Reportase – Para tokoh muslimah mubaligah Bogor menghadiri diskusi hangat dalam agenda Majelis Mudzakaroh Mubalighoh bekerjasama dengan Forum Silah Ukhuwah Permata Umat (Forsimat) yang dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Bogor. Dini Andhita, S.T.P. dan Evi Gantini, S.E. menjadi narasumber dengan tema “Isra’ Mi’raj, Iman, Sholat dan Kepemimpinan Umat.”
Dini Andhita S.T.P. memaparkan tiga dimensi dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, yakni dimensi spiritual, ideologis, dan politik. Di dalam tiga poin ini umat Islam harus memahaminya karena memberikan pengaruh yang besar bagi seluruh kaum muslimin, ajak Dini pada tokoh mubaligah yang hadir. Ia menjelaskan satu per satu poin tersebut dengan membacakan Surah Al-Isra’ Ayat 1 yang menjadi sumber bahwa Rasulullah saw. melakukan Isra’ Mi’raj sebagai mukjizat yang membawa hikmah bagi kaum muslimin.
Poin pertama, dimensi spiritual maksudnya adalah peristiwa Isra’ Mi’raj makin meningkatkan kesadaran hubungan manusia dengan Allah dengan bertambah ketakwaannya. Ketika perintah salat ditetapkan Allah, tidak lain menjadikan setiap muslim menjauhi kemaksiatan, dan dengan salat sehari lima kali kaum muslimin terhubung denga Sang Khalik.
Menurut Dini, hakikat salat adalah ketundukan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yang tampak dalam kehidupan kaum muslimin. Isra’ Mi’raj menjadi mukjizat bagi Nabi saw. sehingga makin menguatkan keimanan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah. Dan keimanan kaum muslimin harus disempurnakan dengan mengamalkan seluruh syariat yang dituntut oleh iman.
Poin kedua, dimensi ideologis maksudnya adalah peristiwa Isra’ Mi’raj meyakinkan umat Islam bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai fitrah manusia dan mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh manusia. Rasulullah memilih bejana yang berisi susu dan mengabaikan bejana berisi khamar. Kemudian Jibril berkata, kamu telah membimbing umatmu menuju fitrah, mengandung maksud bahwa agama yang dibawa Nabi sesuai fitrah manusia.
Islam sebagai agama yang lurus akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia, sekaligus menegaskan bahwa selain Islam akan membawa pada kerusakan dalam kehidupan. “Lantas, pantaskah umat Islam mengajak pada selain Islam?” tanya Dini. “Menerapkan ideologi atau sistem selain Islam pasti akan merusak tatanan kehidupan umat manusia dan mendatangkan kehinaan di akhirat,” sambungnya.
Ia melanjutkan poin ketiga terkait dimensi politik, yakni agama Islam layak mengatur umat manusia dan umat Islam adalah umat yang layak memimpin manusia. Tampilnya Rasulullah saw. menjadi imam para Nabi dan Rasul menjadi bukti kepemimpinan umat manusia sudah beralih ke tangan umat Islam dari tangan Bani Israil. Lalu, apakah pantas ketika sudah berulang kali memperingati Isra’ Mi’raj, umat Islam masih tunduk pada kekuasaan asing dan aseng, ujar Dini.
Narasumber kedua, Evi Gantini, S.E. menyampaikan perjalanan dakwah Rasulullah periode Makkah yang meliputi pembinaan Nabi pada sahabat, hingga Nabi diperintahkan dakwah terang-terangan dan mengalami penyiksaan orang-orang Quraisy. Disaat Rasulullah merasa sedih dan terpuruk dengan wafatnya Khadijah dan Abi Thalib, Allah perjalankan Isra’ Mi’raj. Setelah Isra Mi’raj, Rasulullah diperintahkan Allah hijrah ke Madinah untuk meluaskan dakwah dan menerapkan syariat Islam secara kafah.
Evi mengajak para mubaligah dalam momentum peringatan Isra’ Mikraj’ untuk peduli dengan problematika umat saat ini. Ketiadaan Daulah Islam, membuat umat Islam terpuruk dalam aspek ekonomi, pendidikan, sosial, hukum, politik, dan pemerintahan. Ia mengatakan pentingnya mengembalikan kepemimpinan Islam, dengan menjadikan Islam sebagai ideologi bukan hanya agama spiritual. Hal ini tampak saat hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah dan berdiri tonggak pertama Daulah Islam, setelahnya dilanjutkan khulafaur rasyidin.
Sepanjang hidup Rasulullah mendakwahkan dan menerapkan sistem Islam. Setelah hijrah ke Madinah, beliau dan umat Islam menerapkan seluruh hukum syara dalam naungan Daulah Islamiah. Evi menegaskan peran mubaligah adalah mendidik kaum muslimin agar memahami pengaruh Isra’ Mi’raj yaitu berjuang menerapkan Islam kafah. Dia mengajak para mubaligah untuk belajar dan mengajarkan Islam kafah bersama kelompok/jamaah yang memiliki visi dan misi yang sama. Dengan begitu Khilafah ala min hajin nubuwwah akan tegak sebagaimana janji Allah.[Mitri]

Komentar
Posting Komentar