Adik Tega Bunuh Kakak di Kelapa Gading, Kapitalisme Gagal Mewujudkan Kehidupan Sesuai Fitrah Manusia
Anggun Mustanir
#Jakut — MAH (16) seorang adik, tega memukul kepala kakak kandungnya MAE (22) menggunakan palu hingga tewas di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kasus tersebut tengah menyita perhatian publik dan saat ini ditangani langsung Polres Metro Jakarta Utara (Kumparan.com, 26/02/2026).
Masih dikutip dari laman berita yang sama Kumparan.com, 26/02/2026, Kejadian sore itu dipicu oleh keteledoran abangnya yang meletakkan barang-barang pribadi di kamar si adik. Akibatnya, si adik merasa kesal, apalagi ketika ditegur oleh ibunya si kakak tetap tidak mengindahkan. Sikap tersebut membuat si adik amarahnya memuncak hingga berujung pemukulan menggunakan palu ke kepala korban. Kepada penyelidik, MAH mengakui kalau tindakan brutal kepada kakaknya merupakan luapan emosi yang terpendam sejak lama, dan masalah yang menumpuk. Selain dendam, MAH juga memiliki rasa cemburu kepada kakaknya. Dia merasa ibunya lebih perhatian kepada kakaknya. Atas permasalahan psikologi ini, penyelidik akan melakukan pemeriksaan Psikiatrikum kepada pelaku.
Bukan hanya karena dendam kesumat yang sudah lama, apa yang dilakukan si adik merupakan bentuk pembelaan terhadap ibunya. Si adik merasa tidak tega melihat sang ibu, NA, ditekan oleh sang kakak di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sedang goyah untuk memenuhi biaya kuliahnya (Wartakotalive.com, 27/02/2026).
Menurut sang ibu, keretakan rumah tangga menjadi penyebab perubahan drastis perilaku anak-anaknya. Pascaperceraian, mantan suami memilih menikah lagi dan seolah menghilang ditelan bumi. Bahkan, dia memblokir nomor telepon anak-anak kandungnya sendiri selama tujuh bulan terakhir. Himpitan ekonomi mulai terasa ketika anak sulungnya, membutuhkan biaya besar untuk keperluan kuliahnya. Di sisi lain, sang ibu harus berjuang sendiri mencari nafkah tanpa dukungan finansial dari mantan suaminya. Si adik bertindak impulsif diduga karena tidak sanggup melihat ibunya menderita sendirian menanggung beban hidup. Padahal, si adik dikenal sebagai anak yang berperilaku baik. NA menduga anak keduanya mengalami trauma psikis akibat perceraian orang tuanya (Wartakotalive.com, 27/02/2026).
Miris, sebuah peringatan keras bahwa luka batin akibat perceraian seringkali dirasakan paling dalam oleh anak-anak tidak berdosa. Perceraian orang tua menyebabkan anak mengalami krisis identitas. Menurut Psikolog anak dan remaja, Elly Risman, anak laki-laki yang tumbuh tanpa peran ayah cenderung menunjukkan perilaku agresif, melakukan seks bebas, nakal, bahkan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Sementara itu, anak perempuan yang mengalami fatherless lebih rentan terhadap seks bebas, bahkan depresi. Kehilangan salah satu figur penting dalam pengasuhan bisa menyebabkan ketimpangan perkembangan psikologis anak. Parahnya menurut Kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Indonesia dinyatakan masuk dalam 10 besar negara kasus fatherless dalam pengasuhan anak.
Pemahaman orang tua terkait pengasuhan juga terbatas. Di kehidupan dengan sistem kapitalisme yang menaungi kita saat ini, orang tua lebih banyak fokus mencari nafkah. Bahkan, banyak ibu yang harus membagi waktunya untuk ikut banting tulang mencari cuan. Akibatnya, sebagian perannya sebagai ummu warrobatul al-bayt teramputasi. Kurangnya “quality time” dan komunikasi antara suami dan istri menyebabkan hubungan yang tidak sehat, bahkan berujung perceraian.
Anak-anak banyak menghabiskan waktunya bersama “setan gepeng” alias gadget daripada bercengkrama dengan orang tua. Masalah yang njlimet akibat pola asuh yang salah juga terkadang menimbulkan kecemburuan di antara saudara kandung. Di saat orang tua merasa salah satu anaknya bisa diandalkan, maka dia akan lebih permisif terhadap anak yang lain. Selain itu, saat ini muncul istilah sandwich generation yakni salah satu anak menanggung beban untuk menghidupi dirinya sendiri, orang tua/saudara-saudaranya, dan anak-anaknya.
Sesungguhnya, kasus-kasus seperti yang terjadi di Kelapa Gading juga terjadi di beberapa daerah. Sebelumnya, di Jakarta Utara juga terjadi kasus pembunuhan di daerah Warakas terhadap ayah, ibu, dan anak yang dilakukan oleh anak tengah akibat si pelaku merasa orang tuanya pilih kasih. Belum lagi di tempat-tempat lain yang mungkin luput dari pemberitaan. Oleh sebab itu, kalau saja pemerintah sebagai pihak yang memiliki kendali terhadap kebijakan mau melakukan evaluasi. Seharusnya, kasus-kasus tersebut dijadikan pembelajaran agar tidak terus berulang.
Namun, kejadian mengerikan tersebut tidak akan berlarut-larut apabila para pemangku kebijakan menjadikan aturan Allah Swt., yakni Al-Qur'an dan sunah sebagai sandaran. Kebijakan yang berasaskan Al-Qur'an dan sunah menjadikan manusia hidup sesuai fitrahnya. Negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap rakyatnya tentu akan memenuhi segala kebutuhan dasar manusia, yaitu sandang, pangan, dan papan.
Selain itu, agar ayah dan ibu bisa maksimal menjalankan perannya masing-masing, negara akan menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk para lelaki. Negara juga memberikan edukasi bahwa tanggung jawab nafkah sepenuhnya dipikul oleh kepala keluarga. Apabila kepala keluarga meninggal, paman atau kakek dari garis ayah akan menjadi walinya. Jika memang tidak ada keluarga yang bisa menanggung, maka negara bertanggung jawab dengan dana yang diambil dari baitulmal.
Negara akan sekuat tenaga memaksimalkan potensi sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat termasuk di bidang pendidikan dan kesehatan. Sehingga, izzah para perempuan tetap terjaga dari eksploitasi. Para ibu akhirnya juga bisa maksimal menjalankan perannya di rumah untuk mempersiapkan generasi tangguh dan cemerlang. Dalam bidang pendidikan, negara yang menjadikan Islam sebagai pedoman hidup akan menyediakan sarana prasarana pendidikan yang memadai, bahkan gratis. Tidak seperti yang terjadi saat ini, pendidikan bagaikan menara gading yang sulit dijangkau.
Pemahaman akidah yang kuat dalam Islam akan menumbuhkan Nafsiyah dan Syaksiyyah Islamiyyah (sikap dan kepribadian) Islam yang kuat. Sehingga, akan menjauhkan anak dari tindakan kriminal yang membuat Allah Swt. tidak rida. Oleh sebab itu, kasus-kasus kriminal yang terjadi seperti saat ini akan dapat ditekan bahkan dihilangkan.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Maryam Ayat 96 yang artinya, “Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." Wallahualam bissawab.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar