NR. Nuha
#CatatanRedaksi — Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah militer Iran secara resmi menutup Selat Hormuz sebagai respons atas agresi militer AS dan sekutunya yang menyasar fasilitas strategis di Teheran. Jalur yang menjadi urat nadi energi dunia ini kini lumpuh total, memutus akses bagi jutaan barel minyak yang melintas setiap harinya. Langkah ini diambil di tengah kepungan sanksi dan ancaman keamanan, yang dampaknya segera menjalar ke seluruh penjuru dunia. Laporan dari Kompas.id (06/03/2026) memberikan proyeksi yang mencemaskan: biaya logistik global diperkirakan melonjak hingga 12 persen akibat gangguan distribusi ini. Senada dengan itu, analisis dari KumparanBisnis menyoroti bahwa dampak penutupan ini tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan teluk, tetapi juga menyeret stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor energi besar seperti Indonesia.
Dalam logika pasar kapitalistik, ancaman ini dipahami sebagai variabel teknis yang harus dihitung dampaknya terhadap inflasi dan daya beli. Para pengusaha mulai sibuk mengkalkulasi kenaikan harga minyak mentah dunia yang diprediksi bisa menembus angka 50 dolar AS per barel di atas harga normal. Namun, bagi muslim yang memandang realitas dengan kacamata iman, peristiwa ini menyiratkan pesan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar urusan neraca dagang atau angka-angka makro.
Ancaman kenaikan biaya logistik ini adalah potret nyata betapa rapuhnya kedaulatan ekonomi dunia yang disandarkan pada sistem kapitalisme spekulatif. Selat Hormuz, yang secara geografis berada di jantung negeri muslim, seharusnya menjadi instrumen kekuatan tawar (bargaining power) yang melindungi kepentingan umat. Namun ironisnya, jalur strategis ini justru sering kali menjadi titik lemah yang dieksploitasi oleh kepentingan hegemoni asing. Mengapa kekayaan energi dan posisi geopolitik yang luar biasa ini justru menjadi sumber kerentanan bagi penduduk dunia Islam?
Akar masalahnya terletak pada sekat-sekat nasionalisme yang memecah kekuatan umat menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak berdaya. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, di bawah sistem saat ini, potensi besar energi yang secara syariat merupakan kepemilikan umum (al-milkiyah al-ammah) tersandera oleh fluktuasi geopolitik yang dikendalikan oleh negara-negara harbi Barat. Hal ini diperkuat oleh analisis Syekh Abdul Qadim Zallum dalam Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, yang menegaskan bahwa ketergantungan pada mata uang asing dan sistem distribusi Barat membuat negeri-negeri muslim kehilangan kontrol atas aset strategisnya sendiri. Kita dipaksa tunduk pada ketidakpastian global karena tata kelola sumber daya alam kita tidak lagi dipandu oleh wahyu, melainkan oleh syahwat pasar dan ketergantungan pada investasi asing yang sering kali menjerat.
Islam memberikan pandangan yang kontras dan solutif. Dalam perspektif Islam, sumber daya strategis dan jalur-jalur laut yang menguasai hajat hidup orang banyak tidak boleh diserahkan pada mekanisme pasar bebas yang rakus. Negara memiliki kewajiban mutlak sebagai Raa’in (pengurus) untuk mengelola aset tersebut secara mandiri demi kemaslahatan rakyat. Solusi hakiki atas krisis logistik ini tidak akan ditemukan dalam hitungan teknis penyesuaian tarif atau subsidi silang yang bersifat tambal sulam.
Kedaulatan sejati hanya akan terwujud ketika pengelolaan aset strategis kaum muslim kembali berada di bawah satu komando politik yang mandiri dan tegak di atas syariat (al-Khilafah). Hanya dengan menjadikan hukum Allah sebagai petunjuk arah, kekayaan alam negeri-negeri muslim tidak lagi sekadar menjadi objek eksploitasi global, tapi menjadi perisai (junnah) yang menjamin stabilitas serta keberkahan hidup.
Peristiwa di Selat Hormuz hari ini seharusnya menjadi momentum refleksi—sampai kapan kita akan membiarkan—hajat hidup umat ditentukan oleh konflik yang disetir oleh kepentingan politik global Barat. Sudah saatnya kita kembali pada kemandirian hakiki, yakni kemajuan ekonomi tidak lagi dibayar dengan hilangnya kedaulatan, melainkan diraih melalui ketaatan pada Sang Pencipta. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar