Jati Diri Seorang Muslim


Siti Rima Sarinah


#MutiaraAl-Qur'an — Allah Swt. menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sebaik-baik bentuk dan memberikan seperangkat aturan kehidupan yang sangat sempurna. Seperangkat aturan ini dibuat agar seorang hamba senantiasa berjalan sesuai tujuan penciptaannya ke dunia untuk beribadah. Sehingga tak satu pun aktivitas dalam kehidupan umat muslim yang tidak diatur oleh Islam, baik secara pemikiran maupun berkaitan dengan sikap dan perilakunya. Karena umat Islam telah mendapatkan predikat umat terbaik, sehingga pemikiran dan perbuatannya diarahkan hanya untuk menyampaikan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar). 

Allah Swt. berfirman, ”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (Surah Ali-Imron Ayat 110)

Ayat di atas merupakan penegasan dari Allah kepada umat muslim sebagai umat terbaik, untuk senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar yang merupakan wujud konsekuensi sebagai seorang muslim. Sehingga keberadaan umat muslim yang dilahirkan ke muka bumi ini adalah untuk menyeru manusia melakukan kebaikan dan mencegah berbagai bentuk kemungkaran. Agar suasana kebaikan dan kemakrufan menjadi suasana yang dibangun dan tampak di tengah kehidupan umat muslim.

Namun sayangnya, walaupun kita hidup dalam sebuah negeri yang mayoritas beragama Islam tetapi suasana amar makruf nyaris tak terlihat karena ditutupi oleh kemungkaran dan kemaksiatan yang banyak dilakukan umat muslim. Maraknya kasus pelecahan yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi bukti generasi muslim sedang mengalami dekadensi moral yang sangat parah. Seharusnya seorang mahasiswa yang notabene seorang terpelajar bukan hanya mendapatkan ilmu, melainkan juga mereka akan dicetak menjadi manusia-manusia yang beradab dan senantiasa menyebarkan suasana kemakrufan. 

Namun yang terjadi malah sebaliknya, apa yang mereka lakukan sangat jauh dari kata “orang yang terpelajar/berilmu”. Tanpa rasa bersalah mereka dengan sebebas-bebasnya melakukan pelecehan dan menyebarkannya ke media sosial. Parahnya, yang melakukan hal tersebut tidak satu dua orang saja, tetapi dilakukan secara masif hampir di setiap kampus yang ada di negeri ini.

Tidak dimungkiri, seorang terpelajar yang berstatus mahasiswa dan seorang muslim telah kehilangan identitas dan jati dirinya. Seharusnya merekalah yang mencegah dan menghilangkan  kemaksiatan dan kemungkaran, tetapi malah merekalah yang melakukan kemaksiatan dan kemungkaran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dengan status sebagai seorang terpelajar tak mampu merubah cara berpikir dan bersikap mereka untuk menjadi manusia yang beradab dan berakhlak mulia. Pasalnya, mereka dididik dalam sistem pendidikan yang hanya fokus mengejar nilai akademik dengan mengabaikan pembentukan moral para pelajar.

Maka wajarlah, apabila generasi muslim dijangkiti oleh budaya liberal dan berperilaku yang tidak pantas seperti melakukan kasus pelecehan secara komunitas. Bahkan budaya permissif ini telah menjadi gaya hidup baru bagi generasi muslim. Buah kegagalan sistem pendidikan yang menihilkan peran agama dari kehidupan (sekularisme), telah mencetak generasi yang nihil  menghasilkan generasi yang tak bermoral. Sekularisme telah merubah para terpelajar menjadi manusia-manusia yang bebas nilai yang tak mengenal halal haram dalam aktivitas kehidupan mereka. Atas nama kebebasan mereka difasilitasi untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Sehingga melakukan kemaksiatan dan kemungkaran pun menjadi hal yang biasa dalam sistem kehidupan batil ini. 

Hilangnya jati diri seorang muslim dalam diri generasi menjadi “peringatan” bagi kita akan kemunculan sebuah bahaya yang sangat besar. Sebab, apa jadinya bangsa ini jika para generasinya mengalami dekadensi moral yang sangat parah. Walaupun mereka memiliki keilmuan yang tinggi tanpa disertai nilai moral, maka keilmuan mereka akan menjadi kesia-siaan belaka. Maka tentu hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Generasi muslim harus disadarkan dan dikembalikan  posisinya sebagai orang yang terpelajar dan sebagai umat terbaik yang memiliki amanah untuk mengemban tugas amar makruf nahi mungkar. 

Hal ini menjadi tanggung jawab bersama bagi seluruh kaum muslim dan para pengemban dakwah untuk menyadarkan generasi muslim bahwa sekularisme telah merusak kepribadian mereka dan menghilangkan jati diri mereka sebagai seorang muslim. Agar mereka bangkit dan meninggalkan pemikiran dan perilaku buah sistem sekularisme yang serba bebas.

Rasulullah saw. mampu mengubah para sahabatnya yang baru memeluk Islam dengan melakukan tatsqif  (pembinaan), sehingga mereka memiliki pemikiran dan perilaku Islam (kepribadian Islam). Kepribadian ini menjadi jati diri yang kuat menjasad dalam diri mereka dan mampu meninggalkan semua pemikiran dan perilaku jahiliyah dengan menjadi manusia berakhlak mulia yang senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar adalam kehidupan mereka.

Kita pun akan mampu mengembalikan jati diri generasi muslim sebagai agent of change untuk mengubah berbagai kemungkaran yang mewarnai kehidupan mereka. Sehingga akan muncul sosok-sosok generasi muslim yang bukan hanya cerdas dalam ilmu kehidupan tetapi juga memilik akhlak karimah yang senantiasa melandasi setiap amal perbuatannya. Oleh karena itu, seluruh kaum muslim harus meyakini semua kemungkaran ini akan sirna apabila kita terus menerus menyuarakan dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, sembari senantiasa memohon pertolongan Allah, dan pertolongan Allah sangat dekat untuk hamba-hamba yang menolong agama-Nya. Wallahualam. 


Komentar