Hessy Elviyah
#Bekasi — Setiap musim penerimaan siswa baru, para orang tua dan calon siswa mengalami keresahan. Persaingan seleksi masuk sekolah negeri makin ketat dan aturannya terus berubah dengan alasan meningkatkan kualitas pendidikan.
Di Bekasi, kebijakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 yang mewajibkan jalur prestasi mengikuti ujian Computer Assested Tes (CAT) memantik perdebatan. Pemerintah menganggap langkah ini penting demi mendapatkan siswa terbaik secara objektif. Namun, di balik sistem ini terdapat sebuah ironi. Pendidikan saat ini tampak lebih sibuk menyaring siswa yang layak masuk sekolah negeri unggulan daripada memastikan seluruh anak mendapatkan pendidikan yang baik.
Lebih jauh, kebijakan ini lahir dari kekhawatiran adanya manipulasi rapor dan ketidakakuratan penilaian akademik di sekolah. Oleh karenanya, CAT dianggap layak menjadi alat ukur tambahan yang lebih transparan dan adil (Rakyatbekasi, 05/05/2026). Secara teknis mungkin kebijakan ini terdengar masuk akal. Pemerintah berupaya mengisi bangku sekolah negeri dengan peserta didik yang dinilai memiliki kapasitas akademik paling layak berdasarkan hasil seleksi yang ditetapkan.
Namun sayangnya, persoalan pendidikan tidak hanya urusan penyeleksian. Ketika nilai rapor tidak dipercaya sepenuhnya, maka ini menunjukkan adanya krisis di dunia pendidikan. Rapor yang semestinya menjadi evaluasi proses belajar selama bertahun-tahun justru dianggap belum cukup valid, sehingga siswa harus diuji lagi dengan sistem yang lain. Artinya, ada masalah serius dalam kualitas penilaian, integritas pendidikan, dan standar pembelajaran yang selama ini berjalan.
Di sisi lain, adanya tes ini justru makin memperbesar tekanan bagi siswa. Siswa dibiasakan hidup berkompetisi sejak dini dalam kondisi mental yang belum stabil. Pendidikan berubah menjadi area perebutan sekolah favorit, bukan tempat untuk menumbuhkan kemampuan, karakter, dan minat belajar yang sehat. Yang dianggap berhasil adalah mereka yang lolos seleksi dan yang gagal merasa perlahan tertinggal dan kecewa.
Sebenarnya, akar persoalan utama pendidikan bukan semata tentang kurang ketatnya sistem penyaringan masuk siswa, melainkan ketimpangan kualitas sekolah masih menjadi persoalan utama pendidikan. Sekolah favorit paling dipadati peminat sebab masyarakat tahu bahwa kualitas sekolah favorit lebih unggul. Fasilitas, tenaga pengajar, hingga lingkungan belajar berbeda jauh dengan sekolah lainnya. Akibatnya, orang tua dan siswa berlomba mencari sekolah terbaik untuk masa depan yang dianggap lebih terjamin.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan hanya melahirkan persaingan tanpa menyentuh akar persoalan sesungguhnya. Banyak energi justru tersita pada proses memilah siswa yang dianggap layak masuk sekolah favorit. Bukan memastikan semua sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang layak. Inilah potret buram pendidikan di sistem kapitalisme saat ini. Sistem ini hanya fokus mencetak sumber daya manusia yang siap bersaing di dunia kerja, bukan sebagai hak dasar yang harus diberikan negara secara merata. Munculnya hierarki sekolah favorit dan nonfavorit adalah suatu keniscayaan, sebab tujuan pendidikan bukan untuk mencerdaskaan tetapi untuk menggerakkan roda ekonomi.
Pendidikan dalam Islam
Dalam Islam, pendidikan dipandang sebagai hak seluruh rakyat sekaligus kewajiban negara untuk menjamin kualitas terbaik tanpa membedakan status sosial maupun kemampuan ekonomi. Pendidikan seharusnya tidak dibangun untuk menciptakan persaingan yang menyingkirkan sebagian anak, tetapi untuk menciptakan manusia berilmu. Oleh sebab itu, negara wajib menghadirkan pendidikan yang merata sehingga tidak muncul dikotomi sekolah favorit dan nonfavorit seperti hari ini.
Sejarah peradaban Islam menunjukkan bagaimama pendidikan menjadi pilar penting dalam membangun kemajuan umat. Pada masa Daulah Abbasyiah berdiri Baitul Hikmah di Baghdad, sebuah pusat ilmu pengetahuan yang menjadi tempat belajar, penelitian, penerjemahan buku, sekaligus pengembangan sains dari berbagai bidang. Negara memberikan dukungan penuh terhadap aktivitas keilmuan dengan menyediakan fasilitas, perpustakaan, hingga pembiayaan bagi para ilmuwan dan pelajar. Hal ini menjadikan atmosfer belajar yang kondusif sehingga kegiatan belajar menjadi maksimal.
Dari sistem seperti inilah lahir banyak ilmuwan muslim yang kontribusinya diakui dunia. Ada Muhammad bin Musa al-Khawarizmi yang dikenal sebagai pelopor ilmu aljabar, Ibnu Sina yang karya-karyanya menjadi rujukan kedokteran selama berabad-abad, hingga al-Biruni yang banyak menulis penelitian tentang astronomi, geografi, dan ilmu alam. Kemajuan pendidikan itu lahir karena negara menempatkannya sebagai bagian terpenting dalam kehidupan, bukan sebagai alat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.
Negara juga memberikan perhatian besar kepada para pendidik dan pelajar. Banyak ulama dan pengajar mendapatkan dukungan dari baitulmal sehingga dapat fokus mendidik masyarakat. Anak-anak dari keluarga miskin tetap mendapatkan pendidikan yang sama dengan yang kaya. Pendidikan tidak dijadikan komoditas mahal ataupun ajang seleksi masuk yang melelahkan. Dalam Islam, pendidikan menjadi sarana untuk membangun generasi yang cerdas, berkepribadian Islam, dan mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan seharusnya bukan terletak pada seberapa ketat negara menyaring siswa terbaik, melainkan seberapa serius negara hadir untuk menjamin setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas. Maka kalau dilihat dari sejarah, pendidikan dalam negara Islam pernah melahirkan peradaban ilmu yang dihormati dunia karena negara benar-benar hadir sebagai pengurus rakyat, bukan sekadar sebagai penyelenggara seleksi. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar