Menepi ke “Dunia Sunyi”



Rini Sarah



#Remaja — Cut off dari dar der dor-nya dunia medsos ternyata make people feel better lho, Bestie. At least gak pake cetaaas, itu yang dirasain oleh Matt Richard, 23 tahun.  Dia mendapati hidupnya jadi lebih baik setelah pisah dengan medsos selama setahun. (Cnbc.com, 09/02/2026).  Mas Richard bukanlah newbie dalam dunia penggunaan ponsel, dia sudah kenal dan aktif menggunakan berbagai aplikasi di ponselnya sejak berusia 11 tahun. Kalau dia berhenti di usia 22 tahun, so pengalaman berponselnya adalah 11 tahun! Setengah dari hidupnya dilalui bersama ponsel.

Hanya saja setelah sekian lama, the appeal of dunia maya has faded di mata Richard. Dia lelah dengan semua suguhan dunia maya terutama medsos. Medsos tak lagi menyenangkan dengan konten kecerdasan buatan yang mendominasi fyp-nya, influencer yang endorse barang tak ada hentinya, dan perbandingan gaya hidup terus menerus. Semua membuat Richard merasa lelah mental dan tertekan, lalu memutuskan cabut dari dunia maya dan mulai lebih aktif di dunia nyata. 

Lain Richard, lain pula Juliana Salguero, Social Media Manager berumur 31 tahun. Menurutnya, kenapa medsos udah tidak cool lagi semenjak para politisi dan brand (produk-produk) mulai ber-medsos demi tujuannya masing-masing. Hehehe ngapain aja ya mereka di medsos sampai bikin orang ill feel begini. Yaaah mungkin para Bestie di mari juga ada yang relate dengan sese-Mbak ini.

Bestie, orang yang lelah dengan medsos rupanya bukan cuma dua orang yang disebutkan namanya di atas saja, ada survei konsumen yang dilakukan Deloitte.com. Ia telah menyurvei 4000 warga UK (United Kingdom) pada tahun 2025, hasilnya  seperempat dari seluruh konsumen sudah menghapus aplikasi medsosnya sejak 12 bulan sebelum survei dilakukan. Funfact-nya, angkanya meningkat hampir sepertiga di kalangan Gen Z. 

Lalu, ke mana larinya para cut offers dunia maya ini? Mereka ramai-ramai go offline! Mereka mulai aktif kembali di dunia nyata. Chit chat tanpa chat alias typing tapi langsung talking ke orangnya langsung. Lalu mulai cari barang-barang analog, kaya piringan hitam buat dengerin lagu, kamera analog buat abadikan the moments, bahkan kembali ke dumb ponsel alias ponsel jadul buat berkomunikasi. Duuh segitu tromanya sama dunia digital. 


Dunia Penuh Troma

Dunia maya memang sedar der dor itu, Bestie. Jutaan bahkan miliar atau satuan angka lebih besar informasi membanjiri ruang digital kita even in every second. Padahal menurut pendapat Lacy Stacey, pengusaha, otak manusia itu tidak mampu menampung informasi sebanyak dan secepat itu. Akibatnya akan mengganggu kesehatan mental. Walaupun di sisi lain medsos tetap berguna untuk kelangsungan bisnisnya.

Most of information yang banjiri medsos juga bukan informasi berguna cenderung sampah dan isinya penawaran produk melulu. Jason Dorsey President Center for Generational  Kinetic mengatakan bahwa raksasa teknologi mendapatkan  tekanan luar biasa untuk memonetisasi segala hal dan mendorong pendapatan serta keuntungan. Hal ini membuat generasi muda tidak nyaman. Mereka jadi generasi yang terpapar iklan terbanyak sepanjang sejarah. (Cnbc.com, 09/02/2026). Siapa yang gak bete coba, dikit-dikit disugihin iklan?

Kalau kita dalami pendapat Dorsey tadi, mulai lah tercium bau-bau kapitalisme di dalamnya. Kapitalisme ini kan memang sebuah aturan hidup yang tujuannya adalah keuntungan dan pendapatan. Jadi apa pun itu harus jadi duit. Termasuk medsos tadi. Tidak hanya itu konten-konten yang dimuat di sana pun pasti sudah di-framing dengan ide-ide yang lahir dari sistem aturan hidup kapitalisme ini.

Kapitalisme mengatakan kebahagiaan adalah didapatkannya segala hal yang bersifat materil, such as kekayaan, popularitas, beauty, atau kekuasaan laksana CEO yang menyamar hehehe. Jadi tidak heran promosi di media sosial selalu tentang ini. Karena mereka juga tahu pada dasarnya manusia itu pasti akan senantiasa mengejar kebahagiaan dalam hidupnya.  Media dan kapitalis di belakangnya dengan jeli menangkap situasi ini, lalu dia arahkan (cenderung mendikte ) apa itu bahagia, tetapkan standar bahagia, dan harus ngapain supaya bahagia. Lalu, jahatnya mereka mendulang keuntungan dari itu semua. 

Masalahnya, tidak semua orang punya privillege dapat merasakan itu semua. Rata-rata netizen cuma bisa nonton saja. Kondisi tak memungkinkan untuk meraihnya. Ujung-ujungnya jadi insecure, merasa gagal, cemas akan masa depan, atau terlibat masalah baru karena menghalalkan segara cara. Misal jadi terlilit pinjol atau halu bisa kaya jalur judol yang berakhir benjol plus diteror debtcoll. Kena mental gak tuc? Kena lah. Nambahlah pasien Rumah Sakit Jiwa. Hmmmm.

Sistem hidup kapitalisme tidak hanya mem-framing media dengan standar bahagianya saja, tetapi membuat media nol dari konten yang sifatnya agama yang kafah. Karena kapitalisme memang mempunyai dasar sekularisme. Sekularisme itu ngasi garis batas buat agama dan kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari agama gak boleh ikut campur dengan kata lain Allah atau Tuhan mana pun tidak boleh berperan di sana. Kehidupan sehari-hari jadi otoritas penuh manusia untuk mengaturnya. 

Akibatnya, manusia jadi menyepelekan agama dan terjauhkan dari konsep-konsep agama tentang kehidupan dan manusia itu sendiri. Manusia yang bodoh dan terbatas ini dipaksa berperan jadi Tuhan Yang Mahatahu, termasuk menentukan jati diri manusia dan aturan-aturan terkait kehidupan. Hasilnya? Kerusakan dan penjajahan antarmanusia. Karena manusia bebas mengumbar animal insting-nya tanpa dibatasi oleh aturan Allah.  

Media tak lepas dari konsep ini. Jadinya, media tak berfungsi sebagai sarana untuk mendidik manusia kembali pada fitrah dan kemuliaannya, justru media dijadikan alat untuk mendulang cuan dan  memperkuat sekularisme dan kebebasan berperilaku. Hingga derajat manusia meluncur terjun bebas menjadi lebih rendah dari binatang. Jijik? Ya dong. Jadi malesin kan liat media kalau kaya gini. Makanya, banyak orang terutama kaum muda yang ingin menepi ke dunia sunyi.


Dunia Sunyi

Yups, udah bener kalau kita sejenak menepi  ke dunia sunyi. Kita mulai renungkan hakikat semua ini. Jika dirasa njlimet, kenapa kita tidak mulai dari merenungi dari hakikat hidup ini, Bestie? Buat apa sih kita hidup? Trus kalau udah gak hidup alias mati kita bakal ngapain? Dan jangan lupa kita juga mesti nanya asal muasal kita, kok tetiba ada di dunia? 

Gak kejauhan tuc kok jadi ngomongin hidup segala? Ya ngga dong. Karena jawaban dari semua pertanyaan di atas bakal bisa kamu jadikan landasan buat menilai apa pun di dunia termasuk medsos. Muaranya emang di sana. Jika kita udah bisa jawab ini semua  kita jadi punya arah dan panduan untuk segala hal mengenai hidup di dunia dan bahagia sampai akhirat sana.

Jika kita renungkan lebih dalam, manusia tidak lahir dari ruang hampa. Dia ada karena ada pencipta. Semua bisa kok dibuktikan dengan akal kita.  Semua ada logikanya. Bukan doktrin apalagi kehaluan yang nonsense. Dalam agama Islam ada panduannya jika mau menemukan kehadiran Sang Pencipta ini, walau wujud-Nya emang gak bisa kita indera. Bukan karena lemah-Nya, tapi emang keterbatasan kita dalam mengindera. Udara yang kita yakini ada aja, sampai sekarang gak ada kan yang bisa lihat wujudnya?

Allah Swt. berfirman, 

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ 

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." (Surah Ali-Imran Ayat 190)

Skuy segera berpikir dan merenung hingga kita bisa menemukan kesimpulan bahwa Allah itu ada dan dekat dengan kita. Selalu ngurus, nolong, nemenin perjalanan hidup kita.

Dalam rangka mengurus dan menolong kita, Allah ngasi panduan yaitu Al-Qur’an melalui Rasulullah saw. Di sana diterangkan kondisi setelah manusia meninggal, yaitu terjadinya kiamat lalu manusia akan dibangkitkan dan dihitung amalnya trus nanti masuk surga atau neraka, Allah juga ngasi syariat untuk dijalankan di dunia biar kita bahagia hingga akhirat.

Dalam Islam bahagia itu didefinisikan dengan mendapatkannya rida Allah. Kalau dapat rida Allah, udah jaminanlah kita bakal dapat berkah di dunia dan mati masuk surga.  Nah, buat dapet itu semua kan gak gratis, kita harus tebus dengan ketaatan total. Disuruh perang, gaas perang. Disuruh puasa, cuuuz puasa. Disuruh dikerudung n jilbab, gak pake nanti n tapi dipakai. Disuruh belajar, berangkaaat belajar. Termasuk dilarang ini dan itu juga sabar aja sekuat tenaga menghindarinya. Gampang kan? Semua orang dengan level ekonomi gimana pun bisa melakukannya. 

Jadi, gak akan ada yang insecure. Kalau tadi di kapitalis semua yang bahagia itu yang berharta, dalam Islam urusan harta mah urusan rezeki. Rezeki mah gimana Allah yang bagi. Memang ada yang disempitkan dan ada yang diluaskan pake banget. Trus hal itu gak mempengaruhi orang untuk bertakwa, karena syariat Islam di-setting publik. Bisa dijalankan siapa saja.  Sedekah saja bisa dijalankan oleh yang berharta atau duafa kok. Kalau gak mampu sedekah harta, senyummu di depan saudaramu juga sedekah. Insya Allah senyum mah gratis.

Daaan, kalian jangan khawatir, untuk menjalankan ketaatan ini Allah udah mudahkan dengan menurunkan syariat tentang pemimpin negara Islam yang ditugaskan mengurus semuanya. Misal, tadi kan disuruh belajar. Nah, belajar itu biasanya kan di sekolah. Sekolahnya diamanahkan syariat kepada pemimpin Islam untuk menyediakannya. 

Terus, pemahaman  bahwa kita hamba Allah dan harus taat supaya selamat ini akan terus kita pakai termasuk ketika menyikapi medsos. Medsos sendiri dalam Islam bukan hal yang diharamkan. Dia termasuk teknologi yang hukumnya mubah alias boleh digunakan. Hanya saja penggunaanya harus tetap dalam koridor syariat. Kalau kita diminta menutup aurat dalam syariat, ya mau di dunia nyata atau maya kita pakai penutup aurat. Jika kita tidak boleh melakukan perbuatan sia-sia di mana pun berada tak boleh kita melakukannya. Joget-joget atau tren-tren gaje di medsos termasuk perbuatan sia-sia. Jadi jangan dilakukan.

Medsos dalam Islam akan digunakan untuk kebaikan. Dia sebagaimana media lainnya akan digunakan untuk menyebarkan informasi-informasi bermanfaat dan mendidik sesuai dengan tsaqofah Islam. Jika ada yang menyimpang dari Islam maka pemerintah lewat departemen penerangan akan menertibkannya. Insya Allah, algoritma yang digunakan juga tidak akan mengikat leher penggunanya di depan layar ponsel hingga tidak bisa beraktivitas lain lalu kena penyakit mental. Untuk iklan? Insya Allah akan diatur juga oleh Departemen Penerangan Negara Islam. Gak akan jor joran karena media dalam Islam tidak ditekan untuk monetasi lalu menghasilkan cuan.

Inilah secuil gambaran terkait Islam dan medsos. Gambaran jelas penerapannya tentu akan lebih asyik ketika ia dilihat live. Alias diterapkan secara nyata hingga kehidupan Islam itu hadir kembali. Saat ini sih belum ada, tapi Insya Allah kita akan sama-sama berjuang menghadirkannya kembali hingga Allah menurunkan pertolongan-Nya. ALLAHU AKBAR!






Komentar