Freestyle Ekstrem dan Ancaman Konten Digital bagi Anak


 

Annisa Suci


#Wacana — Perkembangan media sosial membuat berbagai tren menyebar sangat cepat. Dalam hitungan jam, sebuah video bisa ditonton jutaan orang dan ditiru di berbagai tempat. Namun, tidak semua tren membawa dampak positif. Sebagian justru berbahaya, terutama bagi anak-anak yang belum mampu memahami resiko dari tindakan yang mereka lihat di layar.

Belakangan ini publik dibuat prihatin dengan maraknya aksi freestyle ekstrem yang viral di media sosial. Fenomena tersebut menjadi sorotan setelah dua anak usia TK dan SD di Lombok Timur meninggal dunia akibat cedera leher usai menirukan gerakan berbahaya yang mereka lihat dari media sosial dan game online populer seperti Garena Free Fire. Peristiwa ini menunjukkan bahwa konten digital tidak selalu aman bagi tumbuh kembang anak.

Kasus tersebut memicu kekhawatiran dari banyak pihak. Kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget dan media sosial. Anak-anak pada dasarnya belum memiliki kemampuan berpikir yang matang sehingga mereka cenderung mudah meniru sesuatu yang dianggap menarik tanpa memahami konsekuensi jangka panjangnya.

Di usia dini, rasa penasaran anak memang sangat tinggi. Mereka juga ingin diterima dalam lingkungan pertemanan dan dianggap keren oleh teman sebaya. Karena itu, tren viral sering kali langsung diikuti tanpa mempertimbangkan bahaya yang mungkin terjadi. Apa yang terlihat seru di media sosial mudah dianggap aman untuk dipraktikkan di dunia nyata.

Sayangnya, kondisi ini diperparah dengan minimnya pendampingan penggunaan gadget. Masih banyak anak yang mengakses internet secara bebas tanpa pengawasan yang cukup. Di sisi lain, lingkungan sekitar juga sering kali kurang memberi kontrol terhadap jenis tontonan yang dikonsumsi anak. Akibatnya, anak-anak tumbuh di tengah arus informasi digital yang hampir tanpa filter.

Permasalahan lain muncul dari lemahnya pembatasan terhadap konten berbahaya di ruang digital. Berbagai tayangan yang minim edukasi bahkan berpotensi merusak masih mudah ditemukan di banyak platform. Sistem hari ini dinilai lebih mengutamakan kebebasan individu dan keuntungan ekonomi dibanding perlindungan moral generasi muda. Selama sebuah konten menghasilkan popularitas dan traffic tinggi, konten tersebut tetap dibiarkan beredar meskipun berdampak buruk bagi anak-anak.

Akibatnya, media digital lebih banyak dipenuhi budaya permisif dan hiburan tanpa batas dibanding konten yang mendidik. Anak-anak akhirnya tumbuh dalam lingkungan yang kurang sehat secara moral maupun mental.

Dalam pandangan Islam, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga masyarakat dan negara. Ketiganya memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi. Orang tua bertugas menanamkan akidah dan membentuk kepribadian Islam sejak dini. Masyarakat berperan menjaga lingkungan sosial agar tidak menormalisasi penyimpangan. Sementara negara berkewajiban melindungi rakyat, termasuk menjaga akal dan moral generasi muda.

Islam memandang anak-anak sebagai aset peradaban yang harus dijaga dengan serius. Karena belum balig dan belum sempurna akalnya, anak membutuhkan pendampingan agar tidak salah arah dalam menyerap informasi maupun meniru perilaku di sekitarnya. Oleh sebab itu, orang tua memiliki kewajiban untuk membimbing sekaligus melindungi mereka dari berbagai hal yang membahayakan.

Dalam sistem Islam, negara juga memiliki tanggung jawab mengawasi media dan informasi publik. Konten yang merusak moral atau membahayakan generasi tidak akan dibiarkan tersebar bebas. Sebaliknya, negara akan memperbanyak konten edukatif yang mendukung pembentukan karakter dan kecerdasan generasi muda.

Selain itu, pendidikan dan media akan dibangun berlandaskan akidah Islam sehingga melahirkan generasi yang beriman, cerdas, kritis, serta memiliki kepribadian Islam. Dengan penerapan nilai Islam secara menyeluruh, generasi tidak hanya terlindungi dari dampak negatif dunia digital, tetapi juga dipersiapkan menjadi generasi pembangun peradaban yang mulia.


Komentar