#SuaraMuslimah — Tingginya angka pengangguran tidak lagi hanya dialami lulusan
sarjana, tetapi juga menimpa ribuan lulusan pascasarjana dan doktoral. Fenomena
ini menimbulkan pertanyaan besar tentang arah pendidikan, struktur ekonomi,
serta keseriusan negara dalam menyiapkan masa depan generasi muda menuju
Indonesia Emas 2045. Dalam rubrik Suara
Muslimah, Muslimah
Jakarta Official mewawancarai Dr. Ira Geraldina, seorang Akademisi
Akuntansi dan Ekonomi Keberlanjutan, untuk menggali pandangannya mengenai
krisis pengangguran terdidik, kegagalan paradigma pendidikan berbasis pasar,
serta realisme janji penciptaan jutaan lapangan kerja di tengah dominasi sistem
ekonomi liberal.
Q:
Bagaimana menurut Ibu tentang tingginya angka pengangguran yang bukan hanya
lulusan sarjana, tapi juga terdapat ribuan lulusan pasca dan doktoral?
A:Selama
ini, tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan sarjana, pascasarjana,
dan doktoral menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki
dengan kebutuhan pasar kerja. Pada sisi lain, perlambatan ekonomi global
pasca-COVID 19 dan ketidakpastian geopolitik global menyebabkan sektor industri
yang menyerap tenaga kerja collapse. Sehingga penawaran dan permintaan tenaga
kerja tidak berimbang. Hal ini lumrah pada sistem ekonomi yang berbasis pasar,
perputaran ekonomi bertumpu pada aktivitas bisnis swasta. Saat swasta stagnan,
pertumbuhan melambat, pasar tenaga kerja menurun.
Q:
Pada faktanya lulusan pascasarjana dan doktoral yang berjumlah 6000 orang
justru adalah pengangguran yang putus asa untuk mencari pekerjaan, bagaimana
menurut Ibu dalam menanggapi itu?
A:
Selain faktor pada poin 1, saya rasa ada kekeliruan dalam paradigma dan sistem
pendidikan kita yang menjadikan tujuan pendidikan kita pada setiap jenjang
adalah untuk mencetak profil lulusan yang siap kerja dan memenuhi kebutuhan
industri semata. Harusnya pendidikan menjadi pondasi untuk membentuk manusia
seutuhnya, yaitu manusia yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang baik dan
memahami tujuan utama hidup di dunia ini. Setelah itu, baru menurunkannya pada
kebutuhan penguasaan ilmu dan pengetahuan yang dilengkapi dengan keterampilan
yang dibutuhkan masyarakat, bukan hanya industri. Mahasiswa pascasarjana
harusnya sudah memiliki pondasi yang kuat dalam pembentukan kepribadian yang
utuh, sehingga lulusannya diarahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan yang berguna bagi masyarakat, bukan semata-mata
untuk memenuhi kebutuhan industri. Kalangan ini justru seharusnya diarahkan
untuk menjadi ilmuwan yang karyanya digunakan dan dirasakan oleh masyarakat.
Q:
Menurut Ibu, bagaimana proyeksi Indonesia Emas 20 tahun mendatang bila generasi
mudanya justru banyak yang menganggur?
A:
Target Indonesia Emas 2045 dapat tercapai apabila ada perubahan mendasar baik
dari aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik Indonesia. Untuk
memperbaiki sistem pendidikan kita secara fundamental, dibutuhkan dukungan
ekonomi inklusif (tidak hanya berpihak pada swasta/konglomerat/oligarki),
tetapi juga sistem sosial yang menjamin kesetaraan akses pendidikan dan ekonomi
yang sama bagi setiap warga negara. Untuk mewujudkan hal itu, tentu saja
membutuhkan sistem politik dan aksi pemimpin lewat kebijakan dan tindakannya,
fokus untuk melayani masyarakat, bukan memperkaya diri sendiri dan
golongan-golongan tertentu.
Q:
Janji penguasa dengan 19 juta lapangan pekerjaan menurut Ibu apakah bisa
terealisasikan?
A:
Janji 19 juta lapangan pekerjaan akan sulit terealisasi selama ekonomi masih
berbasis swasta, sumber-sumber daya strategis dikuasai segelintir orang
(konglomerat dan oligarki). Ketika ekonomi digerakkan dan didominasi oleh
swasta, ya tujuannya untuk mencari keuntungan, sehingga ketika ekonomi
melambat, mereka menahan investasinya. Sebagaimana kita ketahui, hampir seluruh
sektor strategis sudah diliberalisasi atau dikuasai oleh swasta. Sehingga
ketika mereka ngerem, semua ikut terpental. Jalan satu-satunya ya meninggalkan
liberalisasi ekonomi dan menggunakan sistem ekonomi alternatif yang tujuan
utamanya adalah pemenuhan hak-hak dasar setiap warga negara secara berkualitas,
adil, dan inklusif.
Pandangan
Dr. Ira Geraldina menegaskan bahwa persoalan pengangguran terdidik bukanlah
masalah individu semata, melainkan buah dari sistem pendidikan dan ekonomi yang
belum berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Selama pendidikan masih
dipersempit hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, dan ekonomi tetap bertumpu
pada kepentingan segelintir elite, maka pengangguran—bahkan di level tertinggi
pendidikan—akan terus berulang. Menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan
keberanian untuk melakukan perubahan mendasar: menghadirkan sistem pendidikan
yang membentuk manusia seutuhnya, serta kebijakan ekonomi yang menjamin
pemenuhan hak-hak dasar rakyat secara adil dan berkelanjutan. Tanpa itu, bonus
demografi berisiko berubah menjadi beban sejarah bagi generasi mendatang.

Komentar
Posting Komentar