#Editorial — Tahun ini, umat Islam menjalani Idulfitri di tengah bergolaknya situasi politik global. Media massa maupun medsos terus meng-update kondisi Perang Iran yang makin memanas. Penutupan Selat Hormuz menyusul serangan-serangan balasan yang dilancarkan Iran ke wilayah pendudukan di Palestina dan tempat-tempat strategis milik AS di beberapa negara Arab, membuat Trump marah besar. Ia pun memanfaatkan situasi itu untuk mencoba memobilisasi kekuatan militer negara-negara Arab dan Eropa yang turut terdampak untuk sama-sama melawan Iran. Ia menyerukan agar komunitas internasional bersama-sama menghadapi rezim Iran yang ia sebut sebagai “rezim teroris dan fanatik”. Melalui akun Truth Social miliknya (22-3-2026), Trump sempat mengancam akan menghancurkan pusat listrik Iran jika dalam waktu 48 jam—sebelumnya 5 hari—Selat Hormuz terus ditutup.
Namun, alih-alih takut, Iran malah balik mengancam akan menghancurkan pusat-pusat energi berupa ladang gas dan minyak yang ada di negara-negara Arab tersebut. Pihak otoritas Iran juga menyatakan bahwa Selat Hormuz dan pasar energi tidak akan kembali pada situasi semula. Iran bertekad untuk terus membalas dan mempertahankan negara sekuat tenaga.
Perang Iran dan Bayang-Bayang Perang Ahzab
Sejauh ini, seruan Trump memang belum mendapat sambutan positif dari para pemimpin Eropa. Pemerintah Inggris, Jerman, dan Prancis malah menyatakan keengganan mereka untuk bergabung dalam misi militer yang diinisiasi AS untuk mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz. Mereka bahkan secara implisit menyebut konflik tersebut adalah konsekuensi kebijakan “tekanan maksimum” AS, bukan kepentingan langsung Eropa.
Begitu pun dengan sekutu AS di negeri-negeri Arab. Para penguasanya, khususnya Arab Saudi, cenderung menunjukkan sikap ambigu: di satu sisi melobi Trump untuk melawan Iran, di sisi lain berhati-hati agar wilayahnya tidak digunakan untuk serangan langsung. Akan tetapi, secara umum mereka lebih memilih jalur diplomasi. Mereka aktif melakukan lobi dan berkoordinasi secara taktis, baik kepada pihak koalisi AS-Zion*s maupun Iran agar keduanya mau duduk di meja perundingan. Semua ini mereka lakukan tentu demi kepentingan keamanan nasional masing-masing.
Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan suatu saat negara-negara sekutu AS-Zion*s dari bangsa Arab dan Eropa itu akan bersatu melawan Iran. Pasalnya, meluasnya perang ke beberapa kawasan, serta dampak strategi perang yang dimainkan Iran, baik berupa pengerahan berbagai potensi persenjataan yang mencengangkan banyak orang, maupun penggunaan teror ekonomi dan kekuatan geopolitik melalui Selat Hormuz, jelas tidak bisa dipandang ringan.
Faktanya, ekonomi global mengalami keguncangan akibat melonjaknya harga minyak bumi, gas, dan barang-barang strategis lainnya. Ancaman inflasi, bahkan stagflasi, juga membayang-bayangi kondisi perekonomian di berbagai negara, termasuk negara-negara di Eropa. Ancaman lainnya adalah gelombang migrasi yang sangat mungkin terjadi jika Perang Iran ini meluas dan tidak segera berhenti. Alhasil, saat ini mereka sedang berhitung saja sambil melakukan lobi kiri-kanan agar perang segera dihentikan.
Update terakhir menyebutkan Presiden Trump sempat mengumumkan menunda ancaman untuk mengebom jaringan listrik Iran tersebut setelah melakukan apa yang ia sebut sebagai pembicaraan produktif tentang “penyelesaian permusuhan secara menyeluruh dan total di Timur Tengah” dengan para pejabat Iran. Namun, Pemerintah Iran justru membantah adanya perbincangan tersebut dan menyebut bahwa yang disampaikan Trump hanyalah “operasi psikologis” yang “usang” dan tidak berdampak pada perlawanan Teheran.
Pemerintah Iran bahkan menyebut pernyataan Trump itu sebagai berita palsu yang digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak global yang sempat goyah akibat ancamannya sendiri. oleh karenanya, Iran tetap tegas menyatakan dalam posisi melawan. Bahkan, Iran menjawab klaim Trump tersebut dengan melancarkan serangan rudal ke wilayah pendudukan Zion*s di Palestina yang menyebabkan pemukiman di utara Tel Aviv diberitakan rusak parah. (Reuteurs, 24-3-2026).
Derita Dunia Dampak Kapitalisme Global
Satu hal yang tidak boleh lupa, sepanjang terjadinya Perang Iran, kondisi umat Islam di Gaza makin menderita. Juru bicara Ham*s, Hazem Qassem, dikutip Meadle East Monitor (10-3-2026), sempat menyampaikan bahwa militer Zion*s justru memanfaatkan perhatian internasional terhadap konflik yang melibatkan Israel, AS, Iran, dan Lebanon itu untuk mengintensifkan operasi militer di Gaza. Mereka membunuhi warga sipil, bahkan menargetkan tenda-tenda yang menampung pengungsi Gaza. Mereka juga melanjutkan blokade sehingga jelas-jelas melanggar perjanjian gencatan senjata.
Di wilayah West Bank, pihak pendudukan bukan hanya berani menutup Masjidilaqsa selama Ramadan. Saat lebaran pun mereka melarang kaum muslim melakukan Salat Id di sana. Tindakan tersebut tentu saja menuai kecaman dari umat Islam dunia. Berbagai pihak—termasuk Majelis Ulama Indonesia—menilai bahwa larangan Salat Id untuk pertama kalinya sejak 1967 ini menunjukkan eskalasi kontrol penuh atas Masjidilaqsa oleh pihak pendudukan.
Menilik apa yang terjadi di kawasan—berupa jemawanya Amerika, kejahatan luar biasa yang dilakukan Zion*s si bangsa kera, kemunafikan para penguasa Arab dan muslim lainnya, serta tidak berdayanya umat Islam dunia yang berjumlah sangat besar dalam menolong muslim Palestina sekaligus membungkam kejemawaan koalisi AS-Zion*s di kawasan—sudah sepantasnya bagi kita untuk merenungkan apa yang terjadi sebenarnya. Keterpurukan, keterpecahbelahan, dan kelemahan umat yang diberi predikat oleh Allah sebagai khairu ummah sekaligus pemimpin peradaban manusia ini jelas bukan karena takdir, melainkan dampak dari jauhnya umat ini dari tuntunan Allah Swt., sejalan dengan hilangnya institusi politik Khilafah yang berfungsi sebagai pemersatu, pengurus, sekaligus perisai umat di seluruh dunia.
Oleh sebab itu, tidak salah jika saat terjadi perdebatan mengenai Perjanjian Lausanne (perjanjian damai antara Khilafah Utsmani dan sekutu pasca-Perang Dunia I) di Parlemen Inggris (1923), Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris (1919—1924) yang juga mantan Raja Muda India, menegaskan, “Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi karena kita telah menghancurkan kekuatannya, yaitu Khilafah dan Islam.” Lord Curzon adalah salah satu arsitek utama kebijakan Inggris untuk menghancurkan Kekhalifahan Utsmaniyah sebagai institusi politik umat Islam dunia. Pandangannya yang terkenal adalah bahwa Inggris, sebagai negara pertama kala itu, tidak dapat menguasai dunia Islam selama Khilafah masih ada.
Terbukti, setelah diruntuhkannya Khilafah pada 1924 melalui konspirasi Barat dan keterlibatan Mustafa Kemal sebagai agennya, umat Islam bagai ayam kehilangan induknya. Mereka tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara bangsa yang nasibnya didikte oleh para penjajah dan semua kekayaannya dirampok secara legal melalui undang-undang yang diformalisasi para penguasa boneka mereka. Tidak ada lagi kebanggaan atas jati diri sebagai umat Islam. Mereka berubah dari entitas khairu ummah yang memimpin peradaban, menjadi bangsa pecundang yang mengekor pada Barat dalam seluruh urusan kehidupan mereka.
Umat ini pun benar-benar tidak berdaya saat Barat menciptakan berbagai penderitaan di dunia. Ideologi kapitalisme yang merasuki otak, darah, dan daging bangsa-bangsa Barat, dengan sekularisme dan liberalisme (paham kebebasan) sebagai asasnya, telah membuat mereka menjadi bangsa yang rakus dan kejam kepada sesamanya. Mereka gunakan segala cara untuk menguasai dunia, terutama dunia Islam yang punya potensi perlawanan berupa ideologi Islam, sekaligus potensi kekayaan alam melimpah ruah yang mereka inginkan.
Di Timur Tengah, mereka menggunakan taktik pecah belah melalui penancapan nasionalisme, juga tekanan politik, ekonomi, bahkan militer untuk mencocok hidung para penguasa boneka. Termasuk dengan menanam duri di jantung umat, berupa negara hoax bernama Israel di tanah Palestina. Di wilayah lain, mereka tebar racun pemikiran dan budaya yang merusak pemahaman dan akhlak generasi umat, sehingga mereka pun tidak lagi memiliki visi hidup sebagai khalifah sekaligus penerus risalah serta penjaga Islam yang terpercaya.
Berbagai strategi, taktik, dan wasilah mereka gunakan agar umat ini tetap dalam posisi kalah dan mereka terjauhkan dari kunci kebangkitannya. Yakni berupa pemahaman dan keyakinan lurus atas Islam sebagai sebuah ideologi yang ajarannya diterapkan secara kafah oleh institusi politik bernama Khilafah. Khilafah menjadi diksi yang asing, bahkan ditakuti oleh sebagian umat. Terlebih Barat berupaya melakukan monsterisasi, sekaligus deideologisasi Islam dengan menyebarkan pemikiran Islam moderat bahkan melalui jalur pendidikan formal.
Khilafah, Agenda Utama Perjuangan Umat Islam
Apa yang terjadi di kawasan, termasuk Perang Iran, semestinya memberi banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Di antaranya terkait rapuhnya sistem politik kapitalisme global di bawah kepemimpinan AS serta gagalnya sistem negara bangsa (nation state) dalam mewujudkan kebangkitan. Juga soal persekongkolan jahat AS-Zion*s beserta para sekutunya, baik dari negara-negara Barat maupun para penguasa muslim, khususnya para pemimpin Arab yang tanpa malu memilih menjadi loyalis AS dan Zion*s hingga mau bersekutu menista sesamanya hanya demi langgengnya kedudukan mereka di kursi kekuasaan.
Perang Iran juga menunjukkan fakta bahwa umat Islam sejatinya punya potensi kekuatan untuk melawan hegemoni kapitalisme global dengan nafsu imperialisnya. Umat Islam punya potensi ideologi, geopolitik, geostartegi, kekayaan alam, kemampuan SDM, bahkan potensi teknologi yang bisa dioptimalkan menjadi kekuatan penyeimbang, bahkan berpotensi mengalahkan lawan. Lihat saja, betapa koalisi AS-Zion*s kewalahan ketika harus berhadapan dengan kekuatan militer Iran yang sendirian. Bisa dibayangkan jika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan Khilafah, tentu semua potensi yang ada akan dimobilisasi hingga dipastikan akan menggetarkan musuh-musuhnya.
Masalahnya adalah, menegakkan Khilafah tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Khilafah hanya akan tegak atas dukungan dan keridaan mayoritas umat, sebagaimana ketika penduduk Madinah rela menyerahkan kekuasaan mereka kepada baginda Rasulullah saw. Dukungan seperti ini tentu akan didapat ketika umat paham bahwa konsekuensi iman adalah ketaatan total pada seluruh syariat Islam. Bukan hanya dalam urusan ibadah dan moral, melainkan dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari politik pemerintahan, ekonomi, pergaulan, hukum, dan sanksi, dll. yang keseluruhannya hanya bisa diimplementasikan dalam sistem pemerintahan bernama Khilafah.
Selanjutnya, mereka juga harus paham bagaimana konstruksi Khilafah, serta bagaimana Khilafah bekerja menyolusi seluruh problem umat—termasuk tantangan kekinian—dengan syariat Islam. Alhasil, bukan hanya umat Islam, tapi manusia secara keseluruhan bisa terangkat dari penderitaan yang ditimbulkan oleh penerapan kapitalisme global.
Tentu yang tidak kalah penting, umat juga harus paham bahwa menegakkan Khilafah sejatinya bukan cuma urgen, tapi juga kewajiban. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain turut terjun ke kancah perjuangan bersama jemaah dakwah ideologis yang tulus bekerja untuk Islam. Justru di jalan inilah mereka akan mendapat kemuliaan, sebagaimana generasi umat terdahulu mendapatkan kemuliaan. Meskipun mereka juga harus paham bahwa perjuangan menegakkan Khilafah pasti akan menghadapi berbagai tantangan sebagaimana juga dihadapi generasi terbaik binaan Rasulullah saw.

Komentar
Posting Komentar