Harga Kedelai Naik, Kapitalisme Membuat Pangan Tak lagi Aman



Refi Oktapriyanti



#Wacana — Tempe adalah makanan rakyat. Murah, bergizi, dan menjadi lauk harian di banyak rumah. Namun hari ini, tempe justru ikut terdampak krisis. Harga kedelai impor naik, rupiah melemah, harga plastik kemasan ikut melonjak. Akibatnya, para perajin tahu–tempe makin terhimpit. Di banyak tempat, pedagang terpaksa memperkecil ukuran tempe, mengurangi produksi, bahkan ada yang nyaris berhenti berjualan. Yang menanggung dampaknya bukan hanya perajin, tetapi juga masyarakat luas. Harga naik, ukuran mengecil, kebutuhan pangan makin sulit dipenuhi.

Masalah ini bukan sekadar soal harga kedelai naik. Ini menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi hari ini. Kapitalisme membuat negeri yang subur justru bergantung pada impor pangan dari luar negeri. Saat dolar naik dan rupiah melemah, rakyat kecil langsung terkena imbasnya. Indonesia memiliki lahan luas, iklim yang mendukung, dan tenaga kerja melimpah. Namun, kebutuhan kedelai justru dipenuhi dari impor hingga nilainya mencapai triliunan rupiah. Ini menandakan negara gagal membangun kemandirian pangan. Negara hanya menjadi pengatur pasar, bukan pengurus kebutuhan rakyat.

Beginilah wajah kapitalisme. Harga pangan diserahkan pada mekanisme pasar. Nilai mata uang mudah terguncang. Bahan baku bergantung pada negara lain. Ketika krisis datang, rakyat kecil dijadikan pihak pertama yang menanggung beban. Perajin tempe dipaksa bertahan sendiri menghadapi mahalnya bahan baku. Tidak ada perlindungan nyata dari negara. Padahal mereka adalah bagian penting dari penggerak ekonomi rakyat.

Islam memandang persoalan ini berbeda. Dalam sistem Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan. Negara tidak boleh membiarkan bahan makanan strategis bergantung pada impor terus-menerus.

Khilafah akan mendorong produksi pangan dari dalam negeri dengan serius. Lahan pertanian yang terbengkalai dihidupkan, petani didukung penuh, distribusi dijaga, dan kebutuhan industri rakyat dipenuhi dari produksi sendiri. Dengan begitu negeri tidak mudah dipermainkan pasar global. Islam juga menggunakan mata uang berbasis emas dan perak yang nilainya lebih stabil, tidak mudah jatuh karena spekulasi atau tekanan pasar internasional. Ini menjaga kestabilan harga dan melindungi rakyat dari gejolak ekonomi.

Politik ekonomi Islam bukan mengejar keuntungan segelintir orang, tetapi memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhannya. Negara hadir sebagai pengurus rakyat, bukan sekadar penonton. Jeritan perajin tempe hari ini seharusnya menyadarkan kita: persoalannya bukan hanya kedelai mahal, yang rusak adalah sistem yang membuat negeri bergantung, lemah, dan menyerahkan nasib pangan rakyat kepada pasar.

Selama kapitalisme tetap dipertahankan, masalah serupa akan terus berulang. Sudah saatnya melihat Islam bukan hanya sebagai ajaran ibadah, tetapi juga sebagai solusi nyata dalam mengatur ekonomi dan menjamin kesejahteraan umat.


Komentar