Tokoh Lintas Profesi Geram Dengan BoP



#Reportase — Amerika Serikat membentuk Board of Peace (BoP) dan kebanyakan anggota yang tergabung di dalamnya adalah negeri-negeri muslim termasuk Indonesia. Hal inilah yang diangkat pada Diskusi Publik (DISPUB) ke-28 yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu 21 Februari 2026. Mengangkat tema “Palestina: Antara Perdamaian dan Pengkhianatan”. 


Dispub yang berlangsung di bulan Ramadan tidak menyurutkan semangat puluhan tokoh muslimah dari kalangan mubaligah, aktivis, praktisi pendidikan  dan akademisi untuk hadir dan menyampaikan pandangan mereka terhadap tema di atas.


Narasumber pertama memaparkan tentang “Board of Peace, Ilusi Perdamaian ala Kapitalisme”. Ririn menerangkan bahwa rancangan BoP yang dibentuk Trump bertujuan untuk mencegah stabilitas pasca akonflik, mencegah eskalasi kekerasan, serta mengkordinasikan rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan. Ia meragukan pembentukan BoP untuk menyelesaikan permasalahan penjajajahan di P4l3stina. Bahkan Ririn mensinyalir ada upaya lain dari pembentukan BoP karena lembaga ini dibentuk oleh negara yang menjadi pendukung utama zi0nis Isr@hell untuk menjajah P4l3stina.


Secara panjang lebar Ririn menjabarkan poin-poin krusial yang ada di dalam BoP. Pertama, Donald Trump sebagai penguasa tunggal, menduduki posisi ketua seumur hidup dengan kontrol absolut atas arah kebijakan organisasi ini dan Trump memiliki hak veto penuh. Kedua, Struktur dalam BoP menentukan besaran kewenangan akan tetapi keputusan terakhir tetap ditangan ketua BoP. Ketiga, lanjutnya, demiliterisasi Gaza yaitu menghentikan perjuangan untuk mengembalikan P4l3stina ke tangan kaum muslim dan yang keempat adalah melakukan rekonstruksi terhadap Gaza. Trump berencana membangun ulang Gaza dengan menciptakan pusat pariwisata mewah atau Riviera Timur Tengah dan berencana menghilangkan tempat-tempat bersejarah Islam di wilayah P4l3stina.


Pengkhianatan para pemimpin negeri-negeri muslim juga dipaparkan oleh Ririn. Ia mengatakan bahwa BoP bukanlah instrument netral karena lembaga ini lahir dari rahim kekuatan imperialisme yang dipimpin oleh Amerika. Para penguasa muslim juga secara sadar menerima kerangka berpikir Amerika bahwa masalah P4l3stina bukan penjajahan melainkan hanya konflik keamanan, jelasnya. 


BoP juga tidak bekerja untuk pembebasan, tapi untuk pengendalian, yaitu memastikan Gaza tidak menjadi ancaman bagi Isr@hell dan keterlibatan penguasa muslim dalam BoP memperlihatkan upaya normalisasi hubungan dengan penjajah, urai Ririn. Inilah akibat dari tata kelola dunia ala kapitalisme yang hanya menyampaikan ilusi perdamaian, tegasnya.


Sedangkan narasumber kedua, yaitu dr. Estyningtias P., mengangkat penjelasan “Menyikapi Aneksasi Palestina”.  Dokter yang juga mubaligah Jakarta ini mengatakan bahwa persoalan utama yang terjadi di Palestina adalah pencaplokan wilayah atau aneksasi. Pembentukan Board of Peace (BoP) dan bergabungnya negara-negara muslim dalam lembaga tersebut adalah upaya mengaburkan akar persoalan P4l3stina, memalingkan kaum muslim dari persoalan utama yaitu penjajahan dan solusi BoP adalah jalan tengah ala kapitalisme setelah sebelumnya solusi dua negara yang mereka tawarkan telah gagal, tegasnya.


Dengan kondisi ini, maka dr. Esty mengingatkan bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap. Ia menyampaikan Firmah Allah Swt. dalam Surah Al-Mumtahanah Ayat 9, “Sesungguhnya Allah hanya melarangmu (berteman akrab) dengan orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama, mengusirmu dari kampung halamanmu, dan membantu (orang lain) dalam mengusirmu. Siapa yang menjadikan mereka sebagai teman akrab, mereka itulah orang-orang yang zalim.”


Ayat ini, terangnya, menunjukkan adanya larangan, mengajarkan siapa kawan dan siapa lawan serta larangan untuk melakukan perbuatan tersebut karena berdosa dan ada kaitannya dengan keimanan. Kaitannya dengan keimanan, lanjutnya, sesuai dengan Surah Annisa Ayat 75 sampai 76.


Kaum muslim tidak boleh menghentikan perlawanan, tegasnya, termasuk tidak setuju dengan pembentukan Board of Peace. Cara yang bisa dilakukan oleh kaum muslim saat ini adalah menghapuskan segala bentuk penjajahan, berjuang melawan pendudukan/aneksasi dan berjuang sampai titik darah penghabisan.


Ia mengingatkan para tokoh muslimah yang hadir bahwa misi manusia hidup untuk meraih rida Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya, memiliki keyakinan yang kuat bahwa tipu daya setan jauh lebih lemah dari kekuasaan Allah dan jangan menyerah karena Allah tidak tidur.


Maka, urainya, sikap benar yang seharusnya negeri-negeri muslim lakukan adalah bersatu untuk memerangi kaum kafir. Ia katakan bahwa persatuan kaum muslim harus diwujudkan dengan menyamakan pemikiran dengan sudut pandang Islam, memiliki kesamaan perasaan bahwa kaum muslim adalah satu tubuh dan tidak terpecah belah dalam batas-batas negara, juga penting adanya sebuah pergerakan. Pergerakan yang akan menyatukan kaum muslim untuk melawan Isr@hell dengan mengomandokan jihad. Kaum muslim harus menyadari bahwa yang mampu mengomandokan jihad hanya Khilafah Islamiah dan kehadiran Khilafah adalah kebutuhan mendesak kaum muslim.


Geram dan marah ditunjukkan oleh para tokoh muslimah lintas profesi terhadap pembentukan Board of Peace (BoP) yang digawangi oleh Amerika Serikat pada sesi diskusi dan tanya jawab. Mereka juga menyayangkan keputusan pemerintah Indonesia yang terlibat dalam BoP yang diketuai oleh Donald Trump.[JPD]













Komentar