Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Allah Swt. menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan memberikan aturan kehidupan yang maha sempurna. Hal ini bertujuan agar manusia dapat menjalankan tugas penciptaannya di dunia ini sebagai seorang hamba dan menjadi umat terbaik (khoiru ummah), yang senantiasa berjalan dalam koridor hukum syariat Islam yag telah ditetapkan oleh Allah Swt. Sehingga manusia bisa mengubah dan menjaga kehidupan dengan suasana keimanan dan ketakwaan dan menghadirkan manusia-manusia yang memiliki adab dan ilmu. Karena dengan kedua hal inilah manusia akan mampu menyempurnakan tugas penciptaannya sebagai seorang hamba di dunia ini.
Allah Swt. berfirman, "Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah Al-Mujadilah Ayat 11)
Ayat di atas merupakan reward yang dberikan oleh Allah Swt. secara langsung mengangkat derajat orang-orang berilmu/memiliki ilmu baik di dunia maupun di akhirat. Tetapi dengan syarat ilmu yang melekat dalam diri orang yang berilmu harus dibarengi dengan keimanan yang memunculkan adab/akhlak yang baik. Karena ilmu dan adab akan menjadi mulia apabila membuat seseorang makin takut dan taat kepada Allah Swt.
Hal senada disampaikan dalam hadis Nabi saw., ”Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan yang tua, menyayangi yang muda, dan tidak mengenal hak orang alim di antara kami." (Hadis Riwayat Ahmad). Hadis ini menjelaskan bahwa tidak termasuk umat Rasulullah saw., seseorang yang tidak memuliakan orang alim/guru. Sebab, memuliakan guru merupakan bagian dari adab yang wajib dimiliki oleh setiap penuntut ilmu. Karena, dari gurulah kita bisa mendapatkan ilmu. Bahkan Imam Syafi’i tidak berani membalik halaman kitab/buku di depan Imam Malik, karena rasa hormat kepada sang guru. Adab menjadi hal terpenting yang wajib dimiliki oleh seorang penuntut ilmu dan Imam Malik berkata, ”Pelajarilah adab sebelum ilmu, adab seperempat ilmu.”
Pentingnya adab dimiliki oleh setiap muslim yang diwajibkan oleh Allah Swt. untuk menuntut ilmu. Agar ilmu yang dimilikinya memberikan keberkahan dan bermanfaat bagi umat yang lain.
Namun sayangnya, kini kita dihadapkan oleh sosok generasi muslim yang sangat jauh dari adab/bahkan tidak memiliki adab kepada guru. Entah sudah berapa banyak kasus siswa yang dengan berani memukul gurunya bahkan melaporkan gurunya kepada pihak yang berwajib, dikarenakan sang guru menegur siswa yang melakukan pelanggaran aturan sekolah. Dan akhir-akhir ini kita pun kembali dikejutkan dengan pola tingkah seorang siswa yang mengolok-olok seorang guru yang videonya tengah ramai beredar di media sosial. Anehnya, bukan hanya satu siswa yang melakukannya, tatkala video penghinaan terhadap guru mencuat maka bermunculan video-video yang serupa beredar di media sosial.
Miris rasanya melihat pola tingkah siswa yang tidak sedikit pun mereka memiliki rasa hormat/adab terhadap gurunya. Mereka lupa bahwa jasa sang guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sangat berperan besar bagi masa depan mereka. Tanpa kehadiran seorang guru, mustahil generasi bangsa ini bisa menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Pihak sekolah pun terkadang tidak memberikan sanksi tegas kepada siswa yang melakukan penghinaan terhadap guru, apalagi jika siswa tersebut adalah anak dari orang tua yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Justru sang guru yang harus dipidanakan, padahal ia hanya menjalankan tuganya sebagai pengajar dan pendidik untuk siswa-siswanya.
Kehadiran siswa yang tak beradab ini tentu tidak muncul begitu saja tanpa sebab. Sadarkah kita apa yang membuat para siswa menjadi sosok-sosok manusia yang tak beradab dan tak memiliki rasa hormat apalagi empati pada nasib guru mereka. Hal ini dikarenakan para siswa dididik oleh sistem pendidikan yang berbasis pemisahakan agama dalam kehidupan (sekularisme). Dalam sistem pendidikan ini, para siswa hanya diarahkan untuk mengejar nilai akademik di atas kertas nilai. Tetapi mereka dijauhkan dari pemahaman agama sehingga menghasilkan siswa yang bobrok secara moral bukan hanya kepada guru, melainkan juga mereka hidup dalam lingkaran bebas nilai—berbuat dan bersikap hanya untuk memenuhi hawa nafsu belaka.
Maka wajarlah, yang hadir dihadapkan kita adalah sosok-sosok generasi yang tidak bermoral dan melakukan hal-hal yang berbau amoral seperti pergaulan bebas, narkoba, LGBT, dan lain sebagainya. Walaupun terkadang mereka adalah generasi yang cerdas, tetapi ketiadaan adab dan iman dalam diri mereka sehingga ilmu yang mereka miliki hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.
Fakta ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kondisi ini harus segera diakihiri dan menyelamatkan nasib generasi yang kelak di tangan merekalah nasib negeri dan bangsa ini dipertaruhkan. Para generasi ini harus disadarkan dengan pemahaman Islam agar mereka kembali pada jalan yang benar sebagai seorang hamba yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka perbuat. Sehingga hal ini menjadi “warning” bagi para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dengan penanaman landasan akidah yang kokoh dalam keluarga dan menjadi tugas bagi para pengemban dakwah serta kaum muslimin untuk senantiasa menyerukan Islam kepada generasi agar mereka tidak terjerumus oleh pemikiran sesat sekularisme.
Berjuang mengembalikan mereka sebagai generasi khoiru ummah (generasi terbaik), yang senantiasa bersemangat menuntut ilmu dan menjadikan adab sebagai landasan dari ilmu yang mereka dapatkan. Serta menjadi iman dan takwa sebagai dorongan untuk terus menjadi generasi yang melakukan amar makruf nahi mungkar dalam setiap lini kehidupan, agar dapat mengubah kondisi yang rusak akibat sekularisme menjadi kondisi yang dibangun dengan suasana iman dalam interaksi di tengah generasi dan umat manusia. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar