Rini Sarah
#Remaja — Angka 0 (nol) yang melambangkan sebuah konsep “ketiadaan” dan al-Khawarizmi memang tak bisa kita pisahkan. Al-Khawarizmi yang bernama lengkap Muhammad bin Musa al-Khawarizmi adalah ilmuan muslim yang dinisbatkan sebagai penyempurna konsep angka nol bahkan ada yang menyebutkan beliaulah penemu angka tersebut. Memang konsep “ketiadaan” itu awal mulanya berkembang di India, al-Khawarizmi-lah yang mengembangkan konsep itu secara signifikan. Beliau juga menyempurnakannya sebagai bagian dari sistem desimal.
Angka 0 ini ternyata banyak lho manfaatnya bagi manusia dan perkembangan ilmu dan teknologi. Walaupun terlihat sepele ya tapi nyatanya besar faedahnya. Angka nol digunakan untuk menandakan tempat hingga kita bisa bedakan nilai suatu besaran, misal dia puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya hingga kita bisa membedakan angka 12 dan 102. Dalam operasi matematika lainnya, angka nol juga sangat berguna.
Angka nol dalam teknologi dan komputer digunakan dalam sistem bilangan biner. Komputer beroperasi menggunakan “saklar” 1 (aktif) dan 0 (mati). Di sini nol berperan sebagai bahasa dasar dari teknologi.
Nah, kalau dalam kehidupan sehari-hari angka nol bisa digunakan sebagai penanda bahwa sesuatu itu sudah tidak ada. Misal 0 di saldo rekening kita, menandakan kalau kita sudah tak punya uang, hehehe. Atau 0 di dashboard paket data internet juga itu berarti sama, paket kita udah entek alias abiiizzzz.
Lain lagi kalau yang menggunakan angka nol adalah petugas SPBU. Mereka selalu bilang, “Dimulai dari nol ya, Kak.” Itu mah menandakan kalau start meteran mesin pengisi bensin dimulai dari nol. Tapi, tulisan kita kali ini bukan tentang “Dimulai dari Nol”, karena setelah selesai Ramadan kita sudah punya sesuatu, tidak memulai lagi dari nol.
Ramadan adalah Dojo
Ramadan memang seakan dirancang Allah sebagai dojo (tempat latihan karate) bagi umat Islam. Dalam bulan ini umat Islam dikarantina agar terbentuk dan meningkat sikap takwanya. Hal ini memang dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 183, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Dalam bulan ini, Allah melarang kita melakukan sesuatu yang boleh di bulan lainnya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Misalnya, kalau di bulan lain kita bebas makan minum di siang hari, di bulan Ramadan kita harus menahannya hingga waktunya berbuka. Kalau kita renungkan, hal ini bukan hanya sekedar larangan, tapi lebih jauhnya Allah sedang melatih ketaatan dan ketundukan kita kepada syariat Islam. Kita dilatih menundukkan ego kita di depan syariat-Nya. Selain, itu kita juga dibentuk komitmen dan kesabarannya. Nah paling epiknya, kita juga bisa melakukannya dalam kondisi ada orang lain sekitar kita atau tidak. Jadi self-control alias pengawasan melekatnya juga tumbuh. Nah, ini adalah modal kita biar selalu berada dalam the right track, obedience track.
Selain kita juga dilatih untuk menahan lapar selama 12 jam kalau di Indonesia, malamnya pun tidak dibiarkan berleha-leha. Allah kasih syariat tentang salat yang istimewa karena hadirnya di bulan ini saja, yaitu salat tarawih. Hmmm, gak nanggung-nanggung kan jumlah rakaatnya, paling sedikit 8 rakaat, Besti, plus 3 rakaat salat witir. Mau makin poll kita bisa ambil juga yang salat tarawihnya 20 rakaat, tentu saja plus 3 rakaat salat witir. Hmmm, mantep itu. Iman makin kuat, tubuh juga, dan hati pun makin merasa ringan dalam ketaatan. Apalagi Allah memotivasinya dengan pahala yang lebih dari biasanya. Makanya, FOMO kita pun bergeser, dari ngikut tren budaya luar, jadi FOMO itikaf.
Kalau diurai satu per satu aktivitas dalam Ramadan kayanya tidak akan ada habisnya. Tapi, ada satu hal yang menarik juga, Allah mensyariatkan hal ini selama satu bulan full. Ini sejalan lho dengan masa pembentukan habits yang biasa dikemukan oleh ahli. Menurut Dr. Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik, dia menemukan satu pola yang sama yang dirasakan oleh pasiennya, yaitu pasiennya akan membutuhkan 21 hari untuk terbiasa dengan perubahan wajah atau kaki yang diamputasi. Dari hal ini, beliau menyimpulkan kalau orang itu akan terbiasa dengan kebiasaan barunya setelah melakukan hal tersebut selama 21 hari. Nah, kalau latihan di bulan Ramadan kan 29 atau 30 hari, berarti cocok ya. Walaupun ada studi lain dari University College London yang mengatakan butuh waktu 66 hari agar habit baru itu bisa dilakukan secara otomatis. Berarti, lanjutkan dong kebiasaan itu, hingga semua serba otomatis dilakukan. Nah, di sinilah kita perlu yang namanya sikap istikamah dalam melakukan amalan-amalan saat Ramadan dan pertahankan ketaatan dan merasa diawasinya.
Istikamah Pasca-Ramadhan
Istikamah adalah sikap konsisten dalam melakukan atau memegang suatu nilai tertentu. Orang yang mempunyai sikap ini akan terus menerus melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah. Sikap ini dicintai oleh Allah. Ada hadis yang menerangkan, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (Hadis Riwayat Bukhari–Muslim)
Agar bisa istikamah kita bisa melakukan hal-hal berikut. Pertama, luruskan niat. Setting ke mode ikhlas. Ketika kita melakukan ketaatan kepada Allah itu persembahkan hanya buat Allah saja. Jangan diniatkan buat sesuatu di luar Allah, seperti pujian manusia. Karena kalau kita berharap pada selain Allah pasti kita bakal kecewa. Akhirnya, mogok berbuat kebaikan.
Kedua, sering-sering refresh pemahaman kita. Pemahaman tentang tujuan hidup dan kenapa sih kita memilih jadi orang Islam. Tanamkan terus bahwa tujuan kita hidup itu memang buat beribadah dan menjadi khalifatul fi ardhi. Kedua hal tadi memang harus dijalankan dalam kerangka pemikiran bahwa kita adalah hamba Allah yang harus senantiasa taat kepada-Nya.
Ketiga, deket-deket sama Al-Qur’an. Tilawah, tadabur, dan kaji terus makna-maknanya. Karena Al-Qur’an itu petunjuk dan bisa melembutkan hati kita. Kalau kita senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an juga kita akan dekat dengan Pemilik Kalam (Allah). Nah, kalau itu sudah terwujud kita diharapkan akan senantiasa merasa sadar terhubung dengan Allah. Kesadaran itu yang akan menjadi kontrol bagi setiap perbuatan kita hingga mendorong kita menjadi istikamah dalam kebaikan.
Keempat, circle pertemanan diperbaiki. Bukan berarti cut off atau jadi eksklusif tidak berinteraksi dengan teman lain. Maksudnya kita pilih teman yang memang jadi teman dekat kita. Pilihlah yang sama-sama mau berproses menuju istikamah dalam kebaikan. Karena menurut hadis Rasulullah, dari Abu Musa al-Asy’ariy r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“
“Permisalan teman duduk yang saleh dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (Hadis Riwayat Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)
Kelima, doa yang banyak. Minta diistikamahkan dalam kebaikan. Doanya cukup terkenal dan pendek, jadi gak sulit untuk diamalkan. Bunyi doanya adalah:
يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
"Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (Hadis Riwayat Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525)
Itulah sekelumit tips agar bisa istikamah dalam kebaikan. Tenang pasca-Ramadhan ini kita tinggal meneruskan. Hati-hati ya, jangan kembali ke setelan awal yang gak disiplin ibadah ketika sebelum Ramadan, alias ngerasa ah merdeka kan Ramadan udahan. Duh jangan yaaaa, dek yaa, jangan! Semangaaat!

Komentar
Posting Komentar