Mengambil Peran Khairul Ummah: Melampaui Kemenangan Semu di Tengah Cengkeraman Global

 



#Reportase — Ribuan mahasiswa dan aktivis muda dari berbagai organisasi kepemudaan di seluruh provinsi mengikuti Talk Show Liqa’ Syawal BMI yang digelar secara hybrid (offline & online) pada Sabtu, 11 April 2026 di Jakarta. Mengusung tema “Beyond Victory: Taking Our Place as Khairul Ummah”, forum ini berlangsung dinamis dan penuh antusiasme dari awal hingga akhir acara.


Dipandu oleh Kak Chaerini Novianti sebagai host, acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, tepatnya Surah Ali-Imran Ayat 110–112 oleh Miftahul Jannah. Antusiasme peserta terjaga sepanjang acara berkat kepiawaian Kak Chaerini dalam menghidupkan suasana diskusi dengan pembawaannya yang penuh semangat dan komunikatif, sehingga audiens tetap fokus mengikuti pemaparan materi.


Talk show ini menghadirkan tiga narasumber dengan sudut pandang yang saling melengkapi: Kak Dessy Fatmawati (Aktivis Jakarta), Kak Felycitia Iradati (Aktivis Bogor), dan Teteh Sely Selviana (Koordinator BMI Community).


Dalam sesi awal, Kak Dessy Fatmawati memaparkan fakta demografi yang mengejutkan sekaligus ironis. Dari total 2,18 miliar penduduk muslim di dunia, sebanyak 50,1% merupakan kalangan pemuda usia produktif. Secara teoretis, jumlah ini adalah impian negara manapun dan menjadi jaminan mutlak bagi bangkitnya sebuah peradaban besar. Namun, kenyataannya umat Islam saat ini berada dalam posisi yang sangat lemah secara geopolitik.


Kak Dessy menyoroti bahwa kaum muslimin dari 50 negara lebih saat ini tidak menjadi pemimpin, tetapi sekadar pengikut (follower) dan penerjemah kebijakan (translator) kepentingan asing. Masalah ketahanan pangan, energi, hingga stabilitas politik semuanya bergantung pada kebijakan global yang sekuler. Tidak ada satu pun dari 51 negara muslim yang benar-benar independen untuk menghentikan penderitaan di Palestina atau melindungi Lebanon dari keangkuhan penjajah.


Bahkan, saat AS dan sekutunya menyerang Iran, negara-negara tetangga yang seiman justru mengizinkan tanah mereka dijadikan pangkalan militer asing. Posisi umat hari ini, menurut Kak Dessy, belum menjadi pemenang, melainkan korban. Umat Islam ibarat makanan lezat yang diperebutkan oleh pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan tanpa memiliki daya tawar politik. Selama umat masih terbelenggu dalam dikte internasional, potensi besar pemuda hanya akan menjadi angka tanpa makna.


Menyambung keprihatinan tersebut, Kak Felycitia Iradati menekankan pentingnya sosok aktivis perubahan yang memiliki visi Beyond Victory. Kemenangan yang dimaksud bukan sekadar kemenangan individu dalam ibadah ritual, melainkan keberanian mengambil peran mengembalikan umat sebagai Khairul Ummah. Kak Fely menguraikan empat pilar ketakwaan yang wajib dimiliki aktivis. 


Pertama, takut kepada Allah. Di tengah masifnya pembungkaman terhadap suara kritis, dibutuhkan aktivis yang tidak takut pada ancaman manusia, intimidasi media sosial, maupun kekerasan fisik. Ketakutan kepada Allah harus menjadi satu-satunya motor penggerak untuk membawa umat dari kegelapan menuju cahaya Islam kafah.


Kedua, menerapkan hukum Allah. Perubahan umat tidak boleh ditempuh dengan jalan demokrasi. Kak Fely menegaskan bahwa demokrasi adalah konspirasi Barat yang didesain untuk memecah belah kaum muslimin. Aktivis sejati harus mencukupkan diri dengan metode perubahan yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, tanpa harus bersanad pada pemikiran kuffar seperti Aristoteles atau Plato.


Ketiga, rida terhadap ketetapan Allah. Kehidupan kapitalistik hari ini sering menyilaukan aktivis dengan standar materi dan capaian finansial Gen-Z. Kak Fely mengingatkan agar aktivis tidak terjebak dalam pengejaran materi yang dapat melemahkan perjuangan. Urusan duniawi jangan sampai menguras waktu hingga menyampingkan urusan dakwah yang utama.


Keempat, mempersiapkan bekal akhirat. Aktivis yang dibutuhkan umat adalah mereka yang menghidupkan malamnya dengan khusyuk, mengadu kepada Allah, dan menyadari bahwa setiap peluh dalam dakwah adalah investasi untuk hari akhir.


Sebagai narasumber penutup, Teteh Sely Selviana memperkuat diskusi dengan membedah akar masalah sistemik. Ia menjelaskan bahwa tekanan global terjadi karena penguasa negeri muslim hari ini cenderung menjadi loyalis, bahkan bertindak layaknya "ART" bagi kepentingan Barat dan sekutunya.


Teteh Sely memaparkan sejarah bahwa penerapan demokrasi di negeri muslim terjadi pasca-Perang Dunia I untuk meruntuhkan Khilafah, dan diformalisasi setelah Perang Dunia II untuk memastikan kaum muslimin tetap terpecah. Terbukti, sejak demokrasi diterapkan, jumlah negara muslim justru bertambah banyak karena perpecahan. Ia menegaskan bahwa kesatuan umat mustahil tercapai selama format yang digunakan adalah demokrasi. Jalan satu-satunya adalah mencampakkan sistem buatan manusia dan kembali kepada aturan Sang Pencipta.


Acara diakhiri dengan seruan kuat bagi seluruh peserta. Ketiga narasumber bersepakat bahwa perubahan hakiki membutuhkan aktivis yang bertakwa, berani, dan teguh pada prinsip Islam untuk mengembalikan kemuliaan umat sebagai pemimpin peradaban dunia.[SU]


Komentar