Anak Akses Medsos–Internet: Literasi Data Rendah, Salah Siapa?


 

Zakiyah Amin


#Wacana — Baru-baru ini, Wamendikdasmen Fajar Riza dalam rapat koordinasi Data Teknologi Informasi Pendidikan menyampaikan pentingnya membangun kualitas kebijakan pendidikan sebagai pondasi penting dengan mendorong penguatan literasi data sejak usia dini.  Ia juga mengingatkan bahwa rendahnya literasi data di tengah masifnya akses internet dan media sosial menjadi tantangan serius saat ini. (KumparanNEWS, 15/12/2025)


Anak-anak saat ini hampir semua bisa mengakses medsos–internet. Akses informasi yang sangat tinggi, bukan berarti daya literasi anak juga tinggi. Hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial hingga anak-anak terpapar, sulit untuk fokus dan tidak kritis terhadap persoalan yang melingkupinya. Di sisi lain, kesadaran  melakukan edukasi literasi data seolah tidak di inisiasi secara serius oleh pembuat kebijakan. Padahal Akses medsos lebih cepat memberikan tayangan sehingga keseriusan dalam memberikan edukasi literasi data menjadi sangat urgent.


Mengharapkan anak-anak optimal melakukan literasi tapi tidak make sense dengan kebijakan pemerintah yang kurang cepat memberikan dorongan. Anak-anak banyak yang sudah terlanjur terpapar internet dan media sosial, tidak mudah memulihkannya. Dampaknya, anak-anak akan kesulitan berpikir, sulit untuk fokus, dan selanjutnya akan lebih  sulit memahami secara mendalam setiap masalah.


Kebebasan mengakses medsos secara rutin tanpa memberikan alternatif dan antisipasi lebih awal akan membuka peluang pembodohan secara masif bukan mencerdaskan karena medsos menyajikan semua konten  kekerasan, pornografi hingga pola hidup instan.  Menurut ahli media Shoshana Zuboff (The age of surveillance capitalism) menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk mengeksploitasi perhatian, memanipulasi emosi dan menciptakan ketergantungan dan anak adalah target empuk algoritma. Zygmunt Bauman seorang ahli sosiologi mengatakan bahwa media sosial menciptakan budaya instan dan anak dibesarkan dalam “like society”, anak dari keluarga  literasi rendah makin tertinggal. Sungguh mengerikan jika sampai ruang medsos menjadi ruang belajar bagi anak sekaligus mencari jati diri. Lalu siapa yang akan disalahkan jika literasi data rendah akibat media sosial–internet? Benarkah problem tersebut sistemik? 


Anak-anak dalam hal ini tentu tidak bisa disalahkan karena justru menjadi korban. Menurut ahli psikologi anak Jean Piaget bahwa anak dan remaja belum memiliki kontrol kognitif dan emosional yang matang untuk menyaring berbagai informasi digital. Anak semestinya mendapatkan platform media sosial yang bisa membangkitkan kesadaran berpikir kritis agar tidak mudah terjebak. Banyak pakar pendidikan dan psikologi di Indonesia berpandangan bahwa masalahnya bukan pada anak yang kecanduan, tapi pada sistem yang membiarkan. Negara terlalu optimistis pada teknologi. Lupa akan dampaknya terutama bagi anak-anak.


Adapun peran sebagian orang tua yang sulit dibenarkan adalah memberikan kebebasan anak bermedsos tanpa pendampingan. Tapi ini pun tidak sepenuhnya salah karena keterbatasan orang tua tidak mampu mencegahnya. Dan negaralah yang paling bertanggung jawab penuh atas masalah sistemik ini. Negara dengan segala perangkatnya dan kebijakannya akan mampu melindungi anak-anak dari bahaya platform medsos–internet. Negara tidak boleh abai dalam ketimpangan digitalisasi dan lamban dalam urusan literasi. Pembuat kebijakan harusnya lebih antisipatif dan memprioritaskan keselamatan anak. Dengan kebijakan pemerintah akan mampu mencegah, memproteksi, dan melindungi anak tanpa paksaan tentu dengan paradigma yang sahih. 


Negara jika dalam kendali sistem sekuler-kapitalisme maka kebijakannya akan terus berpihak pada kepentingan penguasa dan pengusaha, sehingga solusi untuk bebas dari cengkraman digitalisasi sangat rumit. Berbeda dengan solusi yang ditawarkan oleh sistem Islam, dipastikan tidak ada yang dirugikan terutama bagi anak-anak yang sedang dalam pengawasan. Negara bertanggung jawab penuh digarda terdepan menyolusi problem secara menyeluruh.


Dengan demikian, masalah anak yang bebas bermedsos sebagai penyebab rendahnya literasi perlu penguatan iman, sebab apabila imannya terbangun maka literasi akan mengikuti dan abainya negara dalam persoalan yang substansi maka akan terjadi kerusakan yang meluas. Semestinya jika ingin menghindari kerusakan tersebut, solusinya kembali ke ajaran Islam kafah. Dengan menjalankan Islam secara menyeluruh tidak parsial  akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan. Termasuk membangun sistem media yang sehat dengan konten-konten Islam kafah, mengajak berpikir bangkitkan umat, dan cara membangun peradaban Islam, dll. 


Umat Islam adalah umat terbaik sebagaimana dalam Surat Ali-Imron Ayat 110, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” Status sebagai umat terbaik tidak bisa dilepaskan dengan risalah Islam. sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Katsir bahwa ketika umat ini dijadikan sebagai ummatan wasathan Allah mengkhususkan mereka dengan syariat paling sempurna, manhaj paling lurus dan paling jelas. 


Risalah Islam membutuhkan umat terbaik sebagai pengembannya. Sebaliknya, umat terbaik lahir karena mengemban risalah Islam dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan nyata. Sejarah telah membuktikan generasi sahabat nabi sebagai umat terbaik karena mengemban risalah hingga menjadi sistem hidup. Tidak seperti saat ini Islam terpinggirkan dari kehidupan publik. Jumlah umat besar tapi lemah belum terbaik. Sistem seringkali melindungi kemungkaran. Solusi untuk saat ini dan seterusnya adalah mengembalikan pemahaman Islam kafah sebagai risalah hidup. Wallahualam bissawab. 



                                                                                         





Komentar