Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Tidak satu pun dari perbuatan manusia yang tidak diatur oleh Allah Swt. Karena, Allah menciptakan manusia ke dunia untuk beribadah sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Begitu detil dan rinci aturan yang diberikan kepada manusia dikarenakan manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas serta berpeluang melakukan kesalahan/pelanggaran, yang menghantarkannya pada dosa dan murka Allah. Sehingga tidak ada satu pun manusia yang bebas berbuat apa saja sesuai hawa nafsunya. Sebab, semua amal perbuatan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban dan akan mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah diperbuat.
Aturan ini berlaku bukan hanya untuk individu, melainkan juga wajib di terapkan oleh seorang pemimpin/penguasa yang telah “melayakkan diri” menerima amanah untuk menjadi pelayan dan pengurus urusan rakyat. Seorang penguasa bertanggung jawab atas berjalannya roda pemerintahan, lahirnya kebijakan dan aturan serta terkait pengelolaan harta milik rakyat, yang wajib dikelola sesuai aturan syariat agar dapat memberikan kemaslahatan bagi rakyat.
Allah Swt. berfirman, ”Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, orang miskin dan orang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Seseungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Surah Al Isra Ayat 26–27)
Ayat di atas menggambarkan orang yang boros (tabzir) disamakan dengan saudara setan. Sebab, setan senantiasa membujuk manusia untuk berbuat kemaksiatan dan kerusakan, termasuk dalam penggunaan harta. Atau dengan kata lain orang berperilaku tabzir sebagai bentuk kufur nikmat dan dianggap ingkar terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepadanya dan berlaku baik bagi individu maupun panguasa.
Islam melarang keras perilaku boros/tabzir, apalagi pelakunya adalah orang yang diberi amanah mengelola harta rakyat seperti penguasa yang menggunakan harta rakyat bukan untuk kepentingan rakyat, baik jumlahnya banyak ataupun sedikit. Karena perilaku boros bukan hanya terkait soal untung rugi, tetapi erat kaitannya dengan rusaknya sebuah amanah dan menyebabkan jatuhnya martabat seorang manusia di sisi Allah.
Dalam hadis Nabi saw. pun mengingatkan terkait hal yang sama. Rasulullah bersabda, ”Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, serta tentang tubuhnya bagaimana ia gunakan.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Hadis di atas menjadi peringatan keras bagi penguasa. Karena harta yang telah ia keluarkan bukanlah harta pribadi, melainkan amanah dari rakyat. Sehingga setiap rupiah yang dihambur-hamburkan untuk proyek-proyek mercusuar, studi banding fiktif, fasilitas mewah, semua akan ditanya “untuk apa” dan akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak.
Potret perilaku tabzir penguasa sangat lekat dalam kehidupan kita hari ini. Kita bisa melihat begitu banyak proyek-proyek dan program-program yang dibuat oleh penguasa, bukan ditujukan untuk kepentingan rakyat melainkan demi tercapainya kepentingan para penguasa dan para pejabat. Ratusan triliunan uang rakyat dihambur-hamburkan hanya demi proyek MBG. Dengan mengorbankan dana pendidikan dan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Rakyat pun tak henti-henti bersuara dan protes untuk menghentikan proyek yang hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. Penguasa dan para pejabatnya “buta dan tuli” tidak melihat dan mendengar jeritan rakyat dan makin sulitnya kehidupan mereka. Sedangkan, para penguasa dan pejabatnya hidup bergelimangan kemewahan dengan fasilitas wah yang diperoleh dari uang rakyat.
Inilah bukti penguasa hari ini telah mengkhianati amanahnya dengan menggunakan harta rakyat untuk berfoya-foya dan menjadi bukti kezaliman penguasa terhadap rakyat. Kondisi negara yang sedang mengalami defisit dan rakyat sedang dalam kesulitan ekonomi, tetapi penguasa dan pejabat justru masih pesta anggaran. Ini bukan hanya sekadar sikap “kurang bijak”, melainkan perilaku tabzir dalam Al-Qur’an disamakan dengan karakter setan.
Perilaku tabzir penguasa dan para pejabat hari ini tak lepas dari sistem yang menihilkan peran agama (sekularisme), yang melahirkan pejabat tidak amanah dan suka melakukan pemborosan dan menghambur-hamburkan uang rakyat demi kepentingan mereka. Dalam kamus mereka tidak mengenal standar halal haram dalam sebuah perbuatan. Karena materi, kekuasaan, dan menghalalkan segala cara sebagai satu-satunya tujuan dari eksistensi sistem buatan akal manusia yang lemah dan terbatas.
Oleh karena itu, kondisi ini harus segera diubah dan diganti dengan sistem yang menjunjung tinggi sebuah amanah karena amanah merupakan bagian dari konsekuensi keimanan dan ketakwaan bagi seorang hamba. Dan satu-satunya sistem yang mampu mencetak para pejabat dan penguasa seperti ini, hanyalah jika syariat Islam ditegaknya secara paripura dalam setiap lini kehidupan manusia. Tatkala sistem ini tegak dalam naungan Khilafah Islamiah, bukan hanya menghasilkan buah ketaatan penguasa dan pejabat, melainkan juga rakyat yang taat, senantiasa mencintai dan mendokan pemimpinnya, dan demikian sebaliknya.
Senantiasa berhati-hati dalam mengelola harta rakyat dan selalu ada rasa takut dan khawatir untuk memakan harta rakyat yang bukan miliknya. Ahasilnya, karakter amanah yang menjasad dalam diri para pejabat membuatnya bersungguh-sungguh melayani dan mengurusi apa saja yang dibutuhkan rakyat serta mengeluarkan anggaran yang memang dibutuhkan untuk kepentingan rakyat. Sehingga tak sepersen pun uang amanah rakyat digunakan yang tidak sesuai peruntukkannya. Rakyat pun bisa merasakan harta milik umum yang dikelola dengan sangat amanah dan merasakan kehidupan makmur nan sejahtera terwujud nyata karena mereka dipimpin dan iurus oleh penguasa yang amanah. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar