Statistik Pemuda Indonesia 2025, Antara Harapan dan Idealitas




#EDITORIAL — Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Statistik Pemuda Indonesia 2025. Data tersebut menggambarkan bahwa jumlah pemuda di Indonesia tahun ini mencapai 66,83 juta jiwa atau sekira 23,5% dari total penduduk Indonesia.


Adapun jumlah penduduk Indonesia tahun ini memang belum ada data pasti. Namun, berdasarkan catatan Departemen Sosial dan Ekonomi, Divisi Kependudukan PBB yang dielaborasi Wordlometer, terungkap bahwa jumlah penduduk Indonesia per 29 Desember 2025 mencapai 286.815.656 orang.


Populasi Indonesia ini setara dengan 3,47% total populasi dunia yang saat ini berjumlah 8,266 miliar orang. Sekaligus menempatkan Indonesia pada peringkat empat dalam daftar negara berdasarkan populasinya.


Potensi Umat

Dilihat dari trennya, dari tahun ke tahun proporsi pemuda terhadap total penduduk Indonesia memang terus mengalami penurunan. Hal ini diduga terkait menurunnya tren kelahiran yang mengubah struktur penduduk Indonesia.


Pada 2020, misalnya, proporsi pemuda terhadap total penduduk Indonesia tercatat sebesar 24,92%. Persentase ini kemudian turun menjadi 24,62% pada 2021 dan terus merosot menjadi 24,33% pada 2022. Lalu memasuki 2023, persentase pemuda Indonesia turun lagi menjadi 24,04% dari total penduduk, dan pada 2024 turun lagi menjadi 23,77%.


Hanya saja, meski proporsi pemuda terhadap total penduduk ini trennya terus menurun, secara jumlah, 66,83 juta ini adalah angka yang sangat besar. Apalagi jika definisi pemuda merujuk kepada aturan Islam yang range usianya sangat lebar, tentu angkanya akan jauh lebih besar.


Sebagaimana diketahui, penetapan kriteria pemuda yang digunakan dalam survei tersebut merujuk UU 40/2009 tentang Kepemudaan yang menyebut bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 16–30 tahun. Sedangkan dalam pandangan Islam, pemuda atau syabab merujuk pada usia remaja yang ditandai dengan kondisi akil balig (9–15 tahun) hingga 30–40 tahun, sebelum memasuki usia kahl (pertengahan, sekira 40-an) dan syekh atau tua (setelah 50 tahun).


Besarnya jumlah pemuda ini menunjukkan potensi keumatan yang sangat besar, mengingat pemuda dengan segala karakteristiknya termasuk entitas yang sangat istimewa dalam sebuah masyarakat, terutama bagi umat Islam. Pada rentang usia ini, pemuda—secara fisik, mental, maupun spiritualnya—benar-benar sedang dalam masa keemasan.


Usia muda sejatinya merepresentasi kematangan berpikir dan bersikap. Pemuda juga dikenal punya spirit perjuangan dan selalu tercatat sebagai pemimpin perubahan masyarakat dari masa ke masa. Tidak heran jika pemuda selalu diharapkan bisa menjadi pilar kebangkitan bagi masyarakat yang tengah berada dalam keterpurukan.


Sistem Sekuler Kapitalisme Membajak Potensi Pemuda

Sayang, dalam sistem sekuler kapitalisme, potensi pemuda dibajak oleh kepentingan modal. Pemuda dalam paradigma ideologi ini hanya diposisikan sebagai aset ekonomi yang digunakan sekadar sebagai pemutar roda mesin kapitalisme, baik dalam posisi sebagai ceruk pasar, maupun sebagai salah satu faktor produksi, khususnya menjadi sumber tenaga kerja murah bahkan hingga setara perbudakan.


Tidak heran jika hari ini perbincangan soal potensi pemuda, bonus demografi, dan sejenisnya, selalu dikait-kaitkan dengan upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menaikkan kapasitas produktif perekonomian negara, meningkatkan daya saing global, dan lainnya. Tampak tidak ada kekhawatiran terbesar ketika berbicara soal bonus demografi dan akses para pemuda terhadap pendidikan, kesehatan, dunia kerja, teknologi digital dan sejenisnya, selain hitungan materialistis soal produktivitas alias kontribusi mereka dalam menghasilkan cuan.


Bahkan, analisis terkait hasil Statistik Pemuda Indonesia 2025 rata-rata terjebak pada hal-hal yang sangat dangkal, seperti menyoal betapa banyak pemuda yang memilih tidak menikah atau jomlo, wacana agar kebijakan digital lebih menekankan produktivitas daripada berdigital ria; ataupun soal pentingnya memastikan generasi yang besar ini tumbuh sehat, terampil, dan terserap secara produktif dalam langkah gerak ekonomi, dsb.


Padahal, hanya berbangga dengan kuantitas dan tidak fokus pada peningkatan kualitas; ataupun ada upaya peningkatan kualitas, tapi hanya fokus pada aspek penguasaan skill yang teknis dengan hitung-hitungan materialistis; dipastikan akan berujung pada kehancuran. Ini karena bangsa ini akan tetap dalam kondisi terjajah dan menjadi kacung bagi gurita korporasi yang hari ini berwujud dalam bentuk kekuasaan oligarki, baik lokal maupun global, karena paradigma pembangunan generasi masih berbasis pada ideologi sekuler kapitalisme yang terbukti rusak dan memproduksi kerusakan.


Terlebih sejatinya tampak bahwa persoalan yang dihadapi bangsa ini sangatlah kompleks. Keterpurukan ekonomi hanyalah salah satu dari daftar panjang persoalan yang melilit bangsa besar bernama Indonesia ini. Kita lihat, secara politik, bangsa ini kian dikuasai segelintir elite rakus yang menjadikan kekuasaan sebagai ajang perjudian dan bancakan proyek. Penguasanya jauh dari fungsi riayah (mengurus) dan junnah (menjaga) bagi rakyatnya, sebagaimana telanjang pada kasus bencana Sumatra. Mereka hanya peduli pada kepentingan pribadi dan kelompoknya.


Secara moral, potret generasi bangsa ini pun sudah sedemikian rusak, kecuali mereka yang Allah pilih sebagai mutiara umat yang dijanjikan akan ada pada setiap masa. Penerapan sistem hidup sekuler liberal oleh penguasa pada aspek ekonomi, politik, pendidikan, sosial budaya, media massa, hukum, dsb., serta ketidakpedulian mereka atas kondisi moral bangsa, membuat kerusakan akhlak generasi pun kian parah dengan kadar kerusakan yang kian hari kian mengerikan. Betapa banyak pemuda yang terjerat pergaulan bebas, penyimpangan perilaku, miras dan narkoba, budaya kekerasan, bahkan menjadi pelaku kriminal.


Bahkan, perkembangan teknologi digital alih-alih membawa berkah, melainkan jadi alat baru penjajahan kapitalisme global yang menjerat generasi pada kehidupan serba maya, FOMO, dangkal, dan instan. Akal dan jiwa mereka dikerdilkan, bahkan dirusak oleh mesin algoritma kapitalistik berikut paparan konten negatif dunia digital yang didesain secara masif demi menancapkan role model peradaban rusak yang dibungkus dengan narasi kemajuan dan modernitas.


Walhasil, alih-alih menjadi sumber kekuatan, bonus demografi yang dibangga-banggakan ini justru akan menjadi ancaman, sebagaimana negara-negara lain terancam karena proporsi penduduk yang menua. Ini karena para penguasa negeri muslim terbesar ini tidak punya visi menjaga generasi agar benar-benar menjadi pemimpin peradaban pada masa depan dan hanya peduli pada ambisi mengeruk kekayaan demi warisan tujuh turunan.


Islam Punya Misi Penyelamatan

Berbeda dengan ideologi sekuler kapitalisme, Islam menempatkan pemuda pada posisi yang ditinggikan. Banyak ayat dan hadis yang menyebut sosok pemuda sebagai role model kebaikan dan pelopor perubahan. Semisal Nabi Ibrahim, Ismail, ashabulkahfi, dan lainnya. Begitu pun dalam sirah perjuangan Rasulullah ﷺ, tampak peran besar jemaah para pemuda dalam membangun peradaban Islam yang pertama dan berlanjut hingga tegak belasan abad. Semuanya dipenuhi para pemuda dengan karakter yang luar biasa.


Mereka bukan hanya kuat dalam ketakwaan dan kepribadian Islam, tapi mumpuni dalam menyolusi berbagai problem kehidupan. Mereka bukan hanya tekun dalam beribadah ritual, tapi berhasil menjadi khalifah memakmurkan bumi dengan peradaban cemerlang yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.


Mereka bisa demikian karena hidup dalam habitat yang sesuai dengan fitrah penciptaan, yakni sistem kepemimpinan Islam (Khilafah) yang menerapkan seluruh aturan-aturan Allah Swt., mulai dari sistem politik yang tangguh dan bebas intervensi asing, sistem ekonomi yang menyejahterakan, sistem sosial yang menjunjung tinggi moral dan menguatkan struktur keluarga dan kemasyarakatan, sistem hukum yang mengeliminasi kejahatan, sistem pendidikan yang melahirkan output generasi berkepribadian Islam sekaligus mumpuni dalam menjawab tuntutan zaman, sistem informasi dan media massa yang menutup celah keburukan, dan sebagainya.


Aturan Islam inilah yang mengondisikan lahirnya generasi hebat dengan ketahanan ideologi yang kuat. Juga melahirkan masyarakat yang kental dengan tradisi amar makruf nahi mungkar hingga tidak ada celah lebar bagi kerusakan. Juga menjadikan negara dan para penguasanya siap menjalankan fungsi sebagai pengurus dan penjaga sekaligus menjadi support system terbaik bagi para pemuda, keluarganya, dan lingkungan masyarakatnya.


Para penguasa Islam menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan dengan dorongan ruhiah. Mereka paham bahwa jabatan kepemimpinan bukan jalan untuk menumpuk kekayaan sebagaimana dalam sistem sekarang. Jabatan dan kekuasaan justru akan menjadi sumber kebahagiaan dan sumber penyesalan di keabadian.


Itulah sebabnya, kepemimpinan Islam bisa melahirkan generasi cemerlang, yakni para pemuda hebat yang menopang tegaknya peradaban Islam cemerlang. Mereka adalah generasi bertakwa yang bukan hanya menguasai tsaqafah Islam, tapi juga terdepan dalam berbagai penemuan, terutama teknologi tercanggih pada masanya.


Visi global yang ada pada ajaran tentang dakwah penyebarluasan risalah ke seluruh alam menjadikan para pemuda Islam menjadi entitas yang memegang teguh ideologi, menguasai geopolitik dan geostrategis, kosmopolitan dan berwawasan luas, percaya diri, mandiri dan independen, tangguh dan siap mengambil risiko, serta siap terdepan dalam memimpin dalam kebaikan.


Pemuda, Bangunlah Kalian!

Sejak Khilafah diruntuhkan pada 1924 oleh konspirasi Barat, umat Islam tidak lagi hidup dalam habitatnya yang asli, yakni sebagai sebaik-baik umat yang diturunkan di tengah manusia. Umat Islam tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara dan terjajah oleh kekuatan negara-negara pengusung kapitalisme global yang didukung oleh antek-antek mereka.


Situasi buruk ini tentu harus segera diubah dengan perubahan yang sistemis dan mendasar, yakni dengan menegakkan kembali kekhilafahan Islam. Sistem Khilafahlah yang akan menyatukan kembali kekuatan politik ekonomi umat yang tercerai berai dan menumbangkan hegemoni Barat dengan sekali tendang.


Untuk itu, dibutuhkan peran para pemuda untuk menggagas perubahan di bawah panji perjuangan Islam. Pemuda harus disadarkan tentang tanggung jawabnya yang besar terhadap problem keumatan sekaligus dipahamkan tentang posisi aslinya sebagai agen perubahan. Ini dimulai dengan dakwah membangun kesadaran ruhiah yang targetnya merevitalisasi akidah sehingga mereka siap hidup di bawah naungan syariat dan Khilafah.


Mereka pun akan dibina untuk menjadi kader-kader dakwah yang siap bergerak di tengah umat di bawah komando sebuah jemaah. Jemaah inilah yang akan memimpin dan mengatur para kadernya, sehingga seluruh potensi mereka, kelebihan dan kekurangan mereka, serta pergerakan mereka akan dikontribusikan dan diarahkan pada tujuan perjuangan yang mulia.


Para pemuda memang harus segera dibangunkan dari tidur panjang atau kelalaian mereka agar mereka siap menjadi penerus perjuangan menegakkan risalah Islam pada hari-hari yang menentukan seperti sekarang. Mereka harus siap merebut kembali bandul sejarah yang sudah lama terlepas dari umat Islam dan mengangkat umat ini dari kehinaan dan keterpurukan.


Sudah saatnya mereka mengambil jalan kemuliaan sehingga pantas menjadi apa yang Rasulullah ﷺ gambarkan, “Sesungguhnya akan ada hari-hari (akhir zaman), di mana bersabar pada waktu itu seperti memegang bara api. Orang yang beramal pada waktu itu seperti (mendapat) pahala 50 orang yang beramal seperti amal kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (pahala) 50 orang dari kami atau dari mereka?” Beliau menjawab, “Pahala 50 orang dari kalian.” (Diriwayatkan oleh Turmudzi, Abu Daud, Ibnu Majah). Semoga kita semua termasuk salah satu di antara barisan mereka. Semoga. [MNews/SNA]

Komentar