#Fokus — Puluhan ribu warga Palestina melaksanakan salat Idulfitri pada Jumat (20-3-2026) di Jalur Gaza. Banyak di antaranya berkumpul di atas reruntuhan masjid dan area terbuka dekat kamp pengungsian. Takbir bergema di tengah kehancuran akibat agresi Zion*s, sementara suasana duka menyelimuti warga yang kehilangan rumah maupun keluarga.
Di Hebron, Tepi Barat, pasukan Zion*s memperketat pembatasan di Masjid Ibrahimi. Hanya sekitar 50 jamaah diizinkan masuk, sementara ribuan lainnya terpaksa salat di luar. Sebelumnya, masjid sempat ditutup selama 14 hari dengan alasan perang melawan Iran.
Gaza Terlupakan
Belakangan ini media dipenuhi berita perang Iran dan AS-Zion*s. Kabar tentang saudara muslim Gaza dan Palestina pun tenggelam dan senyap. Derita Gaza kian terlupakan ketika perhatian dunia tertuju pada perang melawan Iran.
Lebih dari tiga tahun muslim Gaza hidup dalam reruntuhan. Sampai saat ini, Zion*s terus melakukan genosida di Gaza serta melanggar kesepakatan gencatan senjata yang diberlakukan sejak pertengahan Januari. Akibat serangan yang berlangsung brutal sejak awal agresi, lebih dari 72.000 jiwa meninggal, dan lebih dari 171.000 korban terluka, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Perayaan Idulfitri ke-3 sejak agresi militer 2023 ini, berlangsung di tengah krisis kemanusiaan parah, yaitu blokade berlanjut, ratusan ribu orang tinggal di tenda darurat, serta terjadi kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan.
Menurut otoritas Gaza, sejak Oktober 2025 Zion*s telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran gencatan senjata berupa penembakan, serangan darat, dan udara, menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina serta melukai lebih dari 1.800 orang. Bantuan kemanusiaan juga terhambat, dengan hanya 40% truk bantuan berhasil masuk. Akses Rafah tetap dibatasi, memperparah isolasi warga.
Sedangkan, Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan hari raya berlangsung tanpa sukacita karena kebutuhan dasar sulit terpenuhi. Idulfitri yang semestinya disambut dengan suka cita berubah menjadi duka berkepanjangan. Tidak ada ruang aman, tidak ada perlindungan, dan tidak ada kepastian kapan penderitaan ini akan berakhir.
Sukacita Idulfitri yang dirasakan umat Islam di berbagai belahan dunia seharusnya membuat kita makin sadar bahwa saudara kita di Gaza merayakan hari kemenangan dalam kondisi mengenaskan.
Tubuh Umat yang Tersayat
Ironi, sebagian negara Teluk justru bersekutu dengan AS dan menormalisasi hubungan dengan Zion*s, sambil melupakan penderitaan saudara seiman di Gaza. Islam mengajarkan bahwa umat ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh terluka, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya. Maka, penderitaan Gaza bukan hanya milik rakyat Palestina, melainkan luka kolektif umat Islam di seluruh dunia.
Sayang, ikatan ukhuah dan akidah Islam ini tersekat oleh kepentingan politik global dan nasionalisme. AS yang menyebut dirinya sebagai polisi dunia terbukti gagal menciptakan perdamaian. Kemunafikan AS tampak dari sikap politik mereka yang mendukung penjajahan Zion*s terhadap Palestina.
AS-Zion*s ingin mengamankan hegemoninya di kawasan dengan melakukan genosida di tanah Palestina. Ditambah lagi, bergabungnya negeri-negeri muslim dalam Board of Peace bentukan AS adalah pengkhianatan terhadap ukhuah islamiah. Bagaimana mungkin dikatakan umat adalah satu tubuh, sementara sebagian tubuh yang lain justru duduk bersama penjajah dan pelaku genosida dengan dalih menciptakan perdamaian? Padahal, pelakunya, yaitu AS dan Zion*s, justru melakukan pembantaian terhadap muslim Palestina.
Demikianlah nasib umat ketika berada dalam kekuasaan dan hegemoni kepentingan negara adidaya seperti AS. Umat tertindas, terjajah, terjebak, dan terperangkap dengan batas-batas semu bernama nation state. Potensi umat Islam yang semestinya bisa bersatu dalam pandangan dan visi politik Islam harus terdegradasi menjadi visi politik nasionalisme dalam asuhan kapitalisme global.
AS ingin memastikan bahwa pengaruhnya di kawasan Timur Tengah tidak memudar tersebab perlawanan Iran. AS juga ingin memastikan bahwa posisinya sebagai negara adidaya tidak tergantikan oleh suara-suara perlawanan dan narasi kebangkitan Islam yang ada di kawasan.
Sungguh kemenangan sejati Idulfitri bukan sekadar berpakaian baru ataupun menikmati hidangan lezat, tetapi pembebasan Palestina dan negeri-negeri muslim dari penjajahan dan hegemoni Barat. Selama Gaza masih berdarah, selama anak-anak Palestina masih kehilangan masa depan, sejatinya masa depan cemerlang dan kemenangan Islam tidak akan terwujud.
Seruan Persatuan dan Jihad Membebaskan Palestina
Al-Qur’an menegaskan bahwa ciri utama orang beriman adalah berkasih sayang dan lemah lembut terhadap sesama muslim, namun bersikap tegas terhadap orang kafir. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Taala yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Surah Al-Fath [48] Ayat 29)
Dalam ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan sifat orang-orang mukmin, yakni mereka yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi penuh kelembutan terhadap sesamanya. Di hadapan orang kafir, mereka menunjukkan ketegasan dan wajah yang keras, tetapi di hadapan saudara seiman, mereka tersenyum ramah dan penuh kasih, sebagaimana Firman Allah Taala, “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu.” (Surah At-Taubah [9] Ayat 123). Nabi ﷺ pun bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan mereka adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit, sehingga timbul demam dan tidak dapat tidur.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Sifat mukmin sejati adalah mampu bersikap lembut dan tegas dalam porsi yang benar sesuai syariat Islam. Lemah lembut terhadap sesama muslim berarti menumbuhkan kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian. Tegas terhadap orang kafir berarti tidak tunduk pada kezaliman, tidak membiarkan kehormatan Islam diinjak-injak, serta berani menegakkan dan menyampaikan kebenaran. Bukan berlaku sebaliknya, keras dan apatis kepada saudara seiman, namun lemah lembut dan loyalty kepada penjajah dan orang-orang kafir yang memusuhi Islam.
Allah Swt. berfirman, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti (tuqâh) dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya. dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Surah Ali- Imrân [3] Ayat 28)
Tentang lafaz “tuqâh” pada ayat di atas, maka ulama seperti Ya’qub dan Sahl menggunakan lafaz “taqiyyatan”, dan itu juga cara baca yang digunakan oleh Al-Hasan dan Imam Mujahid. Dalam kamus Al-Muhith disebutkan “at-tauqiyyah” berarti menjaga. Jadi, obyek bahasannya adalah kesetiaan orang-orang mukmin terhadap orang kafir.
Allah Swt. melarang orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai penolong mereka. Larangan itu disertai dengan indikasi (qarînah) yang menunjukkan adanya penegasan yang kuat (al-jazm al-qâthi’) bahwa siapa saja yang melakukan tindakan di atas—yakni menjadikan orang-orang kafir sebagai wali/penolong—maka Allah berlepas diri dari mereka. (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah Juz II, hlm. 420).
Untuk mengembalikan umat Islam sebagai satu tubuh yang utuh, harus dipahami bahwa ukhuah islamiah berlandaskan pada ikatan akidah Islam, bukan pada kebangsaan, kesukuan, atau golongan. Dengan terwujudnya ikatan ini, kaum muslim akan memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama, yaitu membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan dengan seruan jihad fi sabilillah yang dikomandoi seorang khalifah bagi kaum muslim sedunia.
Jihad fi sabilillah merupakan puncak amal dalam Islam. Jihad menjaga umat dari penindasan, penjajahan, kezaliman, serta menegakkan agama Allah Taala, sebagaimana Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Surah Ash-Shaff [61] Ayat 10–13).
Kesempurnaan jihad hanya akan terwujud jika negeri-negeri muslim bersatu di bawah institusi Khilafah dan kepemimpinan tunggal khalifah bagi kaum muslim seluruhnya. Persatuan dan kesatuan ukhuah islamiah bukan sekadar cita-cita, melainkan kebutuhan mendesak agar umat Islam mampu melawan penindasan dan membebaskan Palestina dari belenggu penjajahan.
Tanpa kepemimpinan yang menyatukan, derita Gaza akan terus berulang, sementara dunia hanya menyaksikan dari kejauhan. Idulfitri di Gaza harus menjadi pengingat bahwa penderitaan satu bagian tubuh umat Islam adalah penderitaan seluruhnya, dan hanya dengan persatuan umat penderitaan itu dapat diakhiri. Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar