Nilai TKA buruk, Sistem Pendidikan Harus Dikoreksi




#SuaraMuslimah — Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMA secara nasional mencapai nilai di bawah rata-rata dan tidak seperti yang diharapkan. Tentu hal ini harus menjadi perhatian serius dari semua pihak. Namun, apakah yang utama harus dikoreksi dari pendidikan di negeri ini?

Bersama Ibu Hesty Noviastuty, M.Pd., yang merupakan Wakil Kepala Sekolah di salah satu MA di Jakarta, redaksi Muslimah Jakarta Official mengadakan perbincangan mengenai hal tersebut.  


Q. Menurut Ibu, bagaimana bisa nilai TKA tingkat SMA bisa jeblok secara nasional?

A. Hal itu mungkin dikarenakan sistem ujian nasional yang sudah lama tidak diberlakukan. Banyak murid yang menganggap remeh ujian kompetensi tingkat nasional sehingga kurang persiapan. Sebab selama ini siswa telah terlena oleh nilai rapor fantastis yang harus melebihi nilai KKM. Sehingga banyak guru akhirnya tidak lagi memperhatikan pengajaran tapi fokus pada nilai rapor dan berusaha menaikkan nilai rapor tersebut agar siswa siswinya bisa lolos ke sekolah menengah atau perguruan tinggi negeri.


Q. Ada yang mengatakan bahwa bila yang nilainya buruk hanya sepersekian persen bisa jadi pengajar atau siswanya yang harus dikoreksi. Namun, apabila secara nasional yang buruk maka yang dikoreksi adalah sistem pendidikannya, bagaimana menurut Ibu?

A. Saya setuju yang dikoreksi adalah sistem pendidikannya karena pendidikan hari ini hanya berorientasi pada nilai. Bagaimana nilai harus terlihat bagus di rapor dan tidak ada lagi yang tinggal kelas. Padahal secara kognitif, afektif, dan psikomotorik terkadang para siswa belum kompeten. Beban guru yang banyak juga mempengaruhi bagaimana guru mengajar. Apalagi di sekolah-sekolah yang minim fasilitas. Tentunya semua itu terkait dengan sistem pendidikan. Jadi memang perlu dikoreksi dan harus diganti. 


Q. Tiap pergantian pemimpin memang selalu berganti kurikulum. Bagaimana menurut Ibu dengan hal ini?

A. Kurikulum yang berganti karena pemimpin yang berganti, ternyata tidak memperbaiki keadaan. Karena pada dasarnya tujuan pendidikan masih sama. Bertujuan hanya pada materi dan nilai. Tidak memperhatikan pembentukan karakter dan akhlak secara utuh. Walaupun disetiap kurikulum ada pendidikan karakter, tetapi tetap saja tidak berhasil karena memang itu bukan tujuan yang utama.


Q. Walaupun nilai bukan merupakan satu-satunya ukuran dari kesuksesan siswa, tapi dengan pendidikan saat ini tidak melahirkan siswa yang takwa. Menurut Ibu bagaimana dengan hal ini?

A. Nilai sepertinya memang bukan satu-satunya ukuran kesuksesan siswa, tapi pada pendidikan dasar dan menengah nilai tetap menjadi tujuan. Terlepas apakah nilai itu juga didapat dari penilaian-penilaian selain kognitif, tetapi standar untuk kualitas tetaplah nilai. Sehingga ketakwaan sukar dibentuk dari sistem pendidikan yang seperti ini. Sebab selain sekolah, ketakwaan juga harus dibentuk dan didukung oleh keluarga dan masyarakat. Jika keluarga dan masyarakat tidak mengambil bagian dari pembentukan ketakwaan, tentunya sistem pendidikan yang ada di sekolah pun tidak akan bisa melahirkan siswa yang bertakwa. 


Q. Sepertinya negara abai terhadap pendidikan generasi dan hanya berfokus pada jebloknya nilai saja. Bagaimana pandangan Ibu?

A. Ya bisa dikatakan demikian. Karena Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar yang mungkin dari sisi fasilitas dan guru telah memadai. Tetapi masih banyak di daerah yang fasilitas belum lengkap, kekurangan guru dan permasalahan pendidikan yang lain. Karena jebloknya nilai TKA bukan hanya terkait pelajaran dan pengajaran tapi terkait dengan sistem dan fasilitas pendidikan yang ada.

Komentar