Islam, Gen Z, dan Tantangan AI




#Reportase — Komunitas Backtomuslimidentity bersama dengan Remaja Masjid al-Ikhlas Cipete kembali menggelar acara talkshow dengan tema "Tech For Ummah: Islam, Gen Z, dan Tantangan AI", pada Sabtu, 4 Januari 2026 bertempat di Sekolah SMP Islam Al-Ikhlas Cipete. Acara ini mengundang para pemateri muslimah yang berkecimpung di bidang teknologi dan AI, yakni Kak Ilma Aliya Fiddien yang merupakan seorang General AI Engineer dan Kak Risqi, seorang Mahasiswa Teknik Informatika UIN Jakarta juga sebagai mentor robotik. Selain itu, ada pula Kak Zakiah Darajat seorang Alumni Program Kaderirasi Ulama PKU UNIDA Gontor sebagai narasumber yang membahas pandangan Islam terhadap kemajuan teknologi. 


Dalam diskusi acara ini, Ilma mengawali materi dengan memperkenalkan berbagai teknologi serta proses terciptanya sebuah perkembangan teknologi. Ilma menuturkan AI merupakan hal baru yang datang bersamaan dengan kemajuan internet. Teknologi saat ini membuat hampir semua orang pernah bercengkrama dengan AI. Sebab, saat ini internet bukan lagi hal yang tabu di kalangan berbagai lapisan masyarakat. Ia menyampaikan, AI memiliki jenis yang berbeda-beda, ada yang perlu menggunakan internet, ada pula yang tak menggunakan internet seperti camera dan CCTV. Selain itu, ada juga AI dengan skala besar seperti data center. Data center inilah uang digunakan untuk lahirnya aplikasi chat GPT. 


Ilma juga menjelaskan bahwa AI merupakan hasil proses yang panjang. Dalam prosesnya, terdapat berbagai elemen pendukung yang tidak bisa dipisahkan. Untuk mendapat model AI yang besar, diperlukan banyak data juga bersinggungan dengan perusahan data, hal ini juga berkaitan dengan kekuasaan dalam pengolahan data masyarakat.



Ilma menerangkan bahwa perkembangan teknologi ini juga bersinggungan dengan lingkungan. Pasalnya, untuk 'mendinginkan' data center, diperlukan beberapa mili air. Oleh karena itu, patutnya setiap masyarakat bijak dalam penggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan. Sebab, baginya, AI seperti pisau bermata dua, mampu meringankan pekerjaan sebagai manfaat, tapi juga dapat menjadi alat yang buruk jika salah dipergunakan. Ia berpesan untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan AI, sebab AI bisa menjebak saat digunakan untuk mencari validasi, karena AI akan mengikuti apa yang kita inginkan, dan kecenderungan ini membawa kita pada validasi hawa nafsu.


Bagai gayung bersambut, Risqi juga menjelaskan bagaimana cara hidup dengan AI. Sebab, tak bisa dipungkiri bahwa AI memiliki peluang dan ancaman bagai dua sisi yang berlawanan. Ia menunjukkan bahwa bahkan seorang ilmuwan bernama Geoffrey Hinton yang dikenal dengan sebutan Godfather of AI memilih resign di Google Brain, ia mengatakan bahwa peringatan eksistensial bahwa 'monster' yang ia bantu ciptakan telah lepas kendali.


Risqi menjelaskan bahwa AI hanyalah alat, bukan sebagai pengganti manusia, pengambil keputusan, dan penentu nilai. Maka, manusialah yang seharusnya memiliki kendali penuh untuk menggunakan AI sebagai alat mempermudah hidup dalam kebaikan. Ia juga menyampaikan bahwa sebagai seorang muslim, sepatutnya kemudahan teknologi ini digunakan untuk menyebarluaskan pesan nasihat dan dakwah secara masif dan luas. Ia juga melihat bahwa potensi AI di dunia muslim mampu menjadi peluang sebagai teman dakwah global bahkan revolusi pendidikan Islam.


Perihal tantangan AI bagi kaum muslim, Zakiah juga ikut menyampaikan bahwa seharusnya kehadiran AI adalah untuk mempermudah pekerjaan manusia. Ia menyoroti potensi kebangkitan generasi muslim di era digital ini sangatlah berdampak besar. Gen Z sebagai subjek di masa digital ini telah menjadi bukti bahwa kebangkitan berpikir di era digital justru berpotensi sangat masif membawa perubahan di kancah dunia. Menilik pada tahun 2025, banyak Gen Z yang mencoba melakukan dan membawa perubahan dengan adanya tuntutan yang dilayangkan diberbagai dunia seperti Nepal, Marocco, dan Madagaskar. Demo besar terjadi setelah adanya tuntutan terhadap keadilan, transparansi, dan juga pemerintahan yang lebih manusiawi. 


Zakiah menilai bahwa tuntutan yang dibawa oleh generasi Z di berbagai belahan dunia ini bukanlah tanpa sebab, melainkan karena adanya kegagalan sistem yang terjadi. Tuntutan tersebut lahir dari gagalnya kesejahteraan yang didapat oleh masyarakat, pemerintahan yang refresif otoriter hingga adanya rezim anti Islam. Oleh karena itu, penggunaan sosial media saat ini masif digunakan dalam hal-hal politik dan hukum, seperti perlunya viral agar dapat keadilan, sebagai tempat transparasi, bahkan menjadi ruang untuk menelanjangi kebobrokan sistem. Ia yakin, Gen Z mampu menjadi harapan baru yang berpotensi membangkitkan global movement yang membawa perubahan.


Namun, di sisi lain, Zakiah menilai bahwa Gen Z hanya fokus pada masalah teknis saja, tetapi tak benar-benar paham akar permasalahan yang terjadi. Sehingga, reaksi dan tuntutan yang dilayangkan hanya bersifat temporary, hanya bising sesaat, lalu senyap kembali. Demo dan unjuk rasa yang terjadi tak pernah bertahan lama, lalu kembali berganti ke isu lainnya tanpa benar-benar mendapatkan solusi atas masalah sebelumnya.


Oleh karena itu, menurut Zakiah, Gen Z dengan segala potensi yang ada perlu memahami akar-akar permasalahan yang terjadi agar perjuangan yang masif ini dapat berbuah hasil manis, bukan hanya masalah teknis. Akar permasalahan dapat terurai untuk dipahami tatkala Gen Z lebih membuka mata secara luas guna melihat benang merah yang terjadi. Namun, yang tak kalah penting adalah menyandarkan semua solusi atas segala masalah hanya kepada Islam. Tersebab seorang muslim memiliki kunci penuh dalam aturan Allah bahwa segala akar permasalahan dapat dikembalikan jika kembali melihat dari sudut pandang Islam.

Komentar