Bekasi Darurat Gengster: Islam Menawarkan Solusi Komprehensif

 



Hessy Elviyah



#Bekasi — Malam semestinya identik dengan ketenangan dan waktu istirahat. Namun di Bekasi, malam menjelma menjadi ruang yang mencekam. Sebagai penyangga ibu kota, denyut kota Bekasi tidak pernah padam. Siang dan malam sama-sama riuh, sekaligus rawan.



Tawuran remaja, ayunan celurit, hingga begal di jalanan kian sering terjadi dan memenuhi pemberitaan, terutama di media sosial. Ini terjadi berulang, sehingga ruang aman di Bekasi makin sempit dan ketenangan masyarakat kian berkurang.



Bahkan baru-baru ini, tepatnya pada Senin (04-05-2026), seorang pengendara motor menjadi korban pembegalan. Korban ditendang hingga tersungkur lalu kendaraanya dibawa kabur oleh pelaku. Peristiwa ini terjadi di Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat.(Posnews.co.id, 05/05/2026)



Beberapa waktu lalu (23/04/2026), infobekasi.coo dalam akun instagramnya mengabarkan aksi tawuran pelajar di jalan Cikunir, tepatnya di jalur samping Tol Cikunir yang mengarah ke kawasan Galaxy. Sejumlah pelajar terlihat saling serang dan membawa benda-benda tajam. Aksi ini menimbulkan keresahan bagi warga sekitar dan pengguna jalan.



Bukan Kenakalan Biasa



Fenomena ini tidak bisa hanya dipahami sebagai kasus kenakalan atau pun sekadar kriminalitas jalanan. Ada banyak masalah yang lebih kompleks. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan dalam membentuk kepribadian generasi muda di antaranya: lemahnya kontrol sosial, rapuhnya pembinaan moral, serta mudahnya akses terhadap kekerasan sehingga generasi muda mudah meniru. Di sisi lain, faktor ekonomi, lingkungan dan pergaulan bebas makin memperparah kondisi, menjadikan kekerasan seolah hal yang biasa.



Lebih jauh, persoalan ini berakar dari arah sistem yang sejak awal tidak menjadikan agama sebagai fondasi dalam mengatur kehidupan (sekularisme). Alhasil, ukuran benar dan salah menjadi kabur. Cenderung lebih ditentukan oleh lingkungan dan kepentingan sesaat dari pada standar agama.



Dalam situasi seperti ini, negara cenderung hadir setelah kejadian, bukan membangun pencegahan sejak awal. Respon yang muncul lebih kepada seremonial dan reaktif, seperti patroli ditingkatkan, pelaku ditangkap, serta kampanye "Tidak Tawuran" digencarkan. Bahkan pada Senin, 4 Mei 2026, aparat menggelar sosialisasi dan pembinaan kepada siswa SMK di Bekasi Barat sebagai upaya pencegahan. (Seputarindonesia.co.id, 04/05/2026)



Namun pertanyaan besarnya, mengapa jalanan tetap tidak aman meski langkah-langkah ini terus dilakukan? Jawabannya terletak pada kegagalan negara mengelola keamanan secara mendasar. Kegagalan ini tampak dari cara negara memandang keamanan jalanan sebatas urusan penindakan, bukan penjagaan yang optimal dan menyeluruh. Jalanan tetap berada pada pola yang sama yakni rawan di jam-jam tertentu, pengawasan lemah, serta sistem pencegahan minim. Akibatnya, rasa aman sulit dirasakan secara utuh dan hanya muncul sesaat ketika aparat turun ke lapangan.



Perspektif Islam



Dalam perspektif Islam, kondisi seperti ini tidak dibiarkan. Negara berperan sebagai ra'in yang bertanggung jawab penuh terhadap kemananan rakyatnya. Penjagaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembentukan individu yang berlandaskan ketakwaan, diperketat dengan peran aktif masyarakat dalam saling mengingatkan, serta diikuti pengelolaan ruang publik yang tertata dan terjaga keamanannya.



Di sisi lain, sistem pendidikan dalam Islam tidak hanya mengejar kecerdasan, tetapi membentuk pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam. Media dan lingkungan juga dijaga agar tidak menjadi sumber kerusakan. Sementara itu, penegakan hukum dilakukan secara tegas dan adil sehingga memberikan efek jera dan mencegah kejahatan berulang.



Dengan demikian, keamanan dibangun dari awal, bukan hanya pada saat terjadi sesuatu. Keamanan dibangun dari sistem yang kokoh dan berkelanjutan. Jalanan tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan, melainkan menjadi ruang yang aman bagi setiap individu. Inilah solusi komprehensif yang ditawarkan Islam, menyelesaikan persoalan hingga ke akarnya, bukan sekedar meredam gejalanya.


Komentar