah tren di kalangan muda muslim, mengindikasikan hal tersebut. Begitu pun isu mental health kian lekat dengan generasi hari ini, menyusul kian maraknya kasus yang menandai situasi psikis mereka yang jauh dari kata bahagia, bahkan dibayang-bayang gambaran masa depan suram. Maraknya kasus-kasus bullying, tawuran, inner child, kekerasan dan kejahatan berbasis online, hingga bunuh diri, hanyalah sedikit kasus yang kian lekat dengan generasi hari ini.
Generasi di Tengah Fenomena Generation Gap
Yang menarik, berbagai problem yang dihadapi generasi muda hari ini muncul seiring dengan masifnya pengarusan narasi soal kesenjangan generasi atau generation gap. Melalui narasi ini digambarkan bahwa ada jurang yang dalam antara generasi muda dengan generasi tua akibat perbedaan pengalaman, nilai-nilai, serta cara pandang yang disebut-sebut dipengaruhi oleh lanskap sosial, budaya, dan teknologi yang berjalan sangat cepat. Tidak jarang gap tersebut memunculkan kesalahpahaman, bahkan konflik antar generasi.
Dalam konteks hari ini, generasi muda dimaksud merujuk pada mereka yang disebut kalangan milenial, generasi Z dan gen alpha. Ketiga generasi ini seringkali diidentifikasi sebagai digital native karena lahir dan tumbuh di era digital. Mereka begitu akrab dan terbiasa dengan teknologi digital, internet, dan perangkat seperti smartphone sejak usia dini. Itulah kenapa, pola komunikasi mereka cenderung nyaman dengan pesan teks, media sosial (medsos), dsb..
Di luar itu, pada era ini masif pula upaya sekularisasi dan liberalisasi yang diaruskan negara-negara pengusung kapitalisme global. Kedua paham tersebut telah berhasil melahirkan generasi yang kental dengan budaya permisif, inklusif, egaliter, konsumtif, hedon, dan materialistik. Terlebih ketika dunia memasuki era digitalisasi, paparan budaya tersebut makin cepat dan makin kuat memengaruhi pandangan hidup dan perilaku generasi muda. Akibatnya, nilai-nilai baik yang diwariskan generasi senior mereka dari masa ke masa lambat laun menjadi luntur.
Adapun yang diidentifikasi sebagai generasi tua di sini adalah generasi yang dikatagorikan sebagai baby boomer. Mereka biasanya distigma sebagai entitas yang kaku, menekankan hierarki, mempertahankan status quo, moral minded, dsb.. Mereka juga sering diidentifikasi sebagai digital immigrant karena lahir sebelum teknologi digital berkembang pesat. Itulah kenapa mereka dinilai cenderung gaptek dan merasa lebih nyaman dengan cara-cara konvensional seperti komunikasi langsung, dan sejenisnya.
Semua perbedaan ini kemudian dituding kerap menciptakan jurang pemisah antar generasi. Misalnya, muncul anggapan bahwa generasi muda sering tidak menghormati generasi tua, menganggap mereka sebagai orang yang kolot, tidak tahu perkembangan zaman, terlalu mengekang, dll.. Sebaliknya generasi tua sering dituding meremehkan generasi muda, menganggap mereka sebagai orang yang egois, tidak punya rasa hormat, tidak bijaksana, tidak sopan, rebel (memberontak), dll..
Dalam konteks dakwah, muncul pula narasi bahwa generasi muda sulit menerima pesan-pesan kebaikan, sulit diarahkan dan cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan. Jika pun sebagian mereka ada yang tertarik pada aspek-aspek religiositas, kebanyakan karena didorong oleh “rasa penat”, bahkan pelarian dari kehidupan modern yang serba sulit dan penuh dengan tuntutan dan persaingan. Agama bagi mereka dipahami hanya sebagai praktik ritual yang menjadi obat, sementara di tengah kungkungan sistem sekuler liberal kapitalisme yang menciptakan kehidupan destruktif dan mengikis nilai-nilai ruhiyah, insaniah, dan moral, serta hanya menyisakan nilai material.
Generation Gap, Narasi Ciptaan Barat
Sebagai sebuah konsep, istilah “generation gap” awalnya dipopulerkan oleh editor majalah Look, John Poppy pada 1960-an yang melihat adanya kesenjangan substansial dalam politik, selera, music, dan pada hampir semua hal lainnya antara generasi muda dan orang tua mereka. Lalu penulis William Strauss dan Neil Howe (1991) mengembangkan teori siklus generasi yang berulang dalam sejarah Amerika ini seraya memberikan kerangka teoritis yang dipandang lebih terstruktur.
Dari sinilah kita mulai mengenal pembagian generasi menjadi Generasi Senior, Generasi Diam (silent generation), Generasi Baby Boomer, Generasi X, Milenial, Generasi Z, dan Generasi Alpha berikut pembagian tahun. Lalu masing-masing generasi diberi stigma atau karakter yang kemudian menjadi dasar untuk menunjuk adanya kesenjangan di antara mereka. Kesenjangan ini disebut-sebut sebagai akibat perubahan budaya yang makin cepat, mobilitas yang makin terbuka, harapan hidup yang makin meningkat, serta perkembangan teknologi dan media yang maju pesat.
Beberapa kritikus beranggapan bahwa teori ini hanyalah mitos yang bias kelas atau struktural, yang menyederhanakan masalah ekonomi-politik menjadi stereotip generasi. Namun, sebagian lagi menilai bahwa narasi ini adalah sesuatu yang nyata adanya dan telah menyebabkan banyak persoalan terjadi di tengah masyarakat, seperti konflik nilai dan pemahaman di antara dua generasi, perbedaan cara pandang terhadap masalah pendidikan, pernikahan, atau peran keluarga, gagap komunikasi di kalangan mereka, dll..
Masalahnya adalah narasi soal pembagian generasi beserta stereotip yang dilekatkan pada masing-masingnya, serta narasi tentang kesenjangan generasi sebagai implikasinya, kini sudah menjadi pemikiran utama di tengah masyarakat dunia, termasuk kita. Media Barat benar-benar berhasil menancapkan pemikiran tersebut sehingga sebagian masyarakat kita benar-benar percaya bahwa antara dua generasi tersebut ada nilai-nilai, sikap, dan budaya yang berbeda, yang sulit disatukan.
Padahal, ternyata di balik upaya mensegmentasi masyarakat tersebut ada kepentingan bisnis para kapitalis, yakni berupa menciptakan ceruk atau segmen pasar yang sangat spesifik dan terfokus bagi berbagai produk yang mereka hasilkan yang memungkinkan bagi mereka melayani seluruh kebutuhan pasar. Produk tersebut bukan hanya berupa barang, tetapi juga berupa informasi.
Maka kita lihat, setelah 1960-an tersebut, televisi yang tadinya seperti radio, di mana keluarga-keluarga biasa menonton program bersama, mulai berubah menjadi tersegmentasi sesuai program yang ditawarkan perusahaan media. Sampai-sampai satu keluarga tidak cukup memiliki satu televisi. Segmentasi dan kesenjangan ini makin tajam ketika teknologi komputer dan internet mulai dikenal pada 1990-an. Lalu bertambah tajam ketika pada awal abad ke-21 berkembang teknologi smart phone berikut media sosial yang membuat layar kita berangsur berubah dari publik ke privat.
Generasi di Tengah Jebakan Algoritma
Situasi itu kemudian membuat kehidupan menjadi lebih spesifik untuk berbagai generasi. Bukan hanya sekadar antar-generasi, bahkan dalam satu segmen generasi, yang mana para kapitalis raksasa, khususnya perusahaan-perusahaan media maupun nonmedia berkepentingan mempertajam kesenjangan itu dengan memproduksi berbagai informasi/barang ekonomi sesuai dengan segmen yang ada.
Tentu yang pertama, semuanya adalah demi cuan. Namun pada saat yang sama, para kapitalis tersebut berkepentingan melayani negara ideologisnya untuk melanggengkan penjajahan politik dan ekonomi atas dunia dengan turut menggencarkan serangan pemikiran dan budaya melalui teknologi milik mereka, sekaligus menguasai pasar global dengan narasi liberalisasi ekonomi.
Dalam konteks media sosial, munculnya berbagai bentuk perangkat portabel yang bisa dimiliki secara personal, beserta berbagai platform media sosial yang tersedia, generasi muda—termasuk generasi muslim—makin tenggelam dalam pengalaman yang juga lebih personal, serta masuk dalam berbagai komunitas virtual dengan berbagai pemikiran yang ditawarkan.
Mereka dalam hal ini bisa berselancar di dunia maya dengan bebas dan membangun banyak pribadi, baik asli maupun palsu untuk berbagai tujuan. Bahkan sejalan dengan perkembangan teknologi digital yang berjalan pesat, media sosial bisa menjerat generasi muda lebih dalam, terutama ketika rezim algoritma diciptakan.
Rezim algoritma media sosial sendiri adalah sistem kompleks aturan dan prosedur komputasi yang digunakan oleh platform media sosial untuk menyusun, memprioritaskan, dan menyajikan konten kepada pengguna secara personal. Sistem ini terbukti sangat efektif untuk mengontrol arus informasi yang dilihat oleh miliaran pengguna medsos di seluruh dunia, terkhusus generasi muda yang tercatat paling banyak dan paling intens berinteraksi di dunia maya.
Adapun cara kerjanya adalah dengan menganalisis sejumlah besar data perilaku pengguna untuk membuat model prediktif tentang konten apa yang paling mungkin menarik perhatian mereka. Adapun faktor-faktor yang dipertimbangkan meliputi interaksi yang pernah dilakukan pengguna di medsos, relevansi dan ketepatan waktu, koneksi dan jaringan, serta tipe konten yang terbaca diminati.
Dengan cara inilah, masing-masing platform berupaya menciptakan retensi, yakni mempertahankan pengguna atau audiens agar tetap terlibat, kembali, dan terus berinteraksi dengan akun atau konten yang ditawarkan dalam jangka waktu tertentu. Pada saat yang sama mereka juga menciptakan ruang gema yang membatasi paparan pengguna terhadap perspektif yang beragam dan menurut mereka berpotensi menyebabkan polarisasi.
Rezim Algoritma sebagai Alat Hegemoni
Dalam konteks kepentingan mengukuhkan ideologi kapitalisme, dunia maya pun menjadi medan pertarungan yang berupaya dimenangkan, baik dalam konteks pertarungan ekonomi maupun politik. Dalam konteks ekonomi, algoritma media sosial dan platform digital dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna (engagement) demi keuntungan iklan, serta mengkomodifikasi perhatian audiens sebagai sumber profit utama bagi perusahaan kapitalis.
Sementara dalam konteks politik, rezim algoritma menjadi alat utama dan efektif untuk mengendalikan informasi agar sejalan dengan target mempertahankan hegemoni. Mereka dalam hal ini berupaya memproduksi dan memperluas paparan ide-ide dan budaya sekuler liberal, termasuk ide-ide yang memoderasi Islam.
Pada saat yang sama, mereka membatasi, bahkan menutup semua celah berkembangnya pemikiran dan budaya yang berlawanan atau berbahaya bagi keberlangsungan hegemoninya, termasuk apa yang mereka identifikasi sebagai Islam politik, Islam ideologis, dan Islam fundamentalis atau Islam radikal. Salah satunya adalah dengan membuat aturan tentang standar komunitas, pemblokiran, dll..
Ringkasnya, rezim algoritma sejatinya difungsikan sebagai infrastruktur teknis yang memungkinkan hegemoni kapitalisme beroperasi secara lebih efisien dan meluas di era digital. Mereka ciptakan berbagai standar-standar yang mengubah cara kita hidup, berinteraksi, bahkan berpikir, seperti standar kebahagiaan, standar kesuksesan, dll.. Semuanya tentu ditujukan demi target akumulasi modal sekaligus mengukuhkan penjajahan dengan cara melemahkan generasi Islam melalui serangan budaya dan pemikiran.
Generasi Harus Diselamatkan
Mirisnya, semua serangan ini berjalan memapar, bahkan merusak generasi muda kita tanpa penjagaan negara dengan para penguasanya yang muslim. Alih-alih menjaga, negeri-negeri muslim yang seluruhnya berparadigma sekuler kapitalisme, termasuk negeri kita, bahkan berkontribusi besar dalam menciptakan habitat yang tidak support bagi fisik dan mental generasi muda.
Betapa tidak, dalam konteks Indonesia, penerapan sistem ekonomi kapitalisme oleh negara telah nyata-nyata menciptakan kemiskinan struktural yang membatasi hak generasi untuk mendapat jaminan kebutuhan mendasar secara optimal. Harga-harga pangan, sandang, dan papan begitu mahal karena produksi dan rantai pasok dikuasai para kapitalis. Begitupun pendidikan, selain dikapitalisasi sebagaimana kesehatan dan keamanan, arah dan tujuannya pun sangat sarat dengan nilai-nilai sekuler.
Begitupun dengan penerapan sistem sosial, hukum dan persanksian, serta sistem informasi dan kemediamasaan. Semuanya berbasis pada paradigma sekuler liberal hingga menciptakan masyarakat yang destruktif dan menihilkan munculnya profil generasi ideal sebagaimana yang dikehendaki Islam.
Profil generasi hari ini justru sangat lemah dan potensinya mudah dibajak oleh kepentingan kapitalisme global yang menarget mereka sekadar menjadi buruh sekaligus pasar bagi produk-produk industri mereka. Alhasil, alih-alih menjadi trend setter, generasi umat Islam hari ini justru cenderung menjadi generasi budak atau minimal pengekor yang mudah disetir keinginan Barat.
Situasi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Umat Islam harus menyadari urgensi dan kewajiban menyelamatkan generasi muda kita dalam rangka memenangi perang peradaban melawan hegemoni kapitalisme global. Bagaimana pun generasi muda adalah pelopor perubahan dan pengemban risalah Islam sebagaimana generasi tua yang semestinya siap mewariskan spirit perjuangan untuk mengubah sistem sekuler dan mengembalikan peradaban Islam cemerlang.
Umat Islam, dalam hal ini punya kepentingan untuk menolak semua narasi sesat yang diproduksi media Barat, termasuk mitos soal generation gap seraya membuktikan bahwa kesenjangan itu, jika pun ada, tidak berlaku untuk risalah Islam. Risalah Islam, sejatinya diturunkan untuk semua generasi dan berlaku bagi semua tempat dan bagi setiap masa.
Umat Islam pun harus waspada terhadap berbagai jebakan teknologi digital yang terus berkembang seolah tanpa batasan. Yakni dengan cara memperkuat ketahanan ideologis dengan meningkatkan ketakwaan dan mengikhtiarkan kembalinya institusi negara yang siap menjadi perisai sekaligus mengurus umat dengan penuh amanah dan dilandasi kesadaran ruhiyah. Juga bahwa mereka semua diciptakan untuk peran sebagai hamba (beribadah) sekaligus menjadi khalifah penyebar rahmat bagi sekalian alam.
Sungguh, setiap generasi punya tanggung jawab yang sama untuk memperjuangkan kemuliaan Islam dengan serius menegakkan institusi penerapnya, yakni Khilafah Islam. Caranya dengan terlibat dan bergandengan tangan dalam aktivitas dakwah membangun kesadaran di tengah umat bersama jemaah ideologis yang mengikuti manhaj dakwah Rasulullah saw..
Tentu kesadaran dimaksud adalah kesadaran untuk terikat secara kafah dengan Islam sebagai konsekuensi iman. Karena hanya dengan itulah, umat Islam bisa kembali tampil sebagai umat terbaik, yakni generasi pemimpin peradaban cemerlang sebagaimana Allah berfirman, “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS Ali Imran: 110). [MNews/SNA]

Komentar
Posting Komentar