#SuaraMuslimah – Ketegangan di Selat Hormuz yang menahan dua kapal tanker Pertamina selama lebih dari sebulan menjadi alarm keras bagi ketahanan energi nasional. Di tengah situasi geopolitik yang memanas dan ancaman krisis energi global, pemerintah mengambil langkah taktis dengan memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) setiap hari Jumat bagi ASN demi penghematan. Namun, apakah kebijakan teknis seperti ini mampu menyentuh akar persoalan?
Dalam rubrik “Suara Muslimah” kali ini, Muslimah Jakarta Official berbincang bersama Ibu Esti Yulianti, S.H., M.H., seorang dosen sekaligus praktisi hukum, untuk menguliti urgensi kepemimpinan amanah dan kembalinya tata kelola sumber daya alam berdasarkan syariat Islam sebagai satu-satunya solusi tuntas atas krisis yang melanda negeri.
Q: Hingga saat ini kapal tanker Pertamina belum diizinkan untuk melewati Selat Hormuz. Menurut Ibu, apakah hal tersebut sangat berpengaruh terhadap ketahanan energi dalam negeri?
A: Tergantung dari komitmen penguasa negeri ini. Saran, para ulama Islam bersatu untuk menasihati para penguasa kembali kepada aturan Tuhan Dinnil Islam (Allah dan Rasul-Nya), bagaimana sebaiknya para pemimpin bersikap amanah terhadap rakyatnya.
Q: BBM yang sebelumnya diisukan harga akan naik, ternyata tetap pada harga semula, lalu justru ditetap kebijakan WFH pada ASN di tiap hari Jumat. Menurut Ibu, apakah hal tersebut merupakan keputusan yang tepat?
A: Untuk sementara boleh dalam waktu yang terbatas. Ulama bersatu untuk bisa menentukan sikap yang tegas terhadap penguasa yang ada, terhadap situasi geopolitik ini supaya penguasa sadar bahwa kehancuran negara ada di depan mata dan harus segera dikembalikan kepada Islam kafah. Tidak ada pilihan kalau mau rakyat dan negeri kita selamat dunia akhirat.
Q: Jumlah ASN di Indonesia tercatat per September 2025 mencapai 5.359.209 orang. Dari jumlahnya yang tidak seberapa ini, menurut Ibu, apakah rencana pemerintah untuk hemat energi bisa tercapai?
A: Bersifat sementara ya. Para Ulama harus bersatu untuk menentukan sikap terhadap penguasa ataupun pemimpin yang zalim (bodoh) tidak mengerti Islam.
Q: Indonesia merupakan negara produsen minyak mentah. Menurut Ibu, mengapa negeri ini harus mengimpor minyak?
A: Peraturan yang ada kan bisa dipakai, asal para penguasa dalam hal ini pemimpinnya konsisten dan amanah, sehingga In syaa Allah dapat terus berkembang. Kembali ke aturan Islam kafah sebagai pedoman hidup selamat dunia akhirat, sehingga tidak ada korupsi, memelihara lingkungan. Menjaga keseimbangan lingkungan semata-mata karena menjalani perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan seperti sekarang atas nama rakyat menjual kekayaan alam (bahan baku mentah). Hasilnya tidak seberapa dan dinikmati untuk kepentingan individu para penguasa dan oligarki. Jadi, penguasa jelas tidak amanah.

Komentar
Posting Komentar