Visi Negara Menerapkan Islam dan Membangun Manusia Menjadi Mumpuni



#Reportase — Saat Makan Siang Gratis menuai pro dan kontra, mendudukan dan mempersoalkannya pun menjadi hal yang signifikan untuk menjadi diskusi. Maka pada Sabtu pagi di Jakarta diadakan Dikusi Publik bertemakan “Menyoal MBG dan Reorientasi Fungsi Negara”.

Narasumber pertama memantik diskusi bahwa negara dengan kebijakan MBG yang fenomenal telah melakukan fungsinya yang tidak sesuai karena memberi makan dan menentukan menu apa yang harus dimakan cukup dilakukan oleh kepala keluarga. Sedangkan penguasa menjalankan fungsi strategisnya, yaitu bagaimana agar rakyatnya mendapatkan pekerjaan yang layak, harga barang dan jasa terjangkau, pendidikan murah bahkan gratis, dan sebagainya.

Oleh karenanya, dalam hal ini butuh penekanan yang jelas bagaimana seharusnya fungsi negara dijalankan dalam pandangan Islam. Ustazah dr. Estyningtyas sebagai narasumber kedua membawakan tema, ”Mendudukkan Perkara Disoerientasi Fungsi Negara”.

Ketidakjelasan fungsi negara ini akhirnya mengakibatkan orang-orang seperti Nadiem Makarim dan juga Ibrahim Arief (Ibam) harus divonis penjara, yang pada awalnya mereka ingin berbakti pada negara dengan ilmunya. Akibatnya, anak muda saat ini enggan untuk mengabdi kepada negara dan memilih untuk keluar negeri saja.

Menurut ustazah, fungsi negara adalah melindungi dan menyelesaikan permasalahan antara mereka. Teori negara telah ada saat Thomas Hobes ataupun John Locke mengungkapkan teorinya. Namun, teori mereka kalah dengan Demokrasi yang mencanangkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

"Tapi persoalannya pemilik kuasa adalah manusia, padahal manusia tidak pernah luput dari kepentingan,” tegas ustazah. “Di titik ini sesungguhnya kita yakin sistem apa pun yang dibuat oleh manusia akan membuat konflik,” sambungnya.

Akan tetapi, manusia tetap butuh negara, tetapi negara ala Islam itu yang seperti apa? Dalam Surah Al-Muthafifin yang turun saat perjalanan hijrah Rasul ke Madinah, Allah Swt. berfirman untuk tidak melakukan kecurangan. Kecurangan yang dimaksud bukan hanya kecurangan individu, sebab ayat ini turun saat Rasulullah berjalan menuju negara Ialam pertama yang akan terbentuk. “Maka, seolah ayat ini menjadi sebuah bekal bahwa kelak Rasul akan menghadapi kecurangan di tengah masyarakat.” ujarnya. 

Kecurangan ini ada di tengah bangsa Arab saat itu agar Rasul saw. mendakwahkan di tengah masyarakat saat itu agar tidak melakukan hal yang demikian karena mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hari akhirat. Persoalan ini terkait dengan korupsi saat ini. 

Kemudian ayat lainnya banyak yang menegaskan untuk menegakkan negara yang berasaskan syariat seperti pada Al-Hajj Ayat 39 (diizinkan untuk mengorganisasi peperangan); Al-Maidah Ayat 38 (hukum potong tangan); Al-Baqarah Ayat 179 (hukum qisas); dan An-Nur Ayat 2 (hukum berzina). Sehingga mendakwahkan Islam saat ini kepentingannya adalah agar Islam diterapkan secara kafah, “Bukan hanya butuh kekuasaan,” tegas ustazah.

Ustazah pun memaparkan bagaimana Islam mengatur amal individu, kelompok juga amal negara. Sehingga dalam kasus MBG cukup kepala keluarga yang mempersiapkan menu makan sehatnya, sedangkan kepala negara bertugas yang lebih strategis, salah satunya memudahkan akses pekerjaan. Termasuk yang penting adalah mengolah sumber daya alam milik umum menjadi modal pendapatan bagi pemerintah untuk menjalankan pemerintahannya agar kebutuhan pokok rakyat menjadi gratis.[RH]



 


 

Komentar