Meraih Takwa Pasca-Ramadan Menghilangkan Fitnah di Tengah Kaum Muslimin



#Reportase — Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa puasa dilaksanakan untuk menjadikan kaum muslim menjadi pribadi yang bertakwa. Kemudian saat Ramadan berlalu, takwa tersebut haruslah bertambah, dirawat, dan dipupuk agar tidak hilang sia-sia amal yang dikerjakan saat di bulan suci.   


“Kita semua tidak ingin amal salih itu sekadar musiman,” ujar Ustazah Isnaini saat acara Liqo Syawal. Ustazah menggambarkan bagaimana dahulu para sahabat mempersiapkan datangnya Ramadan enam bulan sebelumnya. 


Lalu setelah Ramadan selesai, fitrah bukanlah hanya sekadar ucapan yang disampaikan saat hari raya. Di dalam Al-Qur'an Surah Al-A’raf Ayat 172 dan Ar-Rum Ayat 30 berbicara tentang fitrah. “Dalam kedua ayat tersebut, fitrahnya manusia adalah kepada Islam dan bertauhid kepada Allah,” terang Ustazah kepada para tokoh muslimah di Jakarta. 


Tauhid yang lurus adalah dengan berusaha untuk melaksanakan seluruh apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan meninggalkan seluruh apa yang dilarang-Nya. Perintah dan larangan Allah ini mencakup banyak aspek, bukan hanya aspek individu, melainkan juga masyarakat bahkan negara. 


Termasuk saat mengimani Surah Al-Hujurat Ayat 10, bahwa kaum muslim itu bersaudara. “Saat saudara kita disakiti, kita tidak akan diam saja, kita pasti berusaha untuk menolong agar terlepas dari orang yang menyakiti,” tegasnya. Bila terus berdiam diri justru fitnah akan menggejala di muka bumi layaknya hari ini. 


“Saat melihat Gaza, Sudan, Irak padahal sekelilingnya negeri-negeri muslim, ke mana mereka? Padahal ukhuwah yang hakiki adalah ukhuwah dalam masalah akidah,” sambungnya.


“Agar ukhuwah dapat menangkal fitnah yang terjadi dalam masyarakat, maka harus jelas dahulu apa yang dimaksud fitnah,” ucap Ustazah Estyningtyas. “Fitnah yang dilontarkan kepada umat Islam adalah fitnah yang memicu perpecahan di tengah umat,” sambungnya.


Ustazah Esty melansir Surah Al-Anfal Ayat 73, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan (ila taf’aluhu) apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan (takunu fitnah) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”


“Agar tidak terjadi fitnah, maka kita harus melakukan apa yang diperintahkan Allah ini,” tegas ustazah Esty. Jawabannya ada di ayat sebelumnya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi (Auliya) Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfal Ayat 72)


Tersirat dalam ayat ini bahwa kaum muslimin harus menjadi pelindung (melakukan muwalah) bagi muslim yang lainnya. Ditegaskan lagi oleh seorang ahli tafsir, Abdurrahman as-Sa’ady berkata bahwa kata la taf’aluhu (melakukan sesuatu) dalam ayat 73, bahwa melakukan muwalah (memberikan pertolongan) dan memusuhi kaum kafir. 


Hal ini tidak berbeda penafsirannya pada Tafsir Al-Qurtubi bahwa yang dimaksud dengan kata ila tafaluhu, yaitu menjadikan orang kafir itu menjadi wali selain orang mukmin. “Pelanggaran yang dilakukan oleh kaum mukmin yang bisa menyebabkan fitnah adalah melakukan muwalah (pelindung/penolong/teman setia) kepada orang kafir,” tegas ustazah Esty. 


Selanjutnya, dalam Tafsir Al-Qurtubi juga dijelaskan makna kata takunu fitnah adalah "kekacauan dengan perang". “Kondisinya adalah adanya konflik/permusuhan antara kaum mukmin dan kafir,” papar ustazah Esty. Perang disini bisa perang secara nyata atau perang pemikiran lewat berbagai media. 


Lebih tegas lagi Ustazah Esty menyatakan bahwa muwalah yang dimaksud bukan hanya pemimpin atau teman setia, tapi juga pihak yang diberikan loyalitas/keberpihakan dengan kedekatan yang kuat. 


Ditekankan lagi pada Surah Al-Maidah Ayat 51, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin (wala’), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”


Ustazah Esty menyatakan bahwa dalam Surah Al-Maidah Ayat 51 di atas dan banyak ayat yang lainnya dinyatakan jelas keharaman untuk ber-muwalah pada orang kafir. Sehingga untuk menghilangkan fitnah tersebut Allah Swt. menitahkan untuk menjalin ukhuwah. 


Dalam Surah Al-Hujurat Ayat 10, ikhwah yang dimaksud adalah yang berarti hubungan persaudaraan karena kedekatan bukan karena ikatan darah. Oleh karenanya, saat memandang muslim Gaza, Iran, dan bumi Islam lainnya adalah dengan pandangan sebagai saudara dekat. 


Terakhir, Ustazah Esty menyampaikan bahwa ukhuwah islamiah tidak bersifat imajinatif dan harus diwujudkan agar fitnah yang ada dapat terhapus. Harus dengan adanya satu kepemimpinan yang memimpin kaum muslimin, maka ukhuwah bisa terwujud. Wallaahualam. 









 


Komentar