Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Setiap manusia yang hidup di dunia ini tak lepas dari cobaan kehidupan. Berat ringannya cobaan tersebut tergantung bagaimana manusia mampu menghadapi dan menyikapinya. Tidak semua manusia mampu menghadapi cobaan dengan cara yang benar. Berbagai persoalan datang silih berganti, makin membuatnya terpuruk dan jauh dari aturan Allah. Bahkan tak jarang, banyak melakukan “jalan pintas”atau menghalalkan segala cara untuk keluar dari masalah dan cobaan yang dihadapinya.
Namun, tak sedikit manusia yang berpikir bahwa cobaan yang datang menyapa dianggap sebagai ujian keimanan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sehingga cobaan tersebut dihadapi dengan penuh kesabaran dan senantiasa bermuhasabah diri atas setiap amal perbuatan yang telah dilakukan. Apakah amal yang dilakukan mendatangkan pahala atau sebaliknya, mendatangkan murka dari Allah Swt.
Allah Swt. berfirman, "Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kamu berputus asa, dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Surah Az-Zumar Ayat 53)
Ayat di atas merupakan panggilan Allah kepada para hamba-Nya dan mengingatkan agar manusia dalam keadaan apa pun, bahkan dalam kondisi terendah dalam hidupnya tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Dan segera bertobat, karena Allah Swt. telah mengabarkan akan mengampuni dosa hamba-Nya walaupun dosanya seluas lautan. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya yang mau bertobat dan senantiasa mengharap rahmat-Nya.
Tidak dimungkiri, hidup dalam sistem aturan kehidupan buatan akal manusia (kapitalisme) yang penuh dengan persoalan hidup yang tak pernah kunjung selesai membuat sebagian umat muslim mengalami keputusasaan melihat realitas kehidupan yang sangat jauh dari angan-angan. Kala kebutuhan hidup yang makin sulit untuk dipenuhi, dibarengi biaya pendidikan, kesehatan, transportasi yang tidak murah. Sementara, lapangan pekerjaan yang makin sempit makin mempersulit mendapatkan sumber mata pencaharian untuk menopang kehidupan keluarga.
Di sisi lain, lulusan sarjana dengan berbagai bidang keilmuan sangat berharap akan mendapatkan pekerjaan dan mampu mengubah perekonomian keluarga. Sebab, kebanyakan orang tua rela bekerja keras demi menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke bangku perguruan tinggi. Namun harapan itu harus pupus, karena memiliki ijazah sarjana pun tak membuat mereka mudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan tidak ada peluang dan kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk mengaplikasikan ilmunya demi kemajuan bangsa dan negara. Sehingga fenomena putus asa dialami oleh kalangan muda dan kalangan tua, yang mengakibatkan mereka terpuruk, depresi, dan tak sedikit kasus yang memilih jalan pintas mengakhiri kehidupannya akibat putus asa dengan kondisi kehidupannya.
Padahal dengan jelas Allah dan Rasul-Nya melarang kepada semua hamba-Nya untuk berputus asa. Karena, putus asa adalah sikap yang hanya dimiliki oleh orang kafir dan putus asa sebagai akhlak yang buruk. Sehingga, seorang muslim tidak boleh dan dilarang untuk berputus asa walaupun begitu banyak cobaan dan masalah kehidupan yang menimpa dirinya. Karena Allah Swt. memberikan cobaan sebagai bentuk kasih sayang dan memberikan reward (pahala) yang besar bagi hamba-Nya yang senantiasa berpegang teguh pada syariat-Nya dalam kondisi lapang maupun sempit.
Bukan hanya kita yang diuji dengan berbagai cobaan hidup, melainkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya pun mendapatkan cobaan dari Allah Swt. Coba kita lihat, bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya menyikapi cobaan yang datang menyapa. Mereka terus bermuhasabah diri, bertawakal, dan senantiasa berprasangka baik kepada Rabbnya. Sebab landasan keimanan yang kuat menghasilkan keyakinan menjasad dalam diri mereka, bahwa tatkala Allah menguji hamba-Nya, selalu ada kemudahan dan pertolongan yang datang setelahnya.
Sikap Rasulullah dan para sahabat inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi kita dalam menghadapi cobaan kehidupan. Walaupun cobaan datang silih berganti, tak membuat kita berhenti untuk terus melakukan kewajiban dakwah dan menyeru umat manusia untuk kembali kepada syariat Allah yang mulia. Untuk menyadarkan manusia bahwa cobaan yang hadir dalam kehidupan kita sebagai bentuk teguran Allah, agar kita kembali kepada aturan kehidupan yang ia ridai.
Sadarkah kita bahwa sudah berapa lama kita mncampakkan hukum syariat Allah dan menggantinya dengan hukum buatan akal manusia yang lemah. Kehadiran hukum buatan manusia inilah yang membuat manusia senantiasa dihampiri berbagai persoalan kehidupan. Oleh karena itu, cobaan yang menimpa kaum muslim hari ini seharusnya menjadi motivasi akidah untuk terus mendakwahkan syariat Islam yang sempurna di seluruh penjuru bumi. Bukan malah berputus asa, karena Allah telah membekali kaum muslim dengan akal dan seperangkat aturan yang sempurna sebagai problem solving bagi kehidupan.
Jangan pernah melepaskan kewajiban dakwah dalam kondisi apa pun, karena aktivitas dakwah bak darah yang senantiasa mengalir di dalam tubuh kaum muslim. Tatkala aktivitas dakwah ditinggalkan, maka akan menghancurkan kehidupan manusia. Sehingga dakwah menyerukan Islam sebagai aturan kehidupan terbaik bagi manusia senantiasa dijaga dan diperjuangkan hingga aturan kehidupan dalam institusi Khilafah hadir kembali dalam pangkuan umat muslim. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar