#CatatanRedaksi — Ramadan segera berlalu dalam hitungan hari. Bulan yang seharusnya menjadi madrasah ketaatan ini telah menempa kita untuk tunduk sepenuhnya pada perintah Allah Swt. Namun, di balik kekhusyukan ibadah individu, kita tidak boleh menutup mata bahwa umat Islam saat ini masih terbelenggu dalam sistem rusak—sebuah tatanan sekular yang memisahkan agama dari pengaturan urusan publik. Sistem inilah yang menjadi hulu dari segala persoalan, yaitu kemiskinan yang mencekik, ketidakadilan yang merajalela, hingga tercerai-berainya kekuatan kaum muslim.
Tragedi besar yang dialami dunia Islam hari ini, terutama peperangan dan genosida yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai belahan bumi, adalah bukti nyata betapa rapuhnya posisi umat ketika tidak memiliki pelindung (junnah). Di saat kita merasakan lapar dan haus karena perintah Allah, saudara-saudara kita merasakannya karena blokade dan penindasan musuh. Ini menunjukkan bahwa ketaatan di bulan Ramadan tahun ini harus berwujud pada kesadaran politik yang tinggi, bukan sekadar ritualitas tanpa makna.
Persoalan umat Islam menjadi pelik bukan karena kita kekurangan sumber daya atau keberanian, melainkan karena hilangnya kesatuan. Umat saat ini terkotak-kotak oleh sekat nasionalisme yang sempit, yang membuat satu negeri muslim diam seribu bahasa saat negeri muslim lainnya dibantai. Padahal, Islam telah mengikat kita dalam Ukhuwah Islamiah yang melintasi batas geografis dan suku bangsa.
Oleh karena itu, momentum Ramadan dan Syawal ini harus menjadi titik balik untuk menyatukan umat dalam tiga aspek fundamental:
Kesatuan Pemikiran (Wihdatul Fikr): Menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya landasan dalam memandang seluruh persoalan hidup.
Kesatuan Perasaan (Wihdatul Masyair): Merasakan penderitaan muslim di Palestina, Sudan, dan tempat lainnya sebagai penderitaan kita sendiri, serta membenci segala bentuk aturan yang bertentangan dengan syariat.
Kesatuan Peraturan (Wihdatul Anzhima): Berjuang mengembalikan sistem Islam (Nizhamul Islam) yang kafah. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, hanya dengan penerapan hukum Allah secara menyeluruh, problematika umat manusia—bukan hanya muslim—dapat diselesaikan secara tuntas dan berkeadilan.
Ketaatan kita pada hukum puasa harus dilanjutkan dengan ketaatan pada hukum-hukum Allah dalam aspek ekonomi, sosial, hingga politik. Tanpa sistem yang diridai-Nya, penderitaan umat akan terus berulang setiap tahunnya. Mari jadikan kemenangan di hari yang fitri sebagai kemenangan kesadaran untuk kembali ke jalan nubuwah.
Segenap Redaksi mengucapkan: Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menguatkan langkah kita dalam perjuangan menegakkan kalimat-Nya di muka bumi.

Komentar
Posting Komentar