#SuaraMuslimah — Penanganan bencana di Sumatra kembali menuai
sorotan.
Pemerintah memilih tidak menetapkan status Darurat Nasional dan menolak
sejumlah bantuan kemanusiaan dari dunia internasional, termasuk bantuan beras
dari Uni Emirat Arab. Kebijakan ini dinilai mencerminkan apa yang disebut
sebagai nasionalisme performa—sebuah narasi kemandirian yang dipaksakan,
justru berpotensi menciptakan hambatan birokrasi nyata bagi daerah terdampak.
Untuk
memperdalam persoalan tersebut, Redaksi
Muslimah Jakarta Official mewawancarai Ketua Rawda by Suara Duta Munzalan sekaligus Konsultan Kurikulum
Pendidikan Pesantren, Ibu Sofia Umami, S.Pd., guna menggali pandangannya
terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani bencana Sumatera.
Q: Beberapa waktu lalu Uni Emirat Arab
memberikan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana Sumatra berupa beras, tapi
justru ditolak dan dipulangkan kembali oleh pemerintah. Bagaimana pandangan Ibu
terhadap hal ini?
A: Dalam
kondisi darurat yang menyangkut kepentingan masyarakat Indonesia, keputusan
seharusnya diambil secara cepat dan tepat, bukan dilandasi kepentingan pribadi
ataupun golongan. Jangan menutup mata bahwa dalam situasi seperti ini Indonesia
membutuhkan bantuan, bahkan semestinya bantuan asing tersebut dipermudah dengan
validasi demi keselamatan rakyat. Ada dua kemungkinan mengapa bantuan itu
ditolak. Pertama, faktor gengsi dan
kekhawatiran dicap tidak mampu menangani bencana. Kedua, upaya mempertahankan kepentingan pribadi maupun kelompok
tertentu.
Q: Kepada masyarakat terdampak bencana
Sumatra, pemerintah telah menyampaikan berbagai janji, salah satunya
pembangunan perumahan. Menurut Ibu, seberapa cepat janji tersebut akan
direalisasikan?
A:
Sejauh ini belum terlihat langkah konkret ke arah tersebut. Pembangunan
perumahan kerap menjadi isu kecil yang dibesar-besarkan dan kembali hanya
berfungsi sebagai lip service. Kalaupun nantinya direalisasikan, saya
menilai kecil kemungkinan rakyat akan diuntungkan secara penuh.
Q: Padahal dalam kondisi normal pun
pemerintah kerap kesulitan mengalokasikan dana, misalnya untuk sarana dan
prasarana pendidikan di daerah 3T. Apakah pemerintah akan segera membangun
kembali fasilitas yang rusak parah di wilayah bencana Sumatra?
A:
Efektivitas kepemimpinan sangat bergantung pada transparansi laporan dari
bawahan serta kesediaan pemimpin untuk turun langsung ke lapangan secara
berkala. Fokus seharusnya dialihkan dari sekadar menilai kebiasaan masyarakat
menuju pembenahan desain sistemik yang lebih komprehensif. Masalah besar tidak
dapat diselesaikan hanya dengan mengubah pola konsumsi warga, melainkan melalui
audit menyeluruh terhadap kebijakan makro yang sedang berjalan.
Q: Dalam situasi ini, pemerintah dinilai
lebih menjaga citra agar tidak terlihat lemah di mata dunia ketimbang
mengutamakan keselamatan rakyat. Bagaimana pendapat Ibu?
A:
Publik melihat adanya kesenjangan antara citra ideal yang ditampilkan dengan
efektivitas kerja pemerintah di lapangan. Respons yang kaku terhadap masukan
serta kecenderungan membatasi ruang kritik masyarakat menunjukkan perlunya
evaluasi mendalam terhadap orientasi kepemimpinan. Tanpa langkah konkret dan
solutif, persepsi publik terhadap pemegang kebijakan akan terus terjebak pada
anggapan pragmatisme kekuasaan semata.

Komentar
Posting Komentar