Melayani Tamu Allah


 

Siti Rima Sarinah

 

#MutiaraAl-Qur'an — Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang menjadi dambaan bagi setiap muslim untuk bisa menunaikannya. Menunaikan ibadah haji untuk memenuhi panggilan Allah dan menjadi tamu Allah bukan hanya memerlukan kesiapan dari sisi finansial, melainkan juga diperlukan ilmu dan fisik yang kuat dan sehat agar dapat menunaikan ibadah haji beserta rukun-rukunnya dengan sempurna. Setiap muslim yang menunaikan ibadah haji tentu menginginkan bisa meraih predikat haji mabrur, diberi ganjaran pahala bagi yang mampu meraihnya.

 

Allah Swt. berfirman, Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (Surah Ali-Imran Ayat 97)

 

Dalam sabda Nabi saw., Hadis Riwayat Malik, Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah, berbunyi, Umrah ke umrah menghapus doa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga. Hal senada, hadis Nabi yang lain bersabda, Jamah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

 

Ayat dan hadis di atas adalah perintah dari Allah kepada kaum muslim yang mampu menunaikan ibadah haji. Ibadah haji menjadi perintah wajib bagi yang mampu dan Allah Swt. memberi ganjaran pahala surga bagi yang mampu meraih haji mabrur. Allah juga memenuhi permintaan dan memberi ampunan bagi siapa saja yang menunaikan ibadah haji. Ganjaran pahala surga, predikat haji mabrur, dipenuhi permintaan, dan diberikan ampunan dari Allah Swt. menjadi motivasi keimanan bagi kaum muslim untuk bisa melayakkan diri menjadi orang-orang yang mampu melaksanakan ibadah haji.

 

Bukan hanya yang memiliki finasial berlomba-lomba untuk bisa menginjakkan kaki di Baitullah, melainkan rakyat kecil dengan pendapatan yang sangat minim pun rela menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk bisa menunaikan ibadah haji. Mereka bekerja keras siang dan malam dengan tujuan agar bisa menunaikan panggilan Allah dan menjadi tamu istimewa-Nya.

 

Namun sayangnya, motivasi keimanan yang menjadi dorongan umat muslim untuk menunaikan ibadah haji harus menghadapi berbagai macam rintangan. Di antaranya biaya haji yang terus mengalami kenaikan, daftar tunggu yang sangat lama, pelayanan, dan fasilitas yang sangat minim menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh calon jemaah haji hingga hari ini. Apalagi Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia yang setiap tahunnya memberangkatkan haji dengan jumlah yang sangat besar dan terus mengalami kenaikan. Walaupun biaya haji yang makin melangit, tak menyurutkan langkah calon  tamu Allah untuk terus berupaya agar bisa menunaikan haji ke Baitullah.

 

Negara menjadi pihak yang menjamin dan memfasilitasi kaum muslim untuk bisa menunaikan ibadah haji. Memang benar, negara telah melaksanakan tugas tersebut, tapi dengan cara pandang kapitalisme. Kuota haji menjadi ajang bisnis bagi negara dan pengusaha travel haji dan umrah. Bahkan negara mengklasifikasikan tarif biaya haji dengan tiga golongan. Pertama, haji reguler dengan antrian hingga puluhan tahun lamanya. Kedua, ONH plus dengan masa tunggu kurang dari 5 tahun. Ketiga, haji furoda dengan kuota khusus langsung dari Arab Saudi dengan harga yang sangat fantastis.

 

Dengan adanya klasifikasi tarif biaya haji ini, menjadi peluang besar bagi para calo kuota haji dan pengusaha travel untuk menjual kuota haji kepada calon jemaah. Bisa dipastikan yang memiliki finansial akan sangat mudah mendapatkan kuota haji dan secara tidak langsung calon jemaah haji yang minim finansial akan tersingkirkan. Apalagi saat ini pemerintah membuat terobosan baru berupa War tiket haji dengan dalih untuk menekan masa antre panjang para calon jemaah haji.

 

Pengelolaan haji dengan paradigma kapitalis telah menggeser tujuan menunaikan haji sebagai bagian dari ibadah menjadi ajang bisnis yang sangat menggiurkan. Bukan lagi mengejar predikat haji mabrur, melainkan berhaji hanya untuk mendapatkan fasilitas yang mewah. Esensi haji pun kehilangan ruh akibat negara berkhidmat pada kapitalisme dalam melayani dan mengurus tamu-tamu Allah. Inilah kebobrokan kapitalisme yang telah menihilkan peran negara sebagai pelayan bagi rakyat berubah menjadi seorang pedagang yang menawarkan fasilitas hajat hidup rakyat dengan harga yang tidak murah. Bahkan parahnya, tabungan haji yang telah disimpan oleh calon jemaah haji justru dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya.   

 

Fakta ini seharusnya menyadarkan seluruh umat muslim bahwa tidak selayaknya kita hidup dalam sistem yang hanya mendewakan materi di atas segalanya. Padahal, Rasulullah dan para sahabatnya tatkala mereka menjadi seorang pemimpin memberikan kenyamanan dan fasilitas yang sangat memudahkan untuk para calon jemaah haji. Mereka melayani tamu-tamu Allah dengan pelayanan yang terbaik.

 

Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk terus dan terus mendakwahkan opini Islam dan menyebarkan risalah Islam agar kembali hadir dan mengatur kehidupan manusia. Karena dalam naungan kepemimpinan Islam hak-hak umat bisa tertunaikan, termasuk hak untuk melaksanakan ibadah haji. Yang terpenting, negara senantiasa hadir untuk menjamin dan memfasilitasi hak rakyat. Wallahualam

 


 

Komentar