Bedah Fakta Sisi Kelam Laboratorium Uji Coba Industri Perang Global

 



#Reportase — Puluhan pelajar, mahasiswa, dan aktivis muda dari berbagai organisasi di Jabodetabek berkumpul dalam agenda Sharinqu pada Sabtu, 7 Februari 2026 di Jakarta. Sharinqu kali ini mengusung tema “Bedah Buku: Laboratorium P@!3stin4” buku karya Antony Loewenstein. Vibes ruangan terasa hidup saat acara dibuka oleh Kak Arantika Putri sebagai MC. Kak Arantika begitu bersemangat memandu acara, sehingga peserta begitu antusias menyimak materi.


Tiga pemateri hadir dengan perspektif yang menguatkan yaitu Kak Sivah (Koordinator Baik Berisik Jakarta), Kak Annisa (Bendahara Umum & Divisi Kaderisasi REMILA), dan Kak Mariam (BMIC Jakarta). Sebelum memasuki materi, Kak Arantika mengingatkan lagi isu hangat P@!3stin4, yaitu tentang Board of Peace, menjadi keresahan yang nyata di hati generasi muda muslim.


Pemateri pertama, Kak Sivah, menjelaskan fakta tentang sisi kelam P@!3stin4 dan kekejaman !sr4-h3ll, termasuk bagaimana industri militer !sr4-h3ll, yang dibangun sejak 1970 pascaperang besar dengan fokus pada kontrol populasi yang kemudian berkembang menjadi komoditas global. Teknologi yang diklaim telah “teruji” pada warga sipil P@!3stin4 itu lalu dipasarkan secara luas ke berbagai negara, baik rezim otoriter, pemerintahan represif, maupun negara demokrasi tanpa mempertimbangkan aspek etis.


Pasca 9/11 menjadi titik balik bisnis keamanan global, ketika !sr4-h3ll memosisikan diri sebagai “ahli perang melawan terorisme” dan mulai menjual teknologi pengawasan serta sistem perbatasan ke berbagai negara demokrasi.


Selain memperkuat kontrol fisik, !sr4-h3ll juga memperluas dominasi digital melalui spyware yang dapat menyusup ke ponsel dan mengakses data pribadi tanpa sepengetahuan pemiliknya, serta teknologi identifikasi biometrik untuk memantau warga secara menyeluruh. Di saat yang sama, kolaborasi dengan platform digital disebut digunakan untuk menyensor, membungkam kritik, dan melacak aktivis P@!3stin4.


Tentu saja hal ini ada kaitannya dengan Hasbara Project, sebuah kampanye untuk mengatur suara media dan persepsi masyarakat mengenai dukungan Amerika terhadap !sr4-h3ll. Ini terjadi setelah citra !sr4-h3ll tercoreng di mata dunia karena menyerang Lebanon di tahun 1982, dan membunuh 17.300 warga sipil. Lalu dua minggu setelahnya !sr4-h3ll membantai pengungsi di kamp Shabra & Shatilla.


Agar narasi media yang muncul menguntungkan !sr4-h3ll, maka !sr4-h3ll menjalin kongkalikong dengan firma-firma humas, pemilik perusahaan media, maupun elite politik di AS dan membangun mesin propaganda. Meski media di AS banyak dikuasai Yahudi, tak semuanya proz!0ni3s. Namun, mereka tetap memiliki kepentingan bisnis level global yang harus dilindungi.


Jaringan lobi pengusaha !sr4-h3ll dalam lanskap politik Amerika mencangkup banyak hal untuk memperkuat hubungan bilateral antara AS dan !sr4-h3ll. Memastikan kepentingan !sr4-h3ll selalu mendapat prioritas dalam kebijakan apa pun. Komite ini yaitu AIPAC (American !sr4-h3ll Public Affairs Committee).


Kemudian, !sr4-h3ll menyewa banyak lembaga humas yang bertugas membuat strategi yang selalu menguntungkan !sr4-h3ll dalam setiap narasi yang muncul. Watchdog Groups (Lembaga Pemantau) akan berperan filter menekan jurnalis dengan berbagai cara. Menuntut agar beritanya di ubah, atau memecat wartawan yang menulisnya.


Karena itu, kita perlu bersuara untuk P@!3stin4 dengan memanfaatkan potensi yang kita miliki, sebab sebesar apapun kekuatan tidak akan bernilai jika dibangun di atas penderitaan, sementara bahkan satu suara kecil yang membela kebenaran dan melindungi sesama dapat menjadi pijakan nyata menuju keadilan global.


Kak Annisa menjelaskan peran muslim dalam membangun empati global dengan menyinggung sejarah al-Quds pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, ketika kekejaman perang meninggalkan jejak kelam tanpa memandang latar belakang korban.


Ia menilai situasi di P@!3stin4 hari ini bukan insiden sporadis, melainkan penindasan yang terstruktur dan didukung sistem politik, ekonomi, serta industri global, termasuk pemanfaatan teknologi pengawasan dan kontrol populasi. Dalam perspektif Islam, kezaliman dan penjajahan ditolak tegas sebagaimana dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 57 bahwa Allah tidak menyukai orang zalim, sehingga momentum empati global perlu dimanfaatkan untuk menumbuhkan kepedulian nyata, karena diam terhadap ketidakadilan hanya akan menumpulkan nurani.


Kak Maryam, memaparkan penjajahan terus berlanjut dan para pemimpin dunia tidak bisa menghentikannya karena itu tak lain industri senjata dan keamanan !sr4-h3ll. !sr4-h3ll tidak peduli apa pun tentang P@!3stin4, mereka hanya memperdulikan uang dan kekuasaan. !sr4-h3ll terus melakukan upaya untuk terus menjadi negara adidaya terkuat.

Disebutkan bahwa demi kepentingan industri senjata dan ambisi kekuasaan, !sr4-h3ll menjalin kerja sama dengan berbagai rezim, termasuk yang memiliki rekam jejak kelam, karena bisnis persenjataan yang diklaim “teruji di lapangan” dinilai menguntungkan secara strategis. Pasca-9/11, narasi “perang melawan teror” turut mendorong lonjakan permintaan global terhadap teknologi keamanan !sr4-h3ll, sementara P@!3stin4 disebut menjadi ruang uji coba, disertai penguatan kontrol narasi dan pengawasan digital untuk mempertahankan dominasi serta citra internasional.


Karena demokrasi, dengan lantang mereka mengatakan bahwa permasalah !sr4-h3ll dengan P@!3stin4 adalah two state solution. Padahal, P@!3stin4 butuh pembebasan dengan cara perangi dan usir penjajahnya. Jadi, bukan in democracy we believe tapi in Islam (Khilafah) we trust. Karena dengan adanya sistem demokrasi muslim terpecah belah, negara Islam terbagi-bagi layaknya cake yang dipotong-potong lalu diberi ke masing-masing personal.


Fakta yang ada sekarang tanpa adanya penerapan sistem Islam secara kafah, umat tidak dapat membela kezaliman saudara muslimnya di P@!3stin4. Negara-negara muslim pun tidak bisa berbuat apa-apa karena terhalang tembok demokrasi. Padahal kezaliman itu harus diberantas.


Dikisahkan bahwa ketika seorang perempuan muslim dilecehkan oleh bangsa Romawi dan kabarnya sampai kepada khalifah, ia segera mengirim pasukan besar sebagai bentuk perlindungan dan penegakan kehormatan, bagaimana kepemimpinan saat itu merespons cepat terhadap ketidakadilan. Dari kisah tersebut ditarik kesimpulan bahwa persoalan P@!3stin4 dipandang bukan sekadar konflik wilayah, melainkan terkait sistem global yang dinilai membiarkan kepentingan politik dan industri berdiri di atas penderitaan manusia, sehingga keadilan kerap kalah oleh kepentingan.[Nisa]

Komentar