Dehumanisasi Warga Pal3stin4 Kian Memprihatinkan



Ruruh Hapsari 


#Wacana — Beberapa waktu belakangan perhatian kaum muslimin tentang Palestina dan Gaza agak teralihkan dengan panasnya kawasan Timur Tengah. Bukan saja terkait dengan perang yang ada, melainkan juga dengan naiknya barang dan jasa imbas dari berkurangnya pasokan BBM. Padahal dehumanisasi Z*0nis tidak berhenti di G4za.

Dari Sindonews dikabarkan bahwa perluasan pendudukan di wilayah jalur Gaza oleh Israel saat ini hingga 59 persen. Tidak berhenti di sana, mereka pun juga tengah mempersiapkan untuk memulai kembali aksi mengerikan, yaitu genosida (04/05/2026).

Hingga saat ini sebanyak 72.000 orang telah syahid, 172.000 orang terluka, dan 90 persen infrastruktur sipil hancur. Selain itu dari Serikat Jurnalis Palestina mengabarkan bahwa pada 2026 saja tercatat bahwa Z*0nis telah melakukan 300 pelanggaran. Sedangkan dari Oktober 2023 pelanggaran yang dilakukan Z*0nis lebih dari 4000.

Di antara korbannya adalah dari kalangan jurnalis. Meningkatnya penyerangan pada para pekerja media memang sengaja telah mereka targetkan. Jumlah jurnalis yang telah tewas sejumlah 262 termasuk 261 di jalur Gaza. Belum lagi dari kalangan jurnalis yang cedera, penangkapan, penahanan, pencegahan peliputan juga serangan terhadap jurnalis.

Anak-anak Palestina pun menjadi tujuan serangan meraka. Tercatat oleh PBB bahwa anak-anak tersebut menjadi target penembakan, penikaman juga pemukulan. Tidak hanya terbunuh, ratusan dari mereka terluka. Diketahui bahwa dari total korban 35 persen nya adalah anak-anak dan satu dari 1000 anak-anak tersebut telah kehilangan anggota tubuhnya selama genosida berlangsung. 

Anak-anak Palestina otomatis tidak lagi aman untuk berjalan menuju sekolah. PBB telah mencatat bahwa sepanjang 2026 saja terdapat 99 insiden terkait pendidikan. Gedung sekolah dihancurkan, pasukan juga telah membatasi akses menuju sekolah belum lagi anak-anak yang dibunuh, terluka hingga ditahan (idntimes, 13/05/2026)

Yang menyedihkan lagi dikabarkan bahwa warga Palestina dipaksa untuk membongkar makam keluarga mereka. Dilaporkan dari Middle East Eye bahwa sebuah keluarga terpaksa memindahkan makam keluarga mereka karena dianggap lokasi pemakaman dekat dengan kawasan pemukiman Israel padahal mereka telah mengantongi izin untuk memakamkan di area tersebut (suara.com, 13/05/2026). 


Mengkhianati Perjanjian

Walau korban jiwa, luka maupun hancurnya fasilitas selalu meningkat, tapi serangan yang dilakukan oleh Z*0nis tidak pernah berhenti pun di saat gencatan senjata. Dilansir oleh Pikiran Rakyat bahwa pasukan Israhell menembak dengan senjata altileri dan senjata berat dengan menargetkan sebagian jalur G4za bagian selatan dan timur termasuk sekitar kamp pengungsi (17/05/2026).

Yang menjadi target sasaran adalah kawasan Khan Younis, wilayah timur kamp pengungsi Al-Bureij di G4za. Bukan hanya itu, dari laut pun dengan kapal-kapalnya Israhell menembaki garis pantai G4za City. Tentu semua hal ini menimbulkan kepanikan termasuk korban luka. 

Melihat tragedi kemanusiaan yang demikian mencekam, sangat disayangkan dunia Islam tidak ada yang bergerak membantu. Justru sekelompok aktivis kemanusiaan dari berbagai negara yang dikenal dengan Global Tsumud Flotilla dengan gagahnya mereka menerobos masuk ke area blokade Israhell serta membawa bantuan semampu mereka. 

Namun, sayang misi kemanusiaan yang telah berkali-kali gagal masuk ke wilayah konflik ini sebagian telah ditangkap oleh pasukan Israhell dan sembilan di antaranya adalah WNI, yang empat di antaranya adalah jurnalis (pikiran-rakyat.com, 19/05/2026). Padahal jelas para aktivis tidak membawa senjata.

Sementara itu, Pal3stina4 dikelilingi oleh negeri Islam yang hingga saat ini bantuan sama sekali tidak datang dari mereka. Dunia Islam yang terdiri dari lima puluh negara lebih hanya bisa diam melihat tiap hari masyarakat Pal3stin4 dibombardir oleh entitas Yahudi. 

Bukannya membantu justru negeri Islam tersebut malah tergabung dengan Board of Peace buatan Amerika dan Israhell ada di dalamnya. Alih-alih berbuat kedamaian di kawasan justru secara tidak langsung mereka melanggengkan genosida.


Rasa Ukhuwah Lenyap

Tidak ada sedikitpun upaya negeri Islam untuk membebaskan ataupun mengirim pasukan melawan entitas Yahudi di sana, ataupun membuka gerbang Rafah agar masyarakat Pal3stin4 bisa masuk dan bebas dari kungkungan prajurit. Hal tersebut dikarenakan nasionalisme sempit telah mengisi kepala para penguasa dan menganggap tragedi kemanusiaan itu murni urusan luar negeri mereka. Padahal sesama muslim itu bersaudara tanpa disekat oleh garis imajiner berupa nasionalisme. 

Masyarakat Pal3stin4 bukan hanya butuh makanan ataupun pakaian, melainkan lebih dari itu, karena permasalahan utamanya adalah adanya pendudukan dan genosida, maka hal itulah yang harus diberantas. Sehingga butuh kekuatan senjata untuk mengusir tantara Israhell dari bumi Pal3stin4.

Sedangkan yang memiliki kekuatan militer hanyalah negara dan saat ini semua negeri Islam tidak berkutik. Sehingga butuh kekuatan baru yang dengannya kaum muslimin bersatu dan dipimpin oleh penguasa yang tidak takut dengan kekuatan Amerika dan memberantas semua kekufuran di dunia. Itulah negara Khilafah yang telah dijanjikan oleh Allah Swt. seperti saat pertama Rasulullah saw. membangun sebuah negara di Madinah dan dilanjutkan oleh Khulafaurasyidin kemudian khalifah lainnya hingga berabad lamanya.

Di bawah kekuasaan khalifah sang pemimpin negara, maka komando jihad dikumandangkan untuk mengusir entitas Yahudi laknatullah beserta para antek-anteknya dan membebaskan Pal3stin4 kembali pada haribaan Islam. Wallahualam. 


Komentar