Vinsi Pamungkas
#Remaja — Awal September 2026 fix jadi rekor tertinggi kasus keracunan MBG (makan bergizi gratis). Bayangin, hanya dalam waktu 10 hari, ada lebih dari 2.000 orang (mayoritas pelajar) yang jadi korban keracunan. Info dari kompas.com, Rembang, Sidoarjo, Agam, dan Pati jadi daerah dengan jumlah korban yang cukup besar. Rembang memakan korban sebanyak 777 siswa dan guru, Sidoarjo 730 siswa, Agam 237 siswa, dan Pati 269 siswa. Semoga mereka bisa sehat kembali.
Efek dari keracunan makanan gak bisa dianggap sepele. Mulai dari yang ringan, yaitu muntah dan diare, hingga ada yang mengalami hilang ingatan seperti kasus di Karo. Bahkan ada kabar hingga kehilangan nyawa.
Buat kamu, iya kamu, yang nerima ompreng MBG tiap jam makan siang. Puluhan ribu kasus keracunan itu, bikin OVT gak sih? Pastinya OVT dong. Terpikir, "Apakah aku akan menjadi salah satu tumbal MBG?" atau "Apakah aku akan masuk berita dengan pose tiduran di selasar UGD?". Atau malah lebih parah lagi, berpose di bawah batu nisan yang tertulis nama kita sendiri. OVT kamu ini, gak salah kok. Yang perlu dievaluasi adalah programnya. Masih mau diterusin atau wajib disetop.
Keukeuh Ngadain MBG Demi Apa?
Masalah ke-keukeuh-an pemerintah buat lanjut program MBG meskipun udah banyak korban, bikin kita bertanya-tanya. Kenapa sih se-keukeuh itu?
Hei besti, inget kalau negara kita itu negara kapitalis. Negara yang punya hubungan mesra sama pengusaha. In this economy, pemerintah harus nyiapin cuan yang gede banget buat melaksanakan program ini. Rp800 miliar sampe 1,2 triliun per hari, shay. Uang ini ngalir ke para pemilik dapur MBG, tanpa libur dong. Gimana gak makin rich tuh pengusaha.
Makanya, mereka gak mau program ini berhenti. Jangankan berhenti, libur aja gak mau. Karena mereka bakal kehilangan kesempatan dapet cuan. Pengusaha yang sekaligus penguasa ini mati-matian mempertahankan program MBG agar perekonomian mereka tetap lancar. Mereka gak peduli pemerintah harus ngurangin anggaran kebutuhan lain demi MBG. Gak peduli juga sama menu yang dikasih ke anak-anak bergizi atau beracun. Yang pedulikan cuma aliran cuan ke rekening mereka, gak boleh mampet.
Pemerintah Harusnya Pengurus, Bukan Penguras
Kecewa banget ngedenger fakta di atas. Mereka seharusnya menjadi pengurus rakyat, layaknya seorang ibu mengurus anaknya. Ibu yang menyiapkan makan, memastikan pakaiannya tersedia, berupaya mencegah anaknya sakit, pokoknya segala yang terbaik diberikan untuk anaknya. Yang mereka lakukan justru menguras harta rakyat melalui berbagai macam pajak, biaya listrik, BBM, dan air yang tinggi, dan berbagai iuran-iuran receh. Semua dilakukan demi kepentingan pribadi dan gengnya. Jujur, janggal.
Pemimpin yang mengurusi rakyatnya dengan sempurna hanyalah Rasullulah saw. saat beliau menjadi kepala negara di Madinah. Rakyatnya cinta dan rida terhadap beliau, dan begitu pula beliau yang siap bertaruh nyawa demi rakyatnya. Para penguasa di Indonesia sudah selayaknya mencontoh orang yang diperintahkan Allah Swt. untuk dijadikan sebagai teladan. Beliau adalah pemimpin paling greenflag sepanjang masa. Beliau tidak membagi-bagikan makanan gratis untuk rakyatnya, namun menjamin kebutuhan pokok komunal seperti: pendidikan, kesehatan, dll terpenuhi dengan sempurna. Kesejahteraan rakyatnya merata. Semua ini bukan karena Rasulullah saw. yang memimpin, melainkan berkat penerapan syariat Islam yang kafah di tengah-tengah rakyat. Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar