Ramadan Bulan Perjuangan, Tegakkan Hukum Al-Qur’an


 


#Editorial — “Telah datang Ramadan, bulan penuh berkah (syahrul mubarak), maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat, dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.”(HR Ahmad).


Ramadan adalah bulan yang kedatangannya sangat dirindukan oleh orang-orang yang beriman. Pada bulan ini, umat Islam berlomba-lomba untuk menambah kebaikan dengan meningkatkan berbagai amal ibadah demi meraih bonus pahala yang melimpah ruah. Berbagai kemuliaan memang Allah curahkan pada bulan ini. Di antaranya terlihat dari salah satu nama yang dilekatkan kepadanya, yakni syahrul mubarak, bulan yang sarat keberkahan. Berkah sendiri bermakna ziyadatul khair, yakni bertambahnya kebaikan yang ternyata bukan hanya bermakna ritual, melainkan juga mengarahkan setiap hamba pada ketaatan secara total.


Itulah yang tampak dari apa yang diteladankan baginda Rasulullah saw. beserta para sahabat terbaiknya. Mereka menyambut Ramadan dengan penuh sukacita, seraya mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya, baik berupa bekal ilmu, mental, hingga rancang perjuangan. Ramadan buat mereka bukan saat berleha-leha, melainkan menjadi momen terbaik meningkatkan eskalasi perjuangan dengan jihad fi sabilillah dan menjemput kemenangan, hingga peradaban Islam dari masa ke masa kian gilang gemilang. 


Realitas Umat Islam

Sayangnya, apa yang diteladankan baginda Rasulullah saw. beserta para sahabat terbaiknya, berbeda jauh dengan realitas kita sekarang. Ramadan ke Ramadan nyaris berlalu begitu saja tanpa memberi atsar bagi kehidupan umat Islam. Bahkan, kondisi umat Islam kian hari kian memprihatinkan, padahal mereka telah diberi predikat sebagai umat terbaik yang dilahirkan di antara manusia.


Saat ini posisi umat Islam seolah ada di persimpangan jalan. Mereka belum bisa keluar dari berbagai keterpurukan. Krisis multidimensi terus menghantui kehidupan umat Islam. Mereka terpecah belah karena berbagai kepentingan dan golongan. Bahkan, secara pemikiran, budaya, politik, dan ekonomi, mereka dalam posisi terjajah oleh kekuatan global yang mengusung peradaban rusak bernama sistem sekuler kapitalisme neoliberal. 


Apa yang saat ini terjadi di Gaza Palestina menunjukkan kondisi umat Islam yang sedang ada di titik nadir peradaban. Betapa tidak, sebanyak 2,1 miliar umat Islam yang ada di berbagai wilayah dunia dibuat tidak berdaya oleh segelintir manusia yang jumlahnya hanya sekira 2 juta orang entitas Zion*s yang didukung Amerika dan sekutunya. Di tanah ini, masyarakat dunia menyaksikan pembantaian dan genosida terbuka yang dilakukan dengan cara-cara di luar nalar manusia. Mereka bukan hanya dibombardir dengan senjata, tapi juga dibunuh perlahan dengan cara disiksa dan dilaparkan. Bahkan terakhir, pihak Zion*s menggunakan senjata yang satu kali gempuran tubuh manusia menguap tanpa sisa.


Masyarakat dunia memang terus bersuara. Mereka protes, melakukan boikot, bahkan menggagas gerakan global dan kolosal bernama Global March Shumud Fotilla. Namun tetap saja, seruan lantang mereka tidak kuasa menghentikan kezaliman yang terjadi, termasuk pada era kesepakatan gencatan senjata. Mirisnya, para penguasa mereka justru memilih berdiri di sisi penjajah dan berjabat tangan dengan pendukung penjajahan, yakni Amerika. Sebagian mereka satu demi satu menjalankan arahan Amerika untuk menormalisasi hubungan dengan Zion*s di bawah bendera Abraham Accord. Terakhir, mereka ramai-ramai bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang juga digagas oleh Amerika. Padahal, biang kerok atas semua problem di Gaza Palestina adalah ambisi Amerika melanggengkan hegemoni politik dan ekonomi yang hari ini dibungkus dengan narasi rekonstruksi dan stabilisasi Gaza. 


Di luar itu, problem umat Islam masih sangat banyak dan semuanya menjadi PR besar bagi kita semua. Bukan hanya muslim Gaza yang harus melewati Ramadan dengan derita, muslim Sudan juga hidup di tengah konflik yang tidak kalah mengerikan dari muslim Gaza. Begitu pun muslim Uighur, India, dan Rohingya. Nasib mereka tidak lebih baik, meski nyaris hilang dari sorotan kamera. 


Akar Keterpurukan

Yang sedang menimpa umat Islam hari ini sejatinya mengonfirmasi apa yang pernah disampaikan oleh baginda Nabi saw. Diriwayatkan dari Tsauban bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya.” Lalu seseorang bertanya, “Apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih di lautan, dan Allah akan melenyapkan diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?” Lalu beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.”


Buruknya kondisi umat Islam sebagaimana gambaran Rasulullah saw. ini tentu tidak bisa dilepaskan dari tata aturan atau sistem yang melingkupinya. Umat ini sudah lama kehilangan power dan pamornya, terutama sejak sistem kepemimpinan Islam atau  Khilafah terakhir yang berpusat di Turki berhasil dilenyapkan oleh agen Inggris bernama Mustafa Kemal pada 1924.


Padahal, sejarah menunjukkan, saat mereka hidup di bawah naungan khilafah, dan syariat Islam diterapkan secara kafah, mereka berhasil tampil sebagai khairu ummah. Bahkan selama belasan abad mereka menjadi pionir peradaban yang ditakuti lawan-lawannya, hingga memunculkan kedengkian dan dendam yang cukup dalam dari musuh-musuh ideologisnya. Tampak bahwa konsistensi mereka atas syariat yang ditegakkan oleh negara merupakan rahasia kebangkitan mereka, hingga eksistensi mereka sebagai sebuah bangsa muncul ke permukaan.


Sayang, rahasia ini berhasil dibongkar musuh-musuh Islam. Mereka belajar banyak dari kekalahan telak pada Perang Salib yang berlangsung sekira dua abad. Mereka paham betul bahwa kunci keteguhan dan kebangkitan umat Islam ada pada ajaran Islam yang dipahami dan diterapkan dengan benar. Inilah yang terus berupaya mereka goyang melalui perang pemikiran dan budaya yang berlangsung selama berabad-abad. 


Sampai pada akhirnya pertahanan umat pun roboh dan mereka dengan sadar mencampakkan ajaran Islam dari pengaturan seluruh aspek kehidupan. Mereka lalu beramai-ramai menenggak racun sekularisme kapitalisme dan jatuh dalam skenario pecah belah atas dasar kebangsaan. Setelah itu, umat Islam pun masuk pada fase buruk seperti yang kita lihat sekarang. Berbagai persoalan terus bermunculan, lalu mereka serahkan penyelesaiannya pada pemikiran, konsep, dan hukum buatan musuh-musuhnya. Mereka perlakukan agama mereka tidak lebih sebagai agama prasmanan. Mereka ambil ajaran yang menguntungkan secara materi, tapi mereka campakkan hukum-hukum yang dipandang membahayakan. 


Akhirnya, umat ini menjadi umat yang tidak punya kepribadian khas. Mereka menjalankan ibadah ritual, termasuk puasa Ramadan, tapi banyak syariat terkait aspek muamalah dan akhlak yang mereka abaikan. Yang lebih memprihatinkan, para pemimpin mereka tanpa ragu memberikan wala dan bara-nya kepada sistem kepemimpinan sekuler kapitalisme liberal. Mereka rela menyerahkan berbagai sumber daya milik umat kepada asing dan tampak nyaman berposisi sebagai pengekor dalam konstelasi politik internasional, meski untuk itu mereka harus membayarnya dengan kehinaan.


Semua ini sejatinya sejalan dengan apa yang Allah Swt. sampaikan dalam Al-Qur’an, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (syariat Islam), maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124).


Ramadan, Momen Mengembalikan Fungsi Al-Qur’an

Sesungguhnya, salah satu konsekuensi iman adalah tunduk pada seluruh hukum Islam, termasuk hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).


Oleh karenanya, kehadiran Ramadan semestinya menjadi momentum bagi umat untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan kehidupan, bukan hanya sebatas bacaan yang berlomba dikhatamkan. Allah Swt. berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185).


Hal itu tampak dalam perihidup Rasulullah saw. dan generasi terbaik setelahnya. Mereka benar-benar menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan level perjuangan. Betapa banyak peperangan antara Islam dan kekufuran terjadi saat Ramadan. Di antaranya Perang Badar, peristiwa fatah Makkah, Perang Khandaq, dan Perang Ain Jalut yang terbukti sangat menentukan masa depan umat Islam. Inilah dimensi politik Ramadan yang kian hari kian dilupakan banyak orang hingga Ramadan ke Ramadan dilalui umat Islam tanpa membawa pengaruh signifikan, bahkan kondisi umat Islam kian hari kian menyedihkan. 


Oleh karenanya, menjadi tugas kita untuk mengubah mindset masyarakat sehingga mereka paham bahwa ibadah Ramadan dan ajaran Islam lainnya bukan hanya memiliki dimensi ritual/ruhiah, melainkan memiliki dimensi politik yang akan menjadi kunci pembuka kebangkitan umat Islam. Perubahan mindset umat Islam ini tentu perlu diikhtiarkan melalui dakwah pemikiran yang berjalan secara masif dan konsisten. Targetnya adalah agar umat paham bahwa Islam adalah sebuah ideologi yang bukan hanya mengandung fikrah atau konsep-konsep hukum, melainkan juga memiliki thariqah bagaimana fikrah itu diterapkan. 


Tentu bukan sekadar paham, melainkan umat Islam siap berjuang dan mengamalkan Islam sebagaimana yang diperintahkan. Inilah hakekat takwa yang sejatinya menjadi tujuan disyariatkannya puasa ramadan. Yakni kesiapan untuk hidup di bawah naungan syariat Islam kafah yang ditegakkan dalam institusi Khilafah Islamiah.

Komentar