Agama Sebagai Petunjuk Hidup


Siti Rima Sarinah


#MutiaraAl-Qur'an — Manusia tatkala diciptakan ke dunia dibekali dengan seperangkat aturan yang maha sempurna. Agar manusia bisa menjalani kehidupan sesuai tujuan penciptaannya sebagai seorang hamba, yang senantiasa terikat dengan aturan dari Allah Swt. Allah Swt. telah memberi aturan yang detil dan rinci untuk seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk aturan dalam mengurus dan mengatur roda pemerintahan dan melayani seluruh kebutuhan rakyat. Tugas ini diberikan kepada seorang pemimpin/penguasa yang dianggap layak untuk menerima amanah yang sangat besar dan mulia.

Seorang penguasa hanyalah pelaksana hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Ia tidak berhak mengganti atau merubah sedikit pun aturan yang telah tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunah Nabi saw. agar amanah yang diemban oleh seorang penguasa dalam menjalankan roda pemerintahan dan mengurus rakyat berjalan sesuai syariat Allah sehingga negeri tersebut akan mendatangkan limpahan keberkahan dari Allah Swt.

Allah Swt. berfirman, "Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik." (Surah Al-Maidah: 44, 45–47)

Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa siapa saja yang tidak menerapkan hukum dari-Nya, maka termasuk orang-orang kafir, zalim, dan fasik. Sehingga apabila seorang penguasa dengan sengaja dan sukarela menggantikan hukum Allah dengan hukum buatan manusia yang lemah, maka ia termasuk golongan yang disebutkan dalam ayat di atas.

Agama wajib diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan umat mansia, sebab Islam bukan sekadar agama melainkan ideologi yang memancarkan aturan kehidupan yang mampu menjadi problem solving. Dengan kata lain,  tatkala agama menjadi  fondasi yang kuat akan dapat membangun sistem kehidupan umat manusia adil dan sejahtera. Fondasi agama ini juga  akan menjadi petunjuk yang menerangi kehidupan manusia beriringan dengan sistem Islam yang diterapkan di dalam kehidupan.

Karut-marutnya sistem pemerintahan yang diterapkan dalam aturan kehidupan kita saat ini, telah menyisakan berbagai macam persoalan hidup yang tak pernah berujung. Perekonomian yang porak poranda, utang negara yang terus melonjak tajam, kemiskinan mengepung kehidupan rakyat dan penguasa dan pejabat yang bergelimang kemewahan serta korupsi menjadi gaya hidup mereka, menjadi potret buram di negeri ini.

Jeritan dan teriakan rakyat yang disuarakan oleh aksi demonstrasi untuk menyampaikan aspirasi dan meminta hak mereka, justru disambut dengan arogansi pihak berwajib. Aksi anarkis, semburan gas air mata dan penangkapan para demonstran, seakan menjadi bukti negeri yang katanya  "paling demokratis” tapi enggan mendapat kritik dari rakyat. Mata dan telinga para penguasa dan pejabat telah menjadi buta dan tuli, tak melihat dan mendengar suara-suara rakyat untuk mengingatkan kekuasaan mereka adalah amanah yang wajib ditunaikan karena mereka telah disumpah untuk melaksanakan tugas sebagai pelayan rakyat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.

Namun sayangnya, sumpah yang telah diucapkan tak pernah ditunaikan bahkan diabaikan. Sistem kapitalisme telah mencetak para penguasa dan pejabat korup yang hanya sibuk mencari jalan untuk menumpuk harta dengan menggunakan kekuasaan dan jabatan yang berada dalam gengamannya. Islam pun tak lagi dijadi petunjuk apalagi landasan dalam membuat aturan dan kebijakan. Mereka telah menggantinya dengan hukum buatan manusia yang berasal dari sistem kapitalisme, yang telah melegalkan manusia berbuat apa saja untuk memenuhi hawa nafsunya.

Kita bisa melihat aturan yang diterapkan senantiasa membuat hidup rakyat makin sengsara. Kenaikan harga sembako dan BBM, menjadi kebijakan berulang yang terus mewarnai kehidupan rakyat. Bisa dibayangkan betapa sulitnya rakyat untuk bisa bertahan dan berjuang dalam sistem yang tak memikirkan urusan rakyat. Rakyat hanya dianggap sebagai mesin pencetak uang negara yang terus menerus dicekik dengan berbagai macam pungutan pajak.

Alhasil kezaliman, kesengsaraan, kemiskinan, dan malapetaka lainnya menjadi dampak tatkala agama diabaikan dalam ranah kehidupan. Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlama-lama hadir dalam kehidupan. Sudah cukup lama kondisi ini dialami oleh rakyat. Harus segera disudahi dan diganti dengan mengembalikan sistem aturan yang menjadi agama sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Untuk mengakhiri semua penderitaan rakyat akibat diatur dan dipimpin oleh penguasa yang menjadikan dirinya sebagai tuhan dengan bebas membuat aturan dan kebijakan demi kepentingan mereka pribadi.

Hal ini wajib disadari oleh seluruh umat muslim dan menjadi tugas bagi para pengemban dakwah untuk terus menerus menggaungkan opini dakwah, agar umat sadar bahwa mereka hidup dalam sistem yang salah. Tidak selayaknya umat Islam sebagai umat terbaik hidup dalam sistem yang batil dengan penguasa rakus dan zalim. Oleh karena itu, umat Islam harus kembali memegang erat syariat Islam sebagai petunjuk hidup, agar menjadi bekal tetap dalam kondisi taat walaupun hidup dalam sistem yang rusak.

Kemudian, berusaha menjadi bagian dari segolongan umat untuk memperjuangkan kembali syarait Islam kafah dalam kehidupan kita hari ini. Untuk mengubah kondisi umat dan negeri ini dari kegelapan sistem batil buatan manusia, menuju kondisi negeri yang diterangi dengan cahaya Islam terang benderang menyinari seluruh penjuru bumi. Bisa menghadirkan kembali institusi yang akan menjadi junnah/perisai bagi umat dalam naungan Khilafah Islamiah ala minhanji nubuwah. Wallahualam. 


Komentar