No Kings, Aksi Menolak The King



JP. Dunggio


#Wacana — Jutaan demonstran turun ke jalan-jalan di Amerika Serikat pada Sabtu, 26 Maret 2026. Para demonstran mengusung tajuk "No King" (tidak ada Raja) yang memprotes berbagai kebijakan The King (sang Raja), Presiden Donald Trump.


Pihak penyelenggara mengatakan bahwa demonstrasi ini dihadiri oleh delapan juta orang di 3.300 lokasi di 50 negara bagian Amerika Serikat. Aksi ini adalah bentuk kekecewaan rakyat AS pada berbagai kebijakan Trump seperti konflik dengan Iran, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, kekerasan berlebihan aparat imigrasi (ICE) yang menewaskan warga sipil dan imigran, serta antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran. (Tempo, Maret 2026)


Tak hanya itu saja, AS juga mengalami pembengkakan utang yang sangat cepat di masa Trump sebagai presiden. Secara resmi, utang AS menembus angka US$39 triliun (Rp661.440 triliun) pada Maret 2026. Jumlah penduduk Paman Sam ada di angka 342,62 juta jiwa, yang artinya utang per penduduk AS kini tembus US$113.875 atau sekitar Rp1,93 miliar. (CNBC, Maret 2026)


Demo akhir Maret di AS ini menjadi penanda bahwa rakyat Amerika telah kecewa pada kondisi negerinya ditambah lagi dengan kepemimpinan Trump yang otoriter dan banyak melakukan kebohongan. Bergantinya pemimpin melalui pemilu nyatanya tidak membawa perubahan nyata bagi kondisi rakyat AS. Pengangguran tinggi, kemiskinan meningkat, pajak yang mencekik, kriminalitas yang tak bisa tertangani, dll., menjadi gambaran wajah asli mayoritas warga AS di balik polesan kosmetik kesejahteraan semu dan gaya hidup glamor.


Begitulah ketika landasan hidup yang dibangun hanya mengejar materi. Rakyat AS harus menyadari bahwa ideologi mereka, yaitu kapitalisme adalah ideologi yang menguntungkan kaum elitenya saja. Terbukti kebijakan-kebijakan yang ada tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat AS dan mereka makin merasakan kesulitan hidup di era Trump yang semena-mena dalam membuat kebijakan.


Melihat antusias demo No Kings, seharusnya menyadarkan umat Islam akan hegemoni AS, negara yang selama ini digadang-gadang sebagai negara adidaya adalah negara yang mengalami kerapuhan di berbagai sektor kehidupan. Pemimpin dan kaum elite di Amerika Serikat, memimpin rakyatnya tidak berfungsi sebagai pelayan rakyat, mereka hanya mengejar kekuasaan dan harta tanpa mempedulikan nasib rakyat. Rakyat Amerika Serikat dininabobokan dengan berbagai janji dan harapan pada saat pemilu dan hal tersebut faktanya tak pernah terwujud. Demo rakyat AS atas kebijakan Trump seharusnya menjadi pemicu kebangkitan umat Islam bahwa sistem kapitalisme yang ditawarkan AS pada negeri-negeri muslim adalah sistem rusak yang menyesatkan. Umat Islam harus sadar bahwa AS dengan sistem kapitalisme dan politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan manusia khususnya umat Islam.


Islam memiliki pandangan lain tentang keterlibatan penguasa dalam memimpin rakyatnya. Pemimpin Islam berfungsi sebagai pelaksana syariat, perisai rakyat, mengurusi dan melayani rakyat dengan berbagai kebijakan yang mampu menyejahterakan sekaligus penjaga keimanan rakyat agar tidak terprovokasi oleh ide-ide di luar Islam. Potensi penyalahgunaan wewenang pun diminimalisir dengan adanya standar yang sudah ditetapkan, yaitu mengikuti aturan Allah Swt. dan Rasulullah saw.


Islam tetap memberi kesempatan bagi rakyat untuk mengoreksi kebijakan penguasa dan sistem pemerintahan Islam juga memiliki Mahkamah Mazhalim. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menulis dalam kitab Nizham al-Hukm fi al-Islam, bahwa Mahkamah Mazhalim berwenang menyelesaikan sengketa antara rakyat dan negara serta mengawasi tindakan pemerintah. Sistem Islam juga akan mengawasi dan melarang para pemimpin yang melakukan penumpukan harta. Bahkan sistem Islam akan mendistribusikan harta kekayaan sehingga kekayaan tidak berputar dikalangan elite saja, tetapi merata hingga rakyat.


Oleh karena itu, sistem Islam yang kafah seharusnya layak menjadi sistem yang dipergunakan umat Islam dibandingkan kapitalisme demokrasi. Karena negara kampiun kapitalisme demokrasi, yaitu AS nyatanya telah gagal menjamin keberlangsungan kehidupan rakyatnya dan sistem ini mustahil mendatangkan keberkahan dari Allah Swt.


Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-A’raf Ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." 


Komentar