Naili Rakhmi, S.E., M.E.: Sistem Fiat Money (Uang Kertas) Mengakibatkan Inflasi Terus Berulang



#SuaraMuslimah — Pelemahan rupiah yang menyentuh angka Rp17.225 per dolar AS di akhir April ini memicu kekhawatiran publik. Jika tren ini terus berlanjut, daya beli masyarakat dipastikan akan menjadi pihak yang paling terdampak. Terkait dengan hal tersebut tim Muslimah Jakarta Official berbincang dengan Ibu Naili Rakhmi, S.E., M.E. Kami sarikan berikut ini.


Q: Dengan adanya pelemahan rupiah tentu kebutuhan pokok masyarakat tidak terpenuhi. bagaimana menurut Ibu dengan hal ini?

A: Pelemahan rupiah memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, terutama rakyat kecil. Sejak 2014 sampai April 2026, rupiah sudah melemah 69,3% dan diprediksi masih akan melemah di triwulan kedua 2026 ini. Ketika nilai rupiah turun terhadap dolar AS, maka harga barang-barang impor ikut naik.

Ketergantungan kita yang tinggi terhadap komoditas impor terutama pangan dan bbm, makin memperlemah posisi rupiah. Kebutuhan kita akan gandum, kedelai, gula, daging sapi, dan bawang putih dipenuhi dari impor. Kebutuhan BBM dalam negeri, lebih dari 50% ditopang dari impor. Bila harga barang dan bbm naik, daya beli masyarakat akan melemah. 

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Februari 2026, porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi turun ke level 71,6% bahkan lebih rendah dari masa pandemi Covid. 

Turunnya nilai rupiah juga akan berdampak terhadap tingginya biaya bahan baku impor, yang akan mendorong perusahaan untuk mengurangi biaya dengan cara pengurangan karyawan. Artinya potensi PHK akan tinggi di saat rupiah melemah. 

Bila daya beli masyarakat turun, ditambah gelombang PHK, jumlah masyarakat miskin akan makin meningkat. Dampak berikutnya, kebutuhan pokok masyarakat akan makin sulit dipenuhi. 

Pelemahan rupiah menunjukkan bahwa sistem ekonomi hari ini sangat rapuh karena nilai mata uang tidak memiliki sandaran yang kuat. Nilai rupiah lebih banyak ditentukan oleh pasar global, spekulasi, arus modal asing, dan kebijakan negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Akibatnya, kehidupan rakyat Indonesia ikut terguncang hanya karena perubahan kebijakan ekonomi luar negeri.

Pemerintah perlu mengambil langkah kebijakan ekonomi yang tepat untuk mencegah kondisi ekonomi makin buruk. Pemerintah wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, seperti pangan, sandang, dan keamanan sehingga tidak boleh membiarkan mekanisme pasar sepenuhnya menentukan nasib rakyat. 

 

Q: Ekonomi nasional makin anjlok, menurut Ibu apa yang salah dari peristiwa ini?

A: Ketergantungan pada komoditas impor menunjukkan bahwa kita belum punya kemandirian dalam pangan dan bahan bakar. Pada dasarnya, masalah utamanya bukan hanya sekadar karena rupiah melemah, melainkan karena struktur ekonomi Indonesia memang lemah dan bergantung pada sistem kapitalisme global.

Ada beberapa akar persoalan, di antaranya yaitu pertama, ketergantungan pada dolar AS. Perdagangan internasional dunia masih didominasi dolar. Akibatnya, ketika dolar menguat, banyak negara berkembang termasuk Indonesia ikut terguncang. Ini menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi Indonesia sebenarnya sangat terbatas. Ketergantungan sistem mata uang pada dolar menciptakan ketidakstabilan mata uang kita. 

Kedua, sistem uang fiat (uang kertas tanpa sandaran emas/perak). Nilai rupiah saat ini tidak disandarkan pada emas atau perak, tetapi hanya berdasarkan kepercayaan pasar. Karena itu nilainya mudah naik turun. Ketika investor asing menarik modalnya atau terjadi gejolak global, rupiah langsung tertekan.

Ketiga, ekonomi berbasis utang dan riba. Sistem ekonomi kapitalisme bertumpu pada utang berbunga. Negara terus menambah utang untuk menutup defisit, sementara bunga utang terus membebani APBN. Akibatnya, negara makin tergantung pada lembaga keuangan global dan investor asing.

Keempat, penguasaan sumber daya oleh korporasi. Banyak kekayaan alam strategis justru dikuasai swasta atau asing. Negara kehilangan kendali terhadap sumber-sumber ekonomi penting. Akibatnya, ketika terjadi krisis, negara tidak memiliki kekuatan ekonomi yang cukup untuk melindungi rakyat.


Q: Pendapat Ibu terkait fakta pelemahan rupiah ini, apakah Islam bisa menyelesaikannya dengan tuntas?

A: Islam tidak hanya memberi solusi tambal sulam, tetapi menawarkan perubahan mendasar terhadap sistem ekonomi. Dalam Islam, sistem mata uangnya berbasis emas dan perak, di mana emas dan perak memiliki nilai instrinsik sehingga lebih stabil dan tidak mudah dimainkan oleh spekulasi pasar.

Karena nilainya berbasis emas dan perak, maka uang tidak bisa dicetak sesuka hati sebagaimana sistem fiat hari ini. Inflasi besar-besaran dapat ditekan karena jumlah uang beredar terikat dengan cadangan emas dan perak.

Selain itu, Islam juga mengharamkan riba dan sistem utang berbunga, melarang spekulasi dan perjudian finansial, mengatur distribusi kekayaan agar tidak hanya berputar di kalangan elite, menjadikan negara sebagai pengurus rakyat, bukan sekadar regulator pasar, dan juga mengelola sumber daya alam untuk kepentingan umum.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah memiliki stabilitas ekonomi yang sangat panjang. Bahkan dinar emas dan dirham perak digunakan lintas wilayah selama berabad-abad dengan nilai yang relatif stabil.

Namun perlu dipahami, Islam tidak cukup diterapkan sebagian-sebagian. Jika hanya mengganti simbol tanpa mengubah sistem politik dan ekonominya, maka masalah tidak akan selesai. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh: perubahan mendasar berupa sistem ekonomi dan politik Islam

 

Q: Kemudian apa yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin dengan melihat kenyataan demikian?

A:  Umat perlu memahami bahwa krisis ekonomi yang salah satunya ditandai pelemahan rupiah, ini bukanlah sekadar kesalahan teknis, tetapi berkaitan dengan sistem yang diterapkan. Selama sistem kapitalisme tetap digunakan, maka krisis akan terus berulang.

Islam bukan hanya agama ibadah ritual, melainkan juga memiliki aturan ekonomi, politik, dan sosial. Karena itu, kaum muslimin perlu memperjuangkan hadirnya tata kelola ekonomi yang sesuai syariat agar keadilan benar-benar terwujud. Selama aturan hidup masih tunduk pada sistem kapitalisme global, maka umat akan terus berada dalam lingkaran krisis: inflasi, utang, kemiskinan, dan ketimpangan yang terus berulang.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan hanya persoalan angka kurs, tetapi cerminan rapuhnya sistem ekonomi hari ini. Dan Islam menawarkan bukan sekadar solusi sementara, melainkan perubahan mendasar yang bertujuan menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.


Komentar