Ramadan Bukan Sekadar Kenangan, Tapi Kelanjutan Perjuangan




 

#Reportase — Pemerhati Remaja, apt. Annisa Hana Mufidah mengungkapkan takwa bukan dirasa saat Ramadan saja, tapi yang dipertahankan setelahnya, maka Ramadan bukan sekadar kenangan, tapi kelanjutan sebuah perjuangan.  

“Takwa bukan yang kita rasakan saat ramadhan saja, tapi yang kita pertahankan setelahnya. Makanya, Ramadhan bukan sekadar kenangan, tapi kelanjutan perjuangan,” ungkapnya dalam Kajian Remaja “Merajut Takwa Post Ramadan”, Jumat (24/04/2026), di salah satu SMK di Depok.  

Lanjutnya, Ramadan adalah madrasah atau sekolah dalam mendapatkan pelatihan spiritual. “Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 183, Allah memerintahkan untuk berpuasa agar kalian bertakwa. Kenapa Ramadan melahirkan takwa? Ternyata, Ramadan adalah madrasah atau sekolah kita dalam mendapatkan pelatihan spiritual. Karena ketika puasa kita menahan diri dari hawa nafsu, menahan diri dari makan dan minum di siang hari,” ucap Kak Hana, sapaan akrabnya.  

Pengemban dakwah lulusan farmasi tersebut mengatakan bahwa takwa mencakup ibadah dan perbuatan baik lainnya. “Kenapa kita harus bertakwa? Dalam Surah Ali-Imran Ayat 102, bertakwalah kepada Allah. Allah di sini menggunakan kata bertakwalah, bukan beribadahlah, bukan berbuat baiklah. Kenapa? Karena takwa sebenarnya sudah mencakup semua itu. Takwa kan tadi definisinya taat ya, maka ketika dia sudah taat, dia akan taat kepada perintah Allah, taat dalam menghindari maksiat yang Allah larang. Ini juga sebagai bukti kita sebagai orang beriman,” beber Kak Hana di hadapan puluhan siswi.

Ia pun mengungkapkan bahwa kehidupan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hal ini bisa terlihat dari  sistem ekonomi kapitalis  ribawi, pergaulan hedonis yang fomo, politik oportunis, serta hukum yang tajam ke bawah.  

“Kerasa enggak kalau kita ini sedang tidak baik-baik saja? Dari sistem ekonominya yang kapitalis ribawi, pergaulannya hedonis fomo ga mau ketinggalan, semuanya mau dibeli, materialistis. Kemudian politiknya oportunis, mereka para politisi yang katanya mewakili kita malah menghalalkan segala cara untuk kepentingan sendiri dan kepentingan kelompoknya, kemudian secara hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” paparnya.  

Kak Hana menegaskan bahwa Rasulullah pun pernah mengalami keadaan seperti ini,  Rasulullah bukan hanya berdoa, melainkan juga  berdakwah dan berjuang. Ini menjadi pelajaran bagi umat muslim untuk meneladani Rasulullah.[Mustikawati]



Komentar