Anggun Mustanir
#Jakut — Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) melaksanakan kegiatan “Read Aloud” dan Dongeng bagi para siswa di BKB Paud Rosella, Cilincing, Semper Timur, Jakarta Utara pada Jumat (06/03/2026). Sudin Pusip Kota Administrasi Jakarta Utara melakukan inovasi dalam rangka mendekatkan literasi kepada anak-anak melalui layanan "Jemput Bola". Kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap dunia literasi sedini mungkin (jakarta.go.id).
Melalui teknik Read Aloud (membacakan nyaring) dan metode mendongeng yang interaktif, diharapkan anak-anak tidak hanya memahami bahwa membaca buku adalah kewajiban, tetapi merupakan jendela dunia yang menyenangkan, serta mendapatkan pengalaman literasi yang berkesan. Selain anak usia dini, pendekatan literasi juga ditujukan untuk masyarakat secara umum. Beberapa program yang dilakukan adalah melalui pemanfaatan perpustakaan digital, yakni masyarakat Jakarta Utara didorong menggunakan aplikasi iPusnas dan Cak Liter untuk mengakses buku elektronik secara gratis. Selain itu, Penyediaan Pojok Baca di tempat-tempat umum seperti RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), kantor RT, dan layanan Perpustakaan Keliling Pusling (jakarta.go.id).
Hasil pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Provinsi DKI Jakarta yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa 82,26% warga DKI Jakarta merasa senang membaca buku. Hal tersebut berbanding lurus dengan persentase pengakuan responden, yaitu sebesar 89,99% bahwa mereka membaca atas kemauan pribadi tanpa ada paksaan dari pihak lain. Selain itu, menurut survei yang dilakukan Perpustakaan Nasional bahwa Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Jakarta Utara sebesar 58,78 persen di tahun 2025.
Meski begitu, tingkat literasi masyarakat terutama generasi muda di tengah arus deras dunia digital masih sangat memprihatinkan. Data tersebut juga belum tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Nyatanya, berdasarkan data yang tercatat di laman bisnis.com, Desember 2025, rata-rata nilai TKA SMA di DKI Jakarta adalah 63,39 untuk Bahasa Indonesia dan 40,18 untuk Matematika. Nilai-nilai tersebut menjadi bahan evaluasi nasional dan indikator penting untuk seleksi masuk perguruan tinggi (SNBP 2026). Belum lagi, kasus-kasus seperti kejahatan jalanan, narkoba, tawuran, dan tindak kriminalitas yang tinggi masih mendominasi laman berita terutama di Jakarta Utara. Realitas tersebut tidak mencerminkan masyarakat yang suka membaca dan berkawan dengan buku.
Miris, kenyataan di kehidupan yang dipayungi sistem demokrasi kapitalisme hari ini memang selalu membuat kita mengelus dada. Masyarakat sering kali mengetahui literasi hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi secara kritis, dan mengelola informasi yang bermanfaat, salah satunya dalam bentuk tulisan.
Kemampuan literasi yang baik dan benar sangat berpengaruh besar untuk menentukan masa depan suatu bangsa. Karena kita hidup di negara dengan mayoritas muslim, jika kembali pada hukum Islam. Perkembangan literasi terutama di kalangan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis sehingga generasi muda mampu membaca kondisi lingkungan tempat dia hidup dan mengaitkan dengan ayat-ayat Allah Swt. dan sabda Rasul-Nya sebagai solusi hidup. Selain itu, mereka juga diharapkan memiliki keterampilan memilah sumber informasi mana yang benar sebagai landasan membuat keputusan. Fakta memilukan saat ini bahwa masyarakat terutama generasi muda justru terbawa arus algoritma yang menyebabkan “brainrot”.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Pada awal 2025, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai sekitar 143 juta hingga 207 juta orang, dengan penetrasi melebihi 72% dari total populasi. TikTok dan WhatsApp mendominasi, dengan YouTube menjangkau 143 juta pengguna (50,2% populasi). Pengguna aktif media sosial di Indonesia menghabiskan rata-rata 3 jam 8 menit per hari (bps.go.id).
Fenomena menyedihkan tersebut menunjukkan bahwa sadar terhadap kemampuan literasi saja tidak cukup. Namun, paham bahwa siapa yang menyeru untuk memiliki literasi yang baik, mengapa, dan untuk apa kemampuan literasi yang baik adalah sebuah keutamaan. Allah Swt. telah berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Alaq What 1–4 yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena…”
Dari ayat tersebut, tentunya kita harus sadar bahwa keterampilan membaca adalah perintah Allah Swt. Sejarah masa kejayaan Islam telah menggoreskan dengan tinta emas bahwa literasi umat muslim pada masa daulah Khilafah kala itu, khususnya Kekhilafan Abbasiyah dan Kekhilafahan Ustmaniyyah yang mengalami masa keemasan (Islamic Golden Age) dengan gencar membangun pusat ilmu pengetahuan seperti Bait al-Hikmah. Membaca, menulis, dan menerjemahkan buku-buku asing menjadi tradisi dan kebiasaan, didukung perpustakaan megah, dan juga kecintaan pada ilmu para Khalifah sehingga benar-benar menyediakan fasilitas yang memadai. Fokus literasi mencakup ilmu syariah (Al-Qur'an dan Sunah) serta sains teknologi.
Hasilnya, lahirlah para ilmuwan Islam yang hebat dan memberikan kontribusi untuk dunia hingga saat ini seperti, al-Khawarizmi (matematika/aljabar), Ibnu Sina (kedokteran/farmakologi), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), al-Farabi (filsafat), al-Kindi sebagai tokoh filsuf dan ilmuwan yang kontribusinya besar dalam bidang filsafat, dan Ibnu Haitham (optik). Masya Allah, sangat gemilang sekali orang-orang salih yang menjadikan aktivitas membaca sebagai kebiasaan.
Sudah terbukti, senantiasa menjadikan Al-Quran dan sunah sebagai pedoman hidup membuat manusia terarah, sukses, dan sejahtera. Sebaliknya, menjauh dari aturan Allah membuat manusia hina dan menderita seperti hari ini, umat Islam jauh dari syariat Allah Swt. Jangankan untuk menjadi pembaca sebagai habit, saat ini masyarakat disibukkan dengan aktivitas sia-sia yang melenakan. Sehingga, kalau Jakarta bermimpi warganya suka membaca, maka harus kembali kepada Al-Quran dan sunah sebagai bacaan wajib pedoman hidup. Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar