Relokasi Data dan Rapuhnya Jaminan Sosial?



Annisa Suciningtyas


#Wacana — Kementerian Sosial (Kemensosmenonaktifkan 13,5 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Mengutip laman Kompas.com (10/02/2026), kebijakan ini disebut sebagai relokasi bantuan agar subsidi dialihkan kepada warga yang lebih miskin dan rentanKemensos menegaskan langkah tersebut bukan instruksi Presidenmelainkan berbasis pada pembaruan data sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 tentang data tunggal yang mengacu pada DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional).


Dari penonaktifan massal inimembuktikan satu hal bahwa jaminan sosial dalam sistem kapitalisme sangatlah rapuh. Hak kesehatan yang semestinya menjadi kebutuhan dasar rakyat, kini justru bergantung pada validasi administratif. Ketika data berubah, status kepesertaan ikut berubahUkuran utama bukan lagi kondisi medis yang mendesakmelainkan kelayakan dalam sinkronisasi data dan penyesuaian beban anggaran.


Dampaknya begitu nyataJutaan rakyat miskin menghadapi ketidakpastian akses layanan kesehatan. Bagi banyak keluargaini bukan sekadar angka dalam database, tetapi soal bisa atau tidaknya mereka berobat saat sakit. Dalam logika kapitalismekesehatan diposisikan sebagai sektor pembiayaan (cost center) yang harus dijaga keberlanjutan fiskalnya.


Negara kapitalisme sering bertindak sebagai manajer anggaranbukan penjamin penuh kebutuhan vital rakyat. Terlihat seakan sedang memastikan subsidi tepat sasarantapi faktanya mereka sedang menekan beban APBN dan memverifikasi siapa yang layak menerimaInilah problem struktural dalam tata kelola pelayanan kesehatan di bawah sistem kapitalisme.


Jika akses kesehatan masih dapat dinonaktifkan karena perubahan data dan kuotamaka yang diberikan sejatinya bukan jaminanmelainkan subsidi bersyaratJaminan memberi kepastianSubsidi bisa disesuaikan. Di sinilah pertanyaannyaapakah kesehatan benar-benar dijamin sebagai hakatau hanya diberikan setengah hati selama anggaran memungkinkan?


Ketika akses kesehatan rakyat bergantung pada kuotaiuran, dan validasi data, maka yang terjadi bukan perlindungan menyeluruhmelainkan bantuan yang sewaktu-waktu dapat dicabut atas nama efisiensi.


Dalam perspektif Islam, kesehatan termasuk kebutuhan dasar yang wajib dijaminbukan sekadar bantuan yang disesuaikan anggaran. Negara berkewajiban menyediakan layanan kesehatan secara gratis, berkualitas, dan tanpa syarat administrasi yang menggugurkan hak rakyat. Sebab kepemimpinan dalam Islam adalah ri’ayatu syu’unil ummahyakni mengurus seluruh urusan umatbukan mengelola kuota dan klasifikasi kemiskinan.


Pembiayaan kesehatan dalam Islam tidak dibebankan kepada individu melalui skema iuran. Negara mengambilnya dari kas baitulmal yang bersumber dari pos-pos pemasukan syar’i seperti fa’ikharaj, jizyah, dan kepemilikan umumDengan mekanisme inipelayanan kesehatan tidak bergantung pada klasifikasi kemiskinan maupun kuota subsidimelainkan menjadi tanggung jawab langsung negara terhadap seluruh rakyat.


Pemimpin dalam Islam (Khalifah) benar-benar menjamin dan bertanggung jawab penuh atas penyediaan fasilitas kesehatandokterserta tenaga medis profesional bagi seluruh rakyat. Layanan diberikan tanpa membedakan status ekonomi dan tanpa syarat administratif yang menggugurkan hak. Negara tidak menyerahkan urusan kesehatan kepada mekanisme pasar atau skema asuransi berbasis iuranmelainkan mengelolanya sebagai pelayanan publik yang wajib tersedia bagi setiap individu.


Dalam praktiknya, negara membangun rumah sakitklinikpusat penelitian medisserta memastikan distribusi tenaga kesehatan merata hingga ke wilayah terpencilPembiayaan seluruhnya ditanggung oleh baitulmal sehingga rakyat tidak dibebani biaya saat membutuhkan pengobatanDengan paradigma inikesehatan tidak diposisikan sebagai komoditasmelainkan sebagai hak dasar yang dijamin karena amanah kepemimpinan.


Pada akhirnyapersoalan kesehatan bukan sekadar soal data dan anggarantetapi soal komitmen negara dalam menjamin hak rakyat. Selama masih bergantung pada kuota dan klasifikasi sebagaimana kapitalismetentu hal itu tetaplah subsidi yang bisa berubahSedangkan Islam menempatkannya sebagai jaminan penuh atau amanah yang wajib ditunaikanbukan kebijakan yang bisa disesuaikan. 



 

Komentar