Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Ilmu merupakan hal terpenting yang wajib dimiliki oleh setiap muslim karena dengan ilmu inilah seorang muslim mampu melaksanakan tugas penciptaannya di dunia untuk beribadah kepada Allah Swt. Ilmu akan kita peroleh melalui jasa seorang guru. Tanpa kehadiran seorang guru yang mendedikasikan dirinya untuk mendidik mengajarkan ilmunya kepada anak didiknya dengan sepenuh hati, maka ilmu tidak akan kita miliki.
Begitu besar urgensi kehadiran guru, sehingga Islam memberikan kedudukan dan predikat mulia kepada seorang guru. Peran seorang guru bahkan disetarakan sebagai pewaris ilmu dan akhlak Rasulullah saw. Mereka bukan sekadar pengajar dan pendidik, melainkan pembimbing generasi dan menjadi pilar peradaban yang didoakan oleh penduduk langit dan bumi. Guru harus dihormati karena peran pentingnya membawa manusia menuju ketakwaan dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Penghormatan kepada guru menjadi bagian dari bentuk penghormatan terhadap ilmu sendiri.
Allah Swt. berfirman, ”Musa berkata kepada (Khidir), ”Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk." (Surah Al-Kahfi Ayat 66)
Ayat di atas menggambarkan adab dalam menuntut ilmu, kerendahan hati dan bersikap sopan kepada guru. Islam pun mengajarkan bagaimana adab seorang murid kepada gurunya, agar ilmu yang perolehnya menjadi keberkahan dan bermanfaat. Hal senada disampaikan Rasulullah saw. dalam sabdanya, ”Barang siapa memuliakan orang alim (guru) maka ia memuliakan aku. Dan barang siapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah. Dan barang siapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga (Kitab Lubabul Hadits)
Dalam Islam, adab menjadi hal yang lebih diutamakan dimiliki seorang muslim sebelum ia mempelajari ilmu. Baik adab murid kepada guru maupun adab guru kepada murid. Seorang guru pun harus kepribadian Islam yang memancarkan cahaya keimanan dan ketakwaan, tatkala mengajarkan ilmu kepada muridnya. Sedangkan seorang murid wajib memiliki sikap takzim kepada gurunya, agar memudahkannya untuk mempelajari ilmu dan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut.
Namun sayangnya, kini guru tidak mendapatkan posisi yang mulia. Potret guru dengan berbagai persoalan yang datang silih berganti dalam kehidupannya. Padahal perannya sangat dibutuhkan oleh generasi di negeri ini. Alih-alih mendapatkan gaji yang layak dan penghidupan yang sejahtera, seorang guru kerap kali mendapatkan perlakuan yang menyayat hati. Didiskriminasi, dipenjara, bahkan dicopot dan dikeluarkan dari sekolah, menjadi gambaran tragis kisah sang pahlawan tanpa tanda jasa.
Di sisi lain, para murid tak sedikit pun menaruh rasa hormat, takzim dan tak memiliki adab terhadap guru. Mereka berani melawan guru yang mengingatkan tatkala melanggar aturan sekolah. Bahkan berani memukul dan menghardik guru tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Hilangnya rasa hormat dan adab antara guru dan murid dan sebaliknya, bukanlah tanpa sebab. Sistem kehidupan yang menihilkan peran agama dalam kehidupan (sekularisme), yang telah mencetak murid-murid yang tak beradab kepada guru dan tidak memperdulikan betapa pentingnya ilmu yang diajarkan oleh seorang guru. Sistem batil buatan akal manusia yang lemah ini, telah berhasil menceak para murid yang hanya pintar di atas kerja, tapi miskin secara moral dan tidak beradab.
Para guru pun hidup dalam berbagai tekanan dan tuntutan profesi yang menambah makin berat beban kehidupannya. Tekanan inilah yang terkadang seorang guru bersikap keras dan terkesan kasar untuk mengingatkan kepada siswa terkait perilaku mereka. Sehingga terciptalah ketidakharmonisan relasi antara guru dan murid yang menimbulkan beragam persoalan.
Hal ini diperparah dengan abainya negara atas keberadaan seorang guru. Padahal, gurulah yang diberi tanggung jawab penuh untuk mendidik dan mengajarkan generasi. Tetapi negara tidak memperhatikan kesejahteraan guru, gaji yang minim yang tak sebanding dengan beban tugas yang diberikan kepadanya. Sementara itu, arus media sosial masuk dengan bebas tanpa filter merusak pemikiran dan tingkah laku generasi. Tanpa sedikit ada penjagaan dan perlindungan dari negara dengan mengambil kebijakan menutup situs atau konten unfaedah bagi masyarakat.
Kondisi seperti ini tentu tak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab, kehancuran sebuah bangsa menjadi malapetaka yang akan datang, tatkala ketiadaan ilmu. Kebodohan menjadi cahaya kegelapan yang mewarnai kehidupan tatkala ilmu dan guru tidak hadir dalam kehidupan rakyat. Dan yang pasti penjajahan akan terus mencengkeram kehidupan bangsa ini.
Oleh karena itu, menjadi kewajiban bersama untuk mengembalikan peran guru dan menempatkan pada posisi yang mulia. Dengan melahirkan sosok guru yang menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai landasan untuk mendidik dan mengajar generasi, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Perilakunya menjadi teladan bagi semua murid, sehingga ia senantiasa menjaganya, semata-mata karena dorongan keimanan bukan ingin mendapatkan pujian dari manusia.
Para murid pun berlomba-lomba menuntut ilmu karena memahami bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban yang wajib ditunaikan bagi setiap muslim. Dan menjadikan guru sebagai pihak yang paling berjasa dalam mengajarkan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu kehidupan lainnya. Dengan memberikan posisi yang mulia kepada para guru, bersikap takzim, hormat dan mengedepankan adab dalam berinteraksi kepada guru, agar keberkahan dan kebermanfaatan ilmu dapat diperoleh.
Oleh karena itu, mengemban dakwah untuk terus mengopinikan Islam dan mengajak seluruh umat muslim untuk terus mengkaji Islam, agar memahami bagaimana memosisikan seorang guru dan memiliki adab sebagai bagian dari kepribadian seorang muslim. Dan hanya menjadikan solusi Islam sebagai satu-satunya problem solving dalam menghadapi persoalan kehidupan. Sebab, umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan dengan aturan dan sistem terbaik dalam naungan Khilafah Islamiah, yang terus kita perjuangkan hingga tegak kembali di muka bumi. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar