Konflik Iran dan Seruan Persatuan Umat: Harapan di Tengah Sistem yang Salah




Refi Oktapriyanti



#Wacana — Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, menjadi sorotan dunia. Ketegangan yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas global. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, Presiden Prabowo Subianto menyerukan pentingnya persatuan bangsa agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai gejolak internasional. 

Prabowo Subianto, Presiden RI menekankan tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah memanasnya konflik yang terjadi di Timur Tengah setelah Isr4hell dan Amerika Serikat (AS) menyerang Iran. Penegasan tersebut disampaikan saat Presiden mengumpulkan ratusan ulama, pendakwah, hingga pemimpin pondok pesantren di Istana Kepresidenan Jakarta (news.okezone.com, 12/03/2026). Selain itu, Muhaimin Iskandar Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat juga mengatakan presiden meminta seluruh pihak menjaga kebersamaan dan komitmen menghadapi berbagai dinamika global. (news.okezone.com, 12/03/2026)

Konflik yang terjadi berulang kali di berbagai belahan dunia ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai peristiwa sesaat atau sekadar perseteruan antarnegara. Jika diperhatikan lebih dalam, ketegangan yang terus terjadi menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam sistem tata kelola dunia saat ini. Konflik geopolitik sering kali tidak lepas dari perebutan kepentingan ekonomi, pengaruh politik, serta penguasaan sumber daya strategis. Kawasan yang kaya sumber daya alam atau memiliki posisi geopolitik penting kerap menjadi arena tarik-menarik kepentingan negara-negara besar.

Realitas ini tidak dapat dilepaskan dari dominasi sistem kapitalisme global yang menempatkan kepentingan ekonomi dan kekuatan politik sebagai faktor utama dalam hubungan internasional. Dalam sistem kapitalisme, persaingan menjadi prinsip dasar yang mendorong negara atau korporasi untuk terus memperluas pengaruh dan kekuasaannya. Akibatnya, hubungan antarnegara sering kali dilandasi oleh kepentingan pragmatis, bukan oleh prinsip keadilan dan kemanusiaan. Ketika kepentingan tersebut berbenturan, konflik pun menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Lebih jauh lagi, sistem kapitalisme juga melahirkan ketimpangan kekuatan di tingkat global. Negara-negara besar memiliki pengaruh politik, ekonomi, dan militer yang jauh lebih kuat dibandingkan negara lain. Ketimpangan ini membuat keputusan-keputusan penting dalam politik internasional sering kali didominasi oleh kepentingan segelintir kekuatan besar. Akibatnya, konflik yang terjadi di suatu wilayah tidak jarang dipengaruhi oleh permainan geopolitik yang lebih luas, bukan semata-mata karena persoalan lokal.

Kondisi inilah yang membuat konflik global kerap berulang tanpa solusi yang benar-benar menyelesaikan akar persoalan. Upaya penyelesaian konflik sering kali hanya bersifat sementara, sedangkan kepentingan politik dan ekonomi tetap menjadi faktor yang menentukan arah kebijakan internasional. Dalam situasi seperti ini, seruan persatuan bagi suatu bangsa memang sangat penting sebagai bentuk kesiapan menghadapi dinamika dunia yang tidak menentu.

Namun di sisi lain, realitas konflik yang terus terjadi juga seharusnya menjadi refleksi bahwa dunia membutuhkan sistem yang mampu menghadirkan keadilan dan perdamaian secara lebih mendasar. Perdamaian yang sejati tidak akan terwujud jika hubungan antarnegara terus didominasi oleh kepentingan kekuasaan dan keuntungan semata. Tanpa perubahan cara pandang dalam mengelola hubungan internasional, konflik demi konflik berpotensi terus terjadi dan membawa dampak luas bagi kehidupan umat manusia.

Berbeda jika dibandingkan dengan Islam, Sistem pemerintahan dalam Islam mengatur politik luar negeri dengan tujuan menjaga keamanan, melindungi umat, serta menyebarkan nilai-nilai keadilan. Kekuasaan tidak digunakan untuk menindas atau mengeksploitasi bangsa lain, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada penindasan dan ketidakadilan yang merugikan manusia.

Dalam sejarahnya, peradaban Islam pernah menunjukkan bagaimana sebuah sistem dapat menghadirkan stabilitas dan keadilan di tengah masyarakat yang beragam. Prinsip keadilan, perlindungan terhadap hak manusia serta pengelolaan sumber daya yang tidak didasarkan pada eksploitasi menjadi fondasi yang menjaga kestabilan tersebut. Inilah yang menunjukkan bahwa Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan global, termasuk konflik dan ketidakstabilan dunia.

Karena itu, konflik yang terus berulang seharusnya menjadi momentum bagi umat manusia untuk mengevaluasi sistem yang selama ini mendominasi dunia. Selama hubungan internasional terus didasarkan pada persaingan kekuatan dan kepentingan ekonomi semata, maka perdamaian hanya akan menjadi slogan tanpa realisasi nyata. Dunia membutuhkan sistem yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga adil dalam mengatur kehidupan manusia. Dalam hal ini, Islam menawarkan konsep tata kelola yang menjadikan keadilan sebagai fondasi utama bagi terciptanya perdamaian yang hakiki.

Komentar