Antara Qada dan Kewaspadaan


Siti Rima Sarinah


#MutiaraAl-Qur'an — Setiap manusia yang diciptakan oleh Allah Swt. kelak akan kembali kepada-Nya. Kematian sebuah rahasia yang tak satu manusia pun mengetahui kapan dan dalam kondisi seperti apa ia akan dipanggil kembali ke sisi Allah Swt. Terkadang ada orang yang menderita sakit sebelum dipanggil untuk kembali kepada-Nya. Tetapi, banyak juga kasus kecelakaan yang terjadi menjadi sebab berpulangnya seseorang bersamaan datangnya ajal kepadanya. Sebab, kematian merupakan wilayah yang tidak dikuasai oleh manusia, sehingga tatkala waktunya telah tiba tak satu pun yang bisa memundurkan atau memajukan waktunya. 

Allah Swt. berfirman, ”Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (Surah Al-Maidah Ayat 32)

Kecelakaan bisa dianggap sebagai sebuah musibah yang menimpa manusia. Namun, kecelakaan yang terjadi adakalanya diakibatkan kurangnya kewaspadaan/ kelalaian manusia. Peristiwa tragis tabrakan kereta api di perlintasan yang baru terjadi dengan menewaskan 15 orang dan melukai 80 orang, tidak bisa dianggap hanya sebuah musibah. Kecelakaan ini terjadi diakibatkan karena kelalaian manusia yang diberikan amanah untuk menjaga keselamatan publik. Pasalnya, kecelakaan kereta api ini yang menelan banyak korban bukan kali ini saja terjadi dan bahkan menjadi peristiwa yang berulang. 

Seharusnya setiap kecelakaan yang terjadi menjadi perhatian dan perenungan serta segera mengambil langkah antisipasi agar tragedi serupa tidak terulang kembali. Faktanya, perlintasan liar, kurangnya penjagaan dan pengawasan, menjadi bukti tidak adanya upaya untuk memberikan jaminan keselamatan publik yang diberikan oleh negara. Padahal, kereta api merupakan transportasi publik yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk menjalankan rutinitas keseharian mereka. 

Pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah negara. Karena dalam Islam, negara diamanahkan untuk menjaga nyawa manusia dengan menerapkan seperangkat aturan yang tegas dan memberikan sanksi kepada siapa pun yang melanggar aturan tersebut. Apalagi jika pelanggaran tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Sebab, dalam Islam betapa berharganya sebuah nyawa manusia. Bukan hanya nyawa manusia yang dijaga, bahkan khalifah Umar bin Khattab sangat memperhatikan kualitas jalan agar tidak ada satu pun kaki keledai yang terperosok. 

Tidak dimungkiri, saat ini keselamatan tidak lagi dianggap sebagai hajat hidup rakyat yang wajib difasilitasi dan dijamin oleh negara. Sistem Kapitalisme menjadikan keselamatan telah bergeser menjadi ajang bisnis, yakni keselamatan akan diperoleh dengan harga yang harus dibayarkan. Sungguh kita bisa melihat, bagaimana kebijakan efisiensi biaya untuk infrastruktur keselamatan dianggap sangat mahal dan tidak menjadi prioritas utama bagi negara. Pada akhirnya, yang menjadi perhitungan adalah  untung dan rugi, bukan memberikan jaminan perlindungan keselamatan dan keamnan untuk rakyat.

Inilah bukti kelalaian manusia (negara) yang diberikan amanah untuk menjamin keselamatan jiwa rakyat. Jika saja aturan yang ditetapkan bisa ditegakkan dan tidak dilanggar maka kecelakaan bisa diantisipasi. Karena kereta punya rel dan akan berjalan sesuai rel yang telah disediakan. Begitu pula dengan manusia yang beriman kepada qada bukan berarti pasrah dan tidak melakukan ikhitiar/kewaspadaan agar terhindar dari musibah.

Dengan demikian, setiap kecelakaan tidak bisa dianggap musibah, karena jika musibah terjadi akibat kelalaian penguasa, maka ia akan bertanggung jawab atas hilangnya banyak nyawa karena kelalaiannya tersebut. Sosok penguasa dalam Islamlah yang sangat takut akan hisab di akhirat kelak, sehingga tatkala ada jalan yang rusak segera untuk dibenahi. Hari ini, rel tanpa pengaman juga akan ditanya di akhirat. Qada Allah itu pasti, tetapi meningkatkan kewaspadaan sebagai ikhtiar agar tak satu pun manusia yang mengalami kecelakaan di jalan menjadi tanggung jawab negara.

Alhasil, tatkala kita terus dipimpin oleh penguasa yang hanya memikirkan untung dan rugi, maka akan makin banyak nyawa yang melayang. Sehingga hal ini seharusnya menyadarkan seluruh umat Islam bahwa tanpa adanya perlindungan yang berasal dari negara yang berasaskan Islam, maka kezaliman akan terus berjaya dimuka bumi ini. Oleh karena itu, terus menyerukan dan mendakwahkan Islam sebagai problem solving umat manusia, menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam dan pengemban dakwah. Agar banyak nyawa-nyawa yang bisa terselamatkan dan kita dipimpin oleh penguasa yang takut akan hisab di akhirat jika lalai dalam menjalankan amanahnya sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Wallahualam. 





Komentar