#Reportase — Di hadapan puluhan jemaah, Mubaligah Kota Depok, Ustazah Santi Fawrita mengungkapkan setidaknya ada dua poin mengapa ketakwaan ini menjadi penting untuk dipelihara. Hal tersebut ia ungkap dalam forum Kajian Keluarga Sakinah "Memelihara Takwa Pasca-Ramadan", Ahad (12/04/2026) di Depok.
Adapun kedua poin tersebut, yaitu pertama, bahwasannya takwa itu harusnya dilakukan secara konsisten, secara Istikamah. Bukan musiman, misalnya tiap hari Jumat saja, atau ketika bulan Ramadan saja. “Jadi, takwa itu tidak seperti buah, kalau buah musiman, tentu akan dicari walaupun dia susah atau bahkan mahal sekalipun. Tetapi kalau takwa tidak,” tuturnya.
Apalagi jelasnya, Rasul saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kalian berada. Artinya dimensi takwa itu harus hadir dalam kehidupan tak terbatas waktu, tidak terbatas tempat. Dalam setiap kehidupan kita, kita harus hadirkan takwa di dalam diri kita,” jelasnya.
Sebagaimana Allah katakan dalam Al-Qur'an, tegasnya, takwa itu haruslah sampai mati. Jadi, harus dipastikan ketika mati tetap dalam menjadi kondisi muslim. Artinya, kalau menjadi muslim, harus percaya kepada Allah, beriman kepada Allah, dan berharap ketakwaan itu ada dalam diri. “Itulah pentingnya takwa, karena menjadi kunci keselamatan kita baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, takwa itu tidak boleh lepas,” ujarnya.
Kedua, takwa merupakan amal kebaikan yang dapat menghapus kesalahan yang pernah dilakukan. “Kita sering dengar kalau kita berpuasa akan mendapatkan ketakwaan. Namun Allah juga mengatakan, "Barangsiapa yang berpuasa dengan keimanan dan keikhlasan, maka ia diampuni dosa-dosa yang telah lalu,” terangnya.
“Allah akan menutupi kesalahan kalian, aib-aib kalian, dosa-dosa kalian dan Allah akan mengampuni kalian asalkan kalian bertakwa. Mau Bu? Tentu mau kan. Pasalnya manusia tidak mungkin lepas dari dosa. Jadi haruslah menjadi orang yang bertakwa. Pastikan diri kita menjadi orang-orang yang memiliki ketakwaan,” bebernya. Ia pun menegaskan, sesungguhnya takwa itu tidak terlihat. Cuma dari apa yang tampak itu akan menjadi cermin.
“Ketika kita memakai pakaian yang sesuai dengan syariat, dengan kita berbicara sesuai dengan syariat, ketika kita berbuat sesuai dengan syariat. Hingga ketika kita berpuasa pun, karena landasannya takwa tadi InsyaAllah itu akan menjadi cermin bagi kita, bahwasannya kita ingin mendapatkan ketakwaan. Memang tidak kelihatan, tapi dikatakan cermin dari adanya takwa dalam diri manusia itu adalah akhlak mulia kepada sesama manusia,” pungkasnya.[Sari Liswantini]

Komentar
Posting Komentar