Ketika Anak Tak Lagi Aman, dari Rumah hingga Sekolah


 

Lulu Nugroho



#Bekasi — Hari ini, kehidupan generasi diguncang kerusakan yang luar biasa dahsyat. Nyaris tak ada tempat aman bagi anak. Tidak di rumah, tidak pula di sekolah. Mereka menjadi sasaran beragam kebiadaban, bahkan oleh orang-orang terdekat yang seharusnya melindungi. Dalam sistem kehidupan saat ini, sepertinya anak-anak terpaksa tumbuh sendirian, menghadapi dunia yang sangat keras.

Dua kasus yang terjadi di Bekasi pada akhir April 2026, menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap anak. Pertama, seorang balita perempuan berusia 2 tahun 8 bulan, di Jatiasih, yang menderita luka serius akibat  kekerasan seksual dan fisik, yang diduga kuat dilakukan oleh ayah tirinya. Kasus ini menambah panjang daftar  pencabulan terhadap anak yang dilakukan orang terdekat, yaitu keluarga. (Go.bekasi.id, 21/04/2026)

Kasus lainnya adalah perundungan yang terjadi di sekolah, masih terus berkelindan dalam kehidupan. Hingga awal Mei 2026, kasus-kasus ini menjadi perhatian utama di Bekasi. Tampak betapa sulitnya anak-anak memperoleh ruang aman bagi tumbuh kembangnya. Mereka rentan menjadi obyek kekerasan. (Kompas.com, 23/04/2026)

Sekularisme dengan ide kebebasannya telah menabrak rambu syariat. Tanpa panduan agama, manusia tega menyakiti anak kecil untuk mengejar kepuasan materi atau jasadiah. Dalam naungan kapitalisme sekuler, anak tak lagi mempunyai tempat berlindung. Di rumah ia bisa celaka, di sekolah ia mendapat perundungan. Bahkan negara dengan seperangkat aturannya, masih tak cukup kuat melindungi manusia-manusia kecil ini. 

Kehidupan yang jauh dari tuntunan Allah Swt. ternyata menyesatkan dan mengakibatkan kerusakan yang banyak. Ditambah lagi budaya permisif telah menjangkiti masyarakat secara akut, membuat  masyarakat diam tak bergeming, tak peduli saat hukum Allah diabaikan, hingga seakan  membiarkan kezaliman terus berlangsung. 

Di samping itu negara pun memberi solusi yang bersifat reaktif, hanya mengobati gejala, tapi tidak menyentuh akar permasalahannya. Anak luka akibat penganiayaan akan dibawa ke rumah sakit dan diberi terapi psikologis, tetapi tidak dihentikan penyebab sakitnya atau dicegah secara komprehensif. Slogan 'Setop Bullying' digencarkan, seakan menunjukkan negara telah hadir. Padahal, petaka belum usai, bahkan  terus mengincar anak lainnya, menyasar korban baru. 


Solusi Islam

Dalam Islam, anak bukan sekadar anggota kecil dalam keluarga, yang bisa diabaikan keberadaannya. Namun, ia adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Sebagaimana orang dewasa, anak pun memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Ketika terjadi kelalaian dalam satu aspek kebutuhan asasiahnya, maka perlu perbaikan menyeluruh sebagaimana syariat mengaturnya.

Rasulullah ﷺ mencontohkan bersikap lembut kepada anak-anak. Beliau mencium cucunya, memanjangkan sujud karena cucunya naik ke punggung beliau. Beliau ﷺ tidak mempermalukan anak di depan umum. Beliau ﷺ juga menyapa anak-anak, bercanda dengan mereka, mendengarkan, mengasihi, bahkan memberi salam kepada anak kecil. Hal ini tampak sederhana, tetapi sangat besar pengaruhnya. Sebab anak yang dihargai akan tumbuh lebih sehat jiwanya. Islam ingin anak tumbuh dengan rasa aman, harga diri, ikatan keluarga kuat, teladan yang baik, dan keyakinan bahwa dirinya berharga di hadapan Allah. 

Islam pun menanamkan bahwa kekuatan bukan berarti menindas. Oleh sebab itu, anak tidak boleh tumbuh dalam suasana  yang penuh hinaan, bentakan, atau kekerasan fisik. Orang tua, masyarakat, dan negara, diperintahkan menjadi pelindung, bukan sumber ketakutan. Ketika rumah dan sekolah berubah menjadi tempat ancaman, maka fungsi keduanya telah rusak. Sebab sejatinya rumah adalah tempat pertama pembentukan kepribadian anak, melalui penjagaan dan teladan dari kedua orang tua. Sementara sekolah melengkapinya dengan penguatan pola pikir dan pola sikap Islam.

Karena itu dalam Islam, terdapat kultur yang khas, yaitu masyarakat yang turut andil menjaga sistem sosial, melalui aktivitas amar makruf nahi mungkar. Tetangga, kerabat, guru, dan masyarakat memiliki kewajiban moral untuk peduli. Sebab perlindungan anak tidak cukup diserahkan pada kesadaran individu saja, akan tetapi ada tanggung jawab berlapis yang dibebankan kepada orang tua, sekolah, masyarakat, dan juga negara. 

Perlu kesadaran orang tua bahwa anak adalah amanah. Hak dan tanggung jawab setiap peran di dalam keluarga telah diatur di dalam Islam dan kelak harus dipertanggungjawabkan. Sistem pendidikan pun dibangun di atas akidah. Para guru menjadi pembentuk karakter, bukan sekadar pentransfer ilmu. Maka ketika hari ini banyak sekolah hanya mengejar nilai, dan berlomba menjadi yang terbaik, tanpa disadari membuat para siswa saling menjatuhkan dan terjadi kompetisi yang tak sehat. Senioritas menjadi pongah  merundung pelajar yang lemah. 

Sejatinya perundungan bertentangan dengan akhlak Islam. Al-Qur’an melarang menyakiti dan memanggil orang dengan gelar buruk. Bahkan tidak boleh ada normalisasi perundungan, apalagi menganggapnya hanya sebagai kenakalan biasa, karena dampaknya bisa menghancurkan jiwa korban selama bertahun-tahun. Saat anak berada dalam tekanan, maka ia dapat kehilangan harapan dan kepercayaan dirinya. 

Dalam Islam, setiap individu menyandarkan aktivitasnya kepada Allah. Setiap diri  tertanam rasa takut bermaksiat kepada Allah. Maka menghina teman atau menganiaya, akan dianggap sebagai pelanggaran serius. Sejak kecil anak-anak diberi pemahaman tentang Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir, dibiasakan taat kepada syariat, menghormati yang lemah, mengasihi dan membantu sesama, menjaga lisan, dan memahami bahwa menyakiti orang lain adalah dosa.

Sedangkan negara sebagai institusi yang menerapkan syariat secara kafah akan selalu hadir membersamai pertumbuhan anak. Sebab negara adalah pengurus rakyat (ra'in), menjamin kebutuhan dasar keluarga, mencegah budaya rusak menyebar baik dari media sosial maupun interaksi langsung di tengah kehidupan, serta melindungi dari berbagai ancaman. Negara juga menghukum pelaku kezaliman melalui sistem persanksian yang bersifat penebus (jawabir) dan pencegah (zawajir).

Maka dalam kehidupan Islam akan lahir keluarga yang penuh kasih, sekolah yang mengajarkan ilmu dan menanamkan akhlak yang baik,  masyarakat yang peduli, media yang bersih, dan negara yang melindungi. Karena dalam Islam, anak merupakan mutiara umat yang akan menghiasi dunia dengan keislaman mereka. Wallahualam bissawab.


Komentar