Perang Iran dan Masa Depan Umat Islam



#Editorial — “Iran, yang sedang dihancurkan habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah, dan berjanji bahwa mereka tidak akan menembaki mereka lagi. Janji ini hanya dibuat karena serangan tanpa henti dari AS dan Israel. Iran bukan lagi ‘Pengganggu Timur Tengah,’ melainkan ‘PIHAK YANG KALAH DI TIMUR TENGAH.’.” – Presiden Donald J. Trump. (The White House, 8-3-2026)


Statement pongah tersebut disampaikan Trump di tengah eskalasi perang Iran versus aliansi AS-Zion*s yang memasuki titik didih baru. Pascatewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan Zion*s pada 28 Februari lalu, AS mengklaim telah menyerang lebih dari 5.000 target selama 10 hari pertama, termasuk melancarkan gelombang serangan besar-besaran di Teheran. Update terakhir, lebih dari 1.600 warga Iran dinyatakan tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Bahkan Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru diangkat pun dinyatakan luka-luka akibat serangan terakhir AS-Zion*s ke Teheran.


AS pun berkoar-koar telah memenangi peperangan dan menuntut Iran menyerah tanpa syarat. Namun, Iran menolak dan menjawab dengan melancarkan serangan balasan ke titik-titik strategis milik AS, seperti kapal-kapal induk dan pangkalan militer yang ada di negara-negara Teluk seperti UEA, Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.


Iran juga terus menghujani wilayah pendudukan Zion*s, seperti di Tel Aviv dengan ribuan misil balistik dan drone Shahed yang mampu menembus pertahanan militer Zion*s. Walhasil situasi kota itu nyaris sama dengan Gaza. Kehancuran dan kepanikan terjadi di mana-mana. Bahkan, disinyalir ribuan warga Zion*s dan ratusan tentara AS menjadi korban, meski kedua pihak pemerintah (AS dan Zion*s) berusaha menutup-nutupi kenyataan agar tidak bocor ke dunia luar.


Puncak Arogansi AS


Serangan bertubi-tubi AS ini terus dilakukan demi menekan kepemimpinan baru Iran yang tidak sesuai keinginan Trump. Sebelumnya ia sempat mengatakan, AS tidak akan membiarkan Iran dipimpin oleh pemimpin yang tidak sesuai dengan keinginannya. Berulang Trump berkata, “Ia akan membutuhkan persetujuan kita. Jika tidak mendapatkannya, ia tidak akan bertahan lama.”


Trump beralasan Iran harus dipimpin oleh orang yang mampu menciptakan harmoni dan perdamaian sesuai kepentingan AS. Ia juga terus menggunakan alasan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir yang membahayakan perdamaian dunia. Oleh karenanya, ia ingin pemimpin baru Iran tidak melanjutkan kebijakan politik dan militer rezim sebelumnya, karena menurutnya akan membawa Iran ke dalam perang.


Tentu saja semua pernyataan Trump adalah kebohongan besar. Siapa pun bisa melihat bahwa semua ulah Trump didorong ambisi untuk menguasai secara penuh wilayah Timur Tengah yang kaya sumber daya alam serta memiliki posisi geopolitik dan geostrategis yang sangat diperhitungkan. Di luar itu, wilayah Timur Tengah memiliki potensi ideologi untuk kebangkitan, yaitu ideologi Islam. Jika dibiarkan berada di luar kontrol, potensi itu bisa mengancam masa depan hegemoni Barat dan mengancam eksistensi anjing penjaganya, yakni entitas Zion*s di wilayah pendudukan.


Iran sendiri memiliki kedudukan khusus dalam politik global AS. Iran menjadi titik simpul (choke point) strategis karena berbatasan dengan Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Kaspia, yang menjadikannya pusat perdagangan dan energi global. Iran bahkan mengendalikan atau memengaruhi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb (melalui Houthi) yang krusial bagi lalu lintas minyak dunia dan menjadikannya sebagai senjata geoekonomi menghadapi lawan-lawan politiknya. Iran juga berbatasan dengan Irak, Turki, Afganistan, dan Pakistan sehingga menjadikannya sebagai aktor kunci dalam keamanan kawasan.


Sejauh ini AS sudah berhasil memegang kartu truf para penguasa Arab selain Iran. Negara-negara itu sudah berhasil diikat dengan perjanjian yang sejatinya sangat memalukan.


Mereka terang-terangan menormalisasi hubungan dengan pihak yang nyata-nyata telah melakukan kejahatan kemanusiaan, serta menimbulkan kerusakan di tanah wakaf umat Islam yang sebelumnya telah direbut dan dipertahankan dengan darah para syuhada dari zaman ke zaman.


Sementara itu dengan Iran, AS tampak selalu kewalahan karena meskipun sudah lama berada di orbit AS dengan menjadi satelitnya, para pemimpin Iran pasca-Revolusi 1979, tidak mudah ditundukkan untuk menjadi negara klien atau pelayan penuh bagi kepentingan Amerika baik di kawasan Timur Tengah maupun secara global.


Rakyat dan pemimpin Iran lebih memilih diembargo daripada tunduk pada keinginan AS. Bahkan, dengan adanya embargo, Iran mampu mengonsolidasi kekuatan internal dan mampu bertahan dengan mengembangkan teknologi domestik, persenjataan mandiri (termasuk drone), dan memperkuat jaringan dagang dengan negara-negara saingan Amerika seperti Cina dan Rusia.


Wajah Buruk Sistem Kapitalisme Global


Apa yang hari ini terjadi di Iran, sejatinya menampakkan wajah buruk sistem kepemimpinan kapitalisme global. AS sebagai pemegang posisi negara pertama terus berupaya menghegemoni dunia dengan menjalankan dan menyebarkan fikrah-nya, yakni ideologi kapitalisme yang berdasarkan akidah sekularisme dan liberalisme yang menekankan kebebasan individu, hak milik pribadi, dan akumulasi modal setinggi-tingginya. AS pun konsisten menjalankan satu-satunya metode penyebaran ideologi ini yakni melalui metode (thariqah) penjajahan.


Untuk menyukseskannya, AS terus mengembangkan berbagai strategi politik dan taktik atau cara-cara yang disesuaikan dengan kepentingan nasional dan kondisi negara sasaran. Misalnya memaksakan dominasi atau tekanan politik, termasuk embargo. Juga melalui tekanan ekonomi seperti dengan jebakan utang, rencana pembangunan, bantuan eksper, alih teknologi, dll.


Atau dengan serangan pemikiran dan budaya melalui pemaksaan kurikulum serta arus opini media seperti yang tampak dari masifnya pengarusan gagasan moderasi Islam, dialog antaragama, dll. di dunia Islam. Atau bahkan menggunakan kekuatan militer untuk menundukkan bangsa-bangsa yang ingin dikuasai untuk dieksploitasi, termasuk membangun pangkalan-pangkalan militer di negara jajahannya demi menjaga pengaruh politiknya di sana.


AS dengan lembaga-lembaga internasional buatannya juga bisa dengan mudah mencari alasan untuk turut campur dalam berbagai urusan dalam negeri berbagai negara di dunia, termasuk mencampuri suksesi kepemimpinan sesuai dengan yang ia inginkan. Inilah yang pernah terjadi di negeri-negeri lainnya seperti Irak, Afganistan, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya. Berbagai operasi intelijen atau perang proksi dilakukan untuk menjatuhkan pemimpin yang tidak loyal dan menggantinya dengan mereka yang siap menjadi pecundang. Bahkan tanpa malu, AS bisa melakukan aksi preman seperti apa yang terjadi pada presiden Maduro di Venezuela dan sekarang di Iran.


Tidak heran jika kepemimpinan sekuler kapitalisme tampak sangat destruktif dan menimbulkan kekacauan di mana-mana. Di luar konsep ekonominya yang telah menyebabkan eksploitasi alam semesta, kesenjangan, dan ketidakadilan, ideologi kapitalisme justru telah mendorong negara-negara kuat untuk melegitimasi perbudakan dan penjajahan modern. Mereka lazim memanipulasi negara lain demi kepentingan nasionalnya atas nama penegakan nilai-nilai demokrasi sebagaimana salah satunya tecermin dalam perang AS-Zion*s terhadap Iran.



Masa Depan Umat Ada pada Kepemimpinan Islam


Berbeda dengan sistem kepemimpinan kapitalisme global, sistem kepemimpinan Islam justru datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan penghambaan kepada manusia lainnya menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt. Hal ini tampak dari tujuan sekaligus dampak dari berbagai futuhat/pembebasan wilayah yang dilakukan negara Islam Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. serta para khalifah setelahnya.


Tidak ada yang terjadi pada suatu wilayah yang di-futuhat melainkan tersebarnya keadilan, kesejahteraan, ketinggian moral, dan kemajuan. Tidak heran jika banyak rakyat negeri-negeri yang sebelumnya dikuasai Persia dan Romawi justru mendambakan hidup di bawah kepemimpinan Islam, dan turut membantu pasukan muslim untuk melawan rezim zalim yang selama ini berkuasa atas mereka.


Tidak heran pula jika banyak penduduk negeri yang dibuka oleh kekuasaan Islam justru menerima agama Islam. Mereka bahkan bersedia menjadi pembela Islam dan mendakwahkannya hingga agama ini tersebar luas ke seluruh alam dan selama belasan abad umat Islam pun dipersatukan dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islam.


Saat itu, berbagai bangsa dan ras umat Islam mampu tampil sebagai umat yang satu dan sebaik-baik umat. Mereka menjadi pemimpin peradaban dan menjadi pelopor kemajuan di berbagai bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan. Wibawa dan kepemimpinan mereka demikian kuat, karena mereka berpegang teguh pada akidah dan hukum-hukum Islam yang diterapkan di semua lini kehidupan. Tidak heran jika kehidupan entitas masyarakat Islam identik dengan terjaminnya kesejahteraan, keadilan, kemajuan, dan ketinggian moral.


Wajar jika catatan sejarah umat Islam dipenuhi kebaikan. Jika pun ada noda hitam pada beberapa bagian, semua itu dipahami sebagai manusiawinya sistem Islam yang memungkinkan terjadinya salah penerapan. Yang pasti bukan hanya umat Islam yang merasakan perlindungan dan penjagaan sistem Islam. Umat-umat lainnya pun merasakan keindahan hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam.


Sayang, sejak Barat berhasil meruntuhkan Khilafah melalui proses yang sangat panjang, umat Islam terpecah belah di bawah banyak kepemimpinan. Para penguasa mereka pun rela menjadi antek penjajah dibandingkan berjuang keras mengembalikan kemuliaan umat sebagaimana para pendahulunya. Bahkan, puncak kebodohan mereka ditunjukkan saat mereka berani menukar jutaan nyawa penduduk Palestina dan menyerahkan tanah yang dulu direbut dan dipertahankan oleh darah para syuhada dengan kursi panas kekuasaan yang sejatinya tidak berharga.


Dinasti kekuasaan mereka memang masih tegak hingga sekarang. Namun, kehormatan mereka sejatinya sudah masuk dalam jurang yang paling dalam. Akan sulit bagi umat untuk berharap mengembalikan kebangkitan Islam kepada kepemimpinan mereka, yakni para penguasa muslim yang sudah rela memilih menjadi kacung Amerika dan mendukung penjajahan pada sesamanya.


Khatimah


Sungguh apa yang sedang terjadi di Iran telah memberi pelajaran besar, bahwa tidak ada kemuliaan bagi umat melainkan hanya dengan berpegang teguh pada tali agama Islam. Allah Taala telah memerintahkan, “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Surah Ali-Imran Ayat 103).


Umat Islam tidak perlu berharap pada para penguasa muslim yang sudah menggadaikan akhiratnya demi keridaan Amerika. Umat Islam harus punya agenda sendiri untuk mengembalikan kemuliaan dengan menegakkan kepemimpinan Islam. Mereka tidak boleh terjebak lagi oleh makar musuh yang menginginkan keburukan, termasuk termakan oleh isu sektarian yang diembus-embuskan, dan perbedaan pemahaman yang sejatinya menjadi keniscayaan.


Kita boleh berbeda pemahaman dan keyakinan dalam berbagai perkara cabang. Namun, kita tidak boleh meninggalkan kenyataan bahwa kita hidup pada akhir zaman yang sama-sama punya tugas menjemput janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa kembalinya Khilafah Rasyidah yang tegak di atas metode kenabian. 

Komentar