NR. Nuha
#CatatanRedaksi — Rakyat Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit yang terus berulang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian tertekan, dan dampaknya bukan lagi sekadar angka statistik di meja birokrat, melainkan ancaman nyata di atas meja makan. Sebagaimana dirilis Kompas.com pada 24 April 2026, pelemahan rupiah menjadi pemicu langsung naiknya harga bahan pokok yang membebani rumah tangga. Apa yang terjadi di pasar valuta asing, kini terasa langsung di dapur rakyat.
Fakta yang tersaji menunjukkan ironi yang sulit diterima akal sehat. Sebagai negeri dengan sumber daya alam melimpah, kebutuhan pangan justru bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga BBM melonjak, kedelai, gandum, bawang, minyak goreng, hingga daging melonjak tajam. Rakyat dipaksa membeli kebutuhan dasar dengan harga yang ditentukan oleh fluktuasi mata uang asing. Kondisi ini tidak sekadar persoalan ekonomi, tetapi mencerminkan rapuhnya kedaulatan. Ketergantungan ini menjadikan negeri seperti kehilangan kendali atas kebutuhan paling mendasar warganya sendiri.
Situasi tersebut tidak berdiri sendiri, tapi merupakan konsekuensi dari sistem ekonomi yang dianut. Indonesia terjebak dalam mekanisme ekonomi global yang bertumpu pada sistem uang kertas tanpa nilai intrinsik. Nilai rupiah sangat dipengaruhi sentimen pasar dan kekuatan eksternal, terutama dolar AS. Akibatnya, kekayaan masyarakat yang dikumpulkan dengan susah payah dapat tergerus hanya karena perubahan nilai tukar. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas ekonomi nasional menjadi sangat rentan terhadap dinamika global yang tidak bisa dikendalikan.
Akibatnya, untuk menutup berbagai kebutuhan anggaran, negara terus bergantung pada utang. Beban utang yang meningkat pada akhirnya berimbas pada kebijakan pajak yang kian luas cakupan pungutannya. Rakyat tidak hanya menghadapi kenaikan harga, tetapi juga tekanan keuangan yang makin berat. Inilah lingkaran yang terus berulang: nilai tukar melemah, harga naik, daya beli turun, dan beban ekonomi masyarakat terus menumpuk. Negara seolah hanya bereaksi terhadap gejolak, tanpa mampu mengendalikan arah.
Berbagai kebijakan yang diambil, seperti subsidi atau intervensi harga, sering kali hanya bersifat sementara. Kebijakan tersebut tidak menyentuh akar persoalan, tapi sekadar meredam dampak jangka pendek. Selama pondasi ekonomi masih bergantung pada sistem global yang labil dan berbasis utang, maka tekanan terhadap rakyat akan terus terjadi. Dalam situasi ini, kesejahteraan tidak menjadi tujuan utama, tapi sekadar efek samping yang tidak pasti.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan ini tak hanya teknis, tetapi juga terkait sesuatu yang mendasar. Ketergantungan pada mekanisme global membuat negara sulit mewujudkan kedaulatan ekonomi yang sesungguhnya. Rakyat menjadi pihak yang paling merasakan dampak, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Ketika harga pangan tidak lagi stabil, maka ketahanan sosial pun ikut terancam.
Di tengah kondisi tersebut, diperlukan cara pandang baru dalam melihat persoalan ekonomi. Sistem yang ada perlu dikaji kembali secara menyeluruh, terutama dalam hal kemandirian pangan, stabilitas mata uang, dan pengelolaan sumber daya. Tanpa perubahan mendasar, berbagai kebijakan yang diambil hanya akan mengulang pola yang sama.
Islam menawarkan perspektif yang berbeda dalam memandang ekonomi. Sistem ini menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab utama negara. Pengelolaan sumber daya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan sekadar mengikuti mekanisme pasar global. Dalam hal mata uang, Islam mengenal standar yang berbasis nilai riil, sehingga tidak mudah tergerus oleh spekulasi. Selain itu, Islam menekankan pentingnya kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk pangan, agar tidak bergantung pada pihak luar.
Dengan pendekatan tersebut, stabilitas ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat secara berkelanjutan. Negara berperan aktif dalam memastikan distribusi yang adil dan menjaga agar tidak terjadi eksploitasi. Dalam kerangka ini, rakyat tidak dibiarkan menghadapi tekanan ekonomi sendirian.
Kondisi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Pelemahan rupiah dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa sistem yang ada masih menyisakan banyak persoalan serius. Tanpa perubahan arah yang lebih fundamental, tekanan terhadap rakyat akan terus berulang. Sudah saatnya mencari solusi yang tidak hanya meredam dampak, tetapi mampu menyentuh akar persoalan secara menyeluruh. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar