Dimensi Spiritual, Moral, dan Kepemimpinan Global dalam Peristiwa Isra Mikraj

 



#Reportase — Perjalanan Isra Mikraj merupakan hal yang penting karena tidak hanya menceritakan perjalanan Rasulullah saw., tapi ada pesan moral, spiritual, disiplin ibadah, dan kepemimpinan global. 


“Isra Mikraj perjalanan penting dalam Islam bukan hanya menceritakan perjalanan Nabi Muhammad saw., melainkan juga menyampaikan pesan moral, spiritual, disiplin ibadah, dan kepemimpinan global,” ungkap Mubaligah Kota Depok Ustazah Ari Herlina S.Pd., di hadapan 56 jemaah Majelis Qur’an Ummahat dalam kajian bulanan, "Isra Mikraj Momentum Meneladani Kepemimpinan Rasulullah saw.", Ahad (18/01/2026) di Depok.


Ia pun menjelaskan, dimensi politik Isra Mikraj tampak jelas ketika Rasulullah saw. memimpin salat para nabi di Masjidil Aqsha. “Peristiwa ini bukan simbol kosong, melainkan isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya,” terangnya.


“Prof. Dr. Rawwas Qol’ah Ji dalam kitab Qira’ah Siyasiyyah li as-Sirah an-Nabawiyah, halaman 75–83 menegaskan peristiwa ini adalah indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia. Ia menulis bahwa imamah Rasulullah saw. atas para nabi merupakan isyarat kepemimpinan Islam atas seluruh agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai Rasul terakhir,” bebernya.


Isyarat ini, lanjutnya, terwujud secara konkret setelah Rasulullah hijrah ke Madinah saat beliau menegakkan negara Islam. “Negara Islam memimpin masyarakat mejemuk yang terdiri dari kaum muslim dan nonmuslim. Demikian sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah. Piagam ini mengatur hubungan sosial dan politik secara adil di bawah kepemimpinan Islam,” ujarnya.


Tak hanya itu, menurutnya, Rasulullah telah mengingatkan fungsi vital kepemimpinan Islam, “Imam (khalifah) itu adalah perisai (pelindung) orang-orang yang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Tanpa perisai ini, umat Islam terpecah menjadi puluhan negara lemah yang mudah dikendalikan, diintervensi, bahkan dijajah. Itulah yang terjadi sejak Khilafah Islam diruntuhkan hingga saat ini, tegasnya.


Oleh karena itu, terangnya, kekosongan kepemimpinan Islam global diisi oleh kepemimpinan kapitalisme global yang terbukti melahirkan kezaliman sistematik karena sistem kapitalisme jelas tidak dibangun di atas wahyu. Kapitalisme berdiri di atas asas sekularisme yang menekankan kepentingan materi, modal, dan kekuasaan sebagai standar utama pengambilan kebijakan. 


Selain kewajiban salat lima waktu, Isra Mikraj mengandung pesan ilahiyah kepada umat Islam agar senantiasa menegakkan kepemimpina Islam global (Khilafah). “Khilafahlah yang menerapkan Islam secara kafah dan akan mewujudkan keadilan sejati sekaligus memimpin manusia menuju kesejahteraan dan keridaan Allah Swt. 


Ia pun membacakan Firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah An-Nur Ayat 55 yang artinya, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” [Nusroh]



Komentar