#Reportase — Pro kontra program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis sampai saat ini masih terus bergulir. Mereka yang pro mengatakan bahwa MBG adalah program yang menguntungkan rakyat karena mereka tidak harus mengeluarkan dana untuk makan siang, makanannya pun bergizi.
Ustazah Endriyani, S.T., menyampaikan dalam Diskusi Publik yang dihadiri oleh puluhan tokoh muslimah di Jakarta bahwa ide MBG ini bukan merupakan ide yang tiba-tiba. "Pada tahun 2006, Prabowo telah menggagas revolusi putih," tegas ustazah, yang dimaksudkan adalah wajibnya pemerintah untuk memberikan susu dan telur setiap hari untuk anak-anak Indonesia.
Dalam pemaparannya yang bertemakan “Menakar Urgensi MBG di Tengah Ketimpangan Sosial dan Pendidikan”, ustazah menjelaskan bahwa kebijakan untuk rakyat bukan saja dinilai dari sebuah niat yang baik, melainkan juga dari bagaimana realisasinya menjadi sebuah proyek apakah tepat sasaran atau justru membuat masalah turunan?
Menjadi salah satu janji politik, oleh karenanya Prabowo harus menjalankan janjinya tersebut. Ustazah menjelaskan bahwa program MBG ini dikatakan fenomenal karena beberapa faktor, antara lain banyaknya anggaran yang digunakan, fokus memperbaiki kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi lokal, dan kebijakan ini bersifat masif.
Namun, apakah pemperdayaan UMKM dan pembukaan lowongan pekerjaan dalam program MBG itu semulus yang dikira? Ibu Siti Rahma, salah satu peserta dari Jakarta Barat menyampaikan bahwa ia ditawarkan untuk mengelola dapur MBG. Pada awalnya tentu keuntungan yang dikira cuan, ternyata harus mempunyai miliaran untuk segala kebutuhan pernak pernik dapurnya. “Bohong,” Ibu Siti berujar bila UMKM yang mengelola, pasti harus orang yang mempunyai modal besarlah yang hanya bisa mengelolanya.
Ternyata dalam perjalanannya korupsi timbul di berbagai celah proyek ini untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Mulai dari pengadaan, hingga sampai di lapangan. “Dari pembacaan ICW, pengurangan anggaran itu 2000–5000 rupiah per porsi,” ujar ustazah. Dari sinilah keracunan yang berulang timbul menyebar dan secara masal di berbagai daerah di nusantara, dikarenakan pemilihan bahan baku yang tidak berkualitas.
Menurut ustazah bila keracunan ini selalu berulang, maka akan mengganggu organ tubuh. “Jangankan mereka akan menjadi generasi yang kuat dan maju, tentu ini akan sulit bagi mereka,” tegas ustazah. “Kalau ingin Indonesia maju di 2045, generasi itu adalah generasi emas, tidak hanya kenyang perutnya tapi kapasitas berpikirnya juga harus tinggi,” ujar ustazah. Hal itu karena dana operasional sekolah telah tersedot ke proyek fenomenal presiden ini.
Terjadinya kekisruhan MBG, menurut ustazah adalah karena ada disorientasi fungsi, yakni pemerintah salah memprioritaskan masalah. Mana aktivitas yang cukup bisa dilakukan oleh kepala keluarga, yaitu dengan memberikan makanan beserta menunya kepada anggota keluarganya, dan mana yang harus dilakukan oleh kepala negara berupa kebijakan untuk kesejahteraan rakyat.[RH]

Komentar
Posting Komentar