Karina Fitriani Fatimah
#TelaahUtama — Per 30 Maret 2026, dua kapal tanker milik Indonesia masih belum bisa melewati Selat Hormuz. Kedua kapal Pertamina, yakni Pride dan Gamsunoro masing-masing berada di Teluk Arab dan Teluk Persia. Pihak PT Pertamina International Shipping (PIS) masih berupaya untuk secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dalam menyiapkan teknis perlintasan. Sekalipun otoritas Iran telah memberi sinyal positif, hal tersebut tidak serta-merta memberi lampu hijau bagi kapal-kapal Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz (cnnindonesia.com, 29/03/2026).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi menyatakan bahwa negara-negara ‘sahabat’ Iran diperbolehkan melintasi Selat Hormuz termasuk Irak, Pakistan, India, Cina, dan Rusia (theeconomictimes.com, 25/03/2026). Per 26 Maret, seluruh kapal Rusia dan Irak diperbolehkan melintas tanpa hambatan. Sedangkan pihak Cina sudah mengantongi jaminan keamanan dari Teheran sekalipun dua kapal sempat menunda keberangkatan pada 28 Maret 2026 karena alasan operasional. Dua kapal tanker gas minyak cair (LPG) asal India juga telah berhasil melanjutkan perjalanan dan kapal tanker jenis Aframax asal Pakistan bernama Karachi telah keluar dari wilayah Teluk melalui rute yang ditetapkan Iran (cnbcindonesia.com, 29/03/2026).
Di luar lima negara tersebut, Spanyol menjadi satu-satunya negara Eropa yang mendapat izin melintas oleh pihak Teheran. Spanyol disebut Iran sebagai negara yang mematuhi hukum internasional dan tidak terafiliasi dengan musuh, yakni US dan IsraHell. Selain itu pihak Turki juga mendapat izin khusus melintas bagi kapal-kapal miliknya yang sedang berada di perairan Iran. Satu-satunya negara Asia Tenggara yang mendapat ‘perlakuan hangat’ Iran tidak lain adalah Malaysia yang sedang dalam proses pemulangan armada kapal dan Thailand. Selebihnya, negara-negara di dunia masih kesulitan menembus birokrasi Iran tidak terkecuali Indonesia. Di sisi lain, seluruh kapal berbendera Amerika dan IsraHell secara total dilarang melintas.
Sebelum perang berkecamuk, Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Terdapat sekitar 138 kapal melintas setiap harinya yang mayoritas didominasi oleh kapal-kapal tanker bermuatan minyak dan gas bumi guna memenuhi seperlima kebutuhan energi dunia. Namun sejak perang pecah, tercatat hanya 99 kapal yang berhasil melintas dalam sebulan, atau sekitar lima hingga enam kapal saja per harinya (bbc.com, 26/03/2026). Kondisi tersebut kemudian membuat sekitar 2000 kapal terdampar di sekitar area perairan Iran.
Tidak hanya membatasi kapal-kapal asal mana saja yang boleh melintas, Teheran juga tengah berusaha mengesahkan undang-undang guna mengenakan biaya masuk bagi setiap kapal yang hendak melewati Selat Hormuz. Anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi menyebut pihaknya telah mematok biaya hingga US$2 juta atau setara dengan Rp33 miliar per kapal (cnbcindonesia.com, 28/03/2026).
Sebetulnya syarat yang diajukan Teheran bagi negara manapun untuk melintasi Selat Hormuz terbilang ‘mudah’. Negara yang bermaksud melintasi perairan Iran harus tidak terafiliasi dengan US dan IsraHell. Tidak hanya itu, negara mana saja yang ‘mendukung’ US–IsraHell dalam melakukan penyerangan terhadap Iran bisa dipastikan tidak dapat melintas. Sedangkan kapal-kapal asal Amerika dan IsraHell secara penuh tidak akan mendapat izin melintas dalam kondisi apa pun.
