Inspirasi Teknologi Air al-Jazari untuk Mengakhiri Banjir Jakarta



Alin F.M.


#Jaktim — Pada Selasa, 20 Januari 2026, banjir setinggi 40 sentimeter melumpuhkan arus lalu lintas di Jalan DI Panjaitan dan sejumlah titik strategis di Jakarta Timur. Akumulasi kendaraan yang terjebak sejak pukul 06.00 WIB mengakibatkan kemacetan panjang berkilo-kilo meter dari arah Cawang menuju Jatinegara.

Kondisi kemacetan panjang terjadi di Jalan Otista, yang menurut laporan megapolitan.kompas.com menyebutkan pengendara terjebak berjam-jam tanpa kepastian. Stagnasi kendaraan di titik-titik rawan ini tidak terhindarkan dan seketika menghentikan ritme mobilitas warga secara total sejak pagi hari.

Kekacauan ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan manifestasi nyata dari kerapuhan infrastruktur kota di tengah cuaca ekstrem. Terulangnya pemandangan saluran air yang tersumbat menunjukkan kelemahan pada manajemen pemeliharaan preventif infrastruktur drainase perkotaan.

Dampaknya pun meluas secara sistemik. Hambatan di koridor utama memaksa volume kendaraan merambat ke jalur alternatif seperti Jalan Raya Bogor dan Pasar Minggu. Hal ini menegaskan tingginya ketergantungan mobilitas publik pada jalur arteri tunggal serta minimnya redundansi jalur yang tangguh.

Krisis ini pun tidak lepas dari karut-marut sistem pembangunan kota yang bercorak kapitalistik. Orientasi pembangunan yang lebih mengedepankan akumulasi keuntungan ekonomi dan eksploitasi lahan secara komersial seringkali mengabaikan aspek keseimbangan ekologis.

Ruang resapan air kian menyempit demi kepentingan beton-beton komersial, sehingga mengubah Jakarta menjadi hutan beton yang gagal mengelola limpahan air hujan secara alami. Krisis ini pada akhirnya memicu kerugian produktivitas warga secara masif.

Ke depan, Jakarta memerlukan transisi dari penanganan reaktif menuju Smart Water Management yang terintegrasi langsung dengan sistem kendali lalu lintas pintar. Secara historis, tata kelola air yang visioner sebenarnya telah dicontohkan pada masa kejayaan Islam.

Peradaban Islam di Baghdad dan Andalusia (Cordoba) berhasil menciptakan sistem drainase bawah tanah dan kanal terintegrasi untuk mencegah luapan air di pusat kota. Inspirasi ini tak lepas dari peran ilmuwan besar seperti al-Jazari, perintis teknologi mekanik dunia.

Pada abad ke-12, al-Jazari mengembangkan mesin-mesin pengangkat air otomatis dan sistem pompa canggih. Penemuan al-Jazari membuktikan bahwa pengendalian air membutuhkan presisi teknis dan pemeliharaan alat yang konsisten agar manfaatnya dapat dirasakan secara publik tanpa menimbulkan bencana.

Upaya menjaga kelancaran saluran air dan kenyamanan jalan publik pun selaras dengan syariat Islam. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. mengingatkan manusia untuk tidak merusak ekosistem melalui Firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar." (Surah Ar-Rum Ayat 41)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa sumbatan sampah yang memicu banjir seringkali berakar dari kelalaian manusia sendiri. Selain itu, Rasulullah saw. menegaskan bahwa menjaga fasilitas publik adalah bagian dari iman melalui sabdanya, "Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang... dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan." (Hadis Riwayat Muslim)

Sinergi teknologi masa kini penting untuk memberikan peringatan dini dan pengalihan arus otomatis sebelum pengendara terjebak dalam krisis serupa. Namun, efektivitas infrastruktur tetap bergantung pada kesadaran pemerintah untuk serius menangani banjir Jakarta yang mengakibatkan lumpuhnya nadi ekonomi masyarakat Jakarta.

Sebagai kesimpulan, sengkarut banjir dan macet yang tak kunjung usai ini membuktikan kegagalan sistem kapitalisme hari ini dalam mengelola urusan publik. Sejarah mencatat bahwa hanya sistem Khilafah yang memiliki paradigma kepemimpinan yang tulus dan bertakwa. Sebuah kepemimpinan yang menempatkan pengurusan rakyat (ri’ayah) sebagai prioritas tertinggi di atas segala kepentingan lainnya.

Hanya dalam naungan sistem Islam, lahir pemimpin-pemimpin amanah yang memiliki kemauan politik untuk serius mengintegrasikan sains dan ketegasan kebijakan. Sinergi antara ketakwaan dan kecakapan teknis inilah yang mampu menuntaskan masalah mendasar tata kota secara tuntas, sehingga rakyat dapat benar-benar terbebas dari mata rantai kesengsaraan yang berkepanjangan. Wallahualam bissawab.


Komentar