Ironisnya, syarat-syarat sederhana yang ditetapkan Teheran tampaknya tidak dapat dipenuhi oleh Indonesia. Sejak keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) besutan Trump, Indonesia secara nyata menunjukkan kecenderungannya terhadap Negeri Paman Sam dalam politik luar negerinya. Sekalipun pihak istana senantiasa menekankan bahwa Indonesia menganut politik bebas aktif yang tidak berpihak pada blok manapun, Iran tidak menilai demikian. Padahal sebelum bergabung dengan BoP kapal-kapal Indonesia sangat jarang menemukan kesulitan dalam melintasi jalur pelayaran manapun termasuk di wilayah Teluk, bahkan ketika dalam kondisi perang.
Hal serupa juga dialami oleh mayoritas negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar. Kapal-kapal mereka masih harus bertahan di perairan lepas tanpa adanya kepastian kapan dapat melintas. Kondisi tersebut adalah hal yang wajar mengingat negara-negara Arab mayoritas berhubungan dekat dengan Amerika. Kedekatan tersebut bahkan memberi peluang bagi Trump untuk mengolok-olok Pangeran Saudi, Muhammad bin Salman secara terbuka tanpa ada perlawanan. Bahkan, politik adu domba Amerika untuk wilayah Timur Tengah senantiasa digaungkan dengan narasi Sunni–Syiah yang menyebabkan negara mayoritas Syiah yakni Iran selalu dianggap sebagai musuh bersama bangsa Arab.
Indonesia sendiri kini terjebak dalam politik adu domba yang sama dilancarkan AS untuk negara-negara Arab. Indonesia tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian integral kaum muslim dan memilih untuk berjabatan tangan erat dengan para musuh Allah Swt, yakni AS dan IsraHell. Para pemuka negeri ini bahkan tanpa rasa malu menyatakan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP ialah untuk kepentingan G4z4. Padahal hal tersebut hanyalah kedok busuk AS dalam membungkam negeri-negeri muslim dalam membebaskan P4L3st1n4 dari penjajahan.
Kini, para pemimpin muslim dunia telah secara sempurna terpecah-belah sebagaimana rencana musuh-musuh Allah Swt. Konsep nation state (negara bangsa) yang dielu-elukan Barat, telah berhasil mencerai-beraikan persatuan umat. Konsep nasionalisme pun menjadi andalan para penjajah untuk membuat negeri-negeri muslim sibuk menjaga kepentingan bangsanya masing-masing, sekalipun harus menjilat kaki-kaki penjajah. Kita melihat dengan jelas bagaimana penderitaan rakyat G4z4 sejak 7 Oktober 2023 silam hingga detik ini tidak banyak menggugah hati-hati pemimpin muslim dunia termasuk para pemimpin negeri ini. Pun dengan nestapa rakyat PL3st1n4 sejak kaum Z!0n1$ memproklamirkan berdirinya IsraHell secara otoriter pada 1948, para pemimpin muslim hanya berdiam diri.
Terlebih dengan serangan gabungan US–IsraHell terhadap Iran, para pemimpin muslim dunia khususnya bangsa Arab hanya menjadi penonton. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan mengharapkan kejatuhan Iran dengan mengatasnamakan ‘kemenangan’ Sunni atas Syiah. Tidak sedikit pula yang berharap ketidakberpihakkan mereka terhadap Teheran bisa menjadi jalan dalam ‘menghangatkan’ hubungan negeri mereka dengan sang Penjajah, Amerika. Sementara itu, Iran mengkategorikan bangsa ‘kawan’ dan ‘lawan’ berdasar kepentingan nasional mereka saja. Tidak ada pertimbangan akidah dalam pelabelan negeri ‘sahabat’ versi Teheran.
Padahal Allah Swt. telah benar-benar memperingatkan para pengkhianat umat yang memilih untuk bergandengan tangan dengan musuh Islam dalam Firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia (auliya). Kamu sampaikan kepada mereka (hal-hal yang harus dirahasiakan) karena rasa kasih sayang (kepada mereka). Padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang datang padamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu (dari Makkah) karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah berbuat demikian)… Siapa di antaramu yang melakukannya, sungguh telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Surah Al-Mumtahanah Ayat 1)
Rasulullah saw. telah sedari awal mengingatkan posisi umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa mengenal batas-batas negara, di dalam Hadis Riwayat Muslim No. 4685, "Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